Sahabat Yang Menghancurkan

Sahabat Yang Menghancurkan
SM 13


__ADS_3

Ia merapikan diri di depan cermin sambil terus mengingat wangi parfum itu. Akan tetapi matanya seketika menangkap sesuatu berwarna coklat pudar di bagian dada kemeja miliknya. Faruq memicingkan mata, kian mendekatkan diri ke cermin untuk bisa melihat noda itu lebih jelas.


"Noda apa ini???" Tanya Faruq sambil mengusap noda itu berkali-kali.


Dan pada akhirnya Faruq melepaskan kemeja yang sudah resmi ia pakai itu, melihat noda coklat itu lebih dekat lagi.


"Bibir....????" Gumam Faruq mengerutkan keningnya, ia merasa jika itu seperti noda dari lipstik seseorang.


Fikiran Faruq langsung mengarah ke pihak loundry yang teledor dalam menangani pekerjaannya. Meski nalurinya menyangkal itu.


Dengan kebingungan yang masih tertinggal, Faruq menggantung kemeja itu ke dalam lemarinya lagi. Mengganti dengan kemeja lain berwarna abu tua. Lalu bergegas meninggalkan rumah setelah selesai bersiap.


Hari itu Faruq merasa kurang fokus dalam mengurus pekerjaannya, ia masih terfikirkan tentang kemeja miliknya, seperti ada ingatan tentang parfum itu. Ingatan sangat penting yang seperti terlupakan olehnya.


Sampai akhirnya ia kembali ke cafe tempat ia menghilangkan kebosanannya seusai bekerja. Seperti biasa ia memesan kopi panas disana, aroma harum yang mengepul memenuhi rongga hidungnya, memberikan sedikit ketenangan untuk Faruq.


Seorang wanita dengan dress putih selutut melewati Faruq begitu saja. Rambut ikalnya bergoyang ke atas dan kebawah bagaikan pegas.


Lamunan Faruq terhenti, ia mencium aroma yang sedang ia fikirkan sejak tadi pagi.


"Ah.... Bahkan aku sampai berimaginasi tentang perfum itu" Keluh Faruq sambil membuka matanya yang sedari tadi ia pejamkan.


Faruq begitu kaget ketika melihat wanita berambut pirang yang ia kejar kemarin sore. Buru-buru Faruq mengejar wanita itu.


Langkah demi langkah Faruq ayunkan dengan santai mengikuti langkah gadis pirang yang berjalan di depannya.


Entah mengapa jantung Faruq berdetak lebih kencang dari biasanya. Mata coklatnya menatap gadis itu dengan begitu intens dari atas kepala sampai ke ujung kaki.


"Siapa....???? Siapa dia???? Ghea.....??? Mungkinkah??" Pertanyaan itu terus berkecamuk dalam fikiran Faruq.


Langkah keduanya akhirnya berhenti ketika gadis pirang itu sampai di samping mobil merahnya yang terparkir di depan cafe.


"Ghe........." Panggil Faruq dengan suara gemetar. Bahkan suaranya seakan terhenti di tenggorokan.


Ghea membalikkan badannya ketika mendengar seseorang memanggil namanya. Sejenak kemudian, diam.

__ADS_1


Dua insan yang diliputi rasa rindu itu hanya bisa terdiam dengan kekacauan pikiran mereka masing-masing.


"Ghea...... Benarkah itu kamu?" Pertanyaan yang tak perlu jawaban itu hanya terngiang di fikiran Faruq tanpa bisa ia ucapkan sepatah katapun.


"Faruq......???" Bibir Ghea kelu untuk sekedar menyebutkan nama itu. Ia tak tahu harus berbuat atau berkata apa sebaiknya.


Mata keduanya seketika memerah, ada sensasi panas yang menjalar di seluruh muka sampai ke tubuh kedua insan yang saling menatap itu.


"A......" Hanya satu huruf itu saja yang keluar dari bibir mungil Ghea, separuh terkejut, separuh lagi tertegun, Ghea benar-benar mati kutu di depan lelaki yang sejatinya telah mencuri sebagian hatinya.


Buru-buru Ghea masuk ke dalam mobil dan menutup pintu dengan cepat. Sejenak ia mengatur nafasnya yang tersenggal. Mencoba menetralkan segala rasa yang tidak bisa ia jelaskan.


Ghea memang membenci Faruq saat mengingat pengkhianatannya, tapi kebencian itu seketika sirna saat melihat Faruq berdiri di hadapannya.


Tanpa ragu Ghea menyalakan mesin mobil dan menginjak pedal gas begitu saja, entah mengapa ia merasa sedikit terganggu dengan kehadiran Faruq meski ia begitu merindukannya.


Lelaki dengan kemeja abu itu hanya terdiam dan masih berdiri di tempatnya semula sambil mengamati kepergian Ghea. Dalam hati ia ingin berteriak memanggil nama gadis itu, tapi ia bagai kehilangan kendali atas tubuhnya.


"Ghea....." Gumam Faruq pelan.


......................


"Kenapa sih kak?" Keluh Ghea masih dengan mata terpejam.


"Perusahaan papa dalam masalah jika tak ada kamu disini" ujar Daren getir sambil menatap kolam renang dari dalam kamarnya.


"Lalu bagaimana dengan kakak dan papa?? Masih baik-baik saja kan??" Tanya Ghea yang langsung mendudukan dirinya di atas ranjang.


"Baik....." Jawab Daren ketus sambil memutar bola matanya.


"Syukurlah!!!!" Ghea merasa lega.


"Pulang dulu gih.... Ada sesuatu yang harus kamu urus!" Pinta Daren datar.


"Tapi kak....." Ghea mulai merajuk.

__ADS_1


"Nggak boleh nego. Atau mau ku susul?" Daren berkata dengan tegas.


"Baiklah" Jawab Ghea dengan nada lesu.


Sebagai adik yang baik, Ghea selalu menuruti perintah kakak satu-satunya itu. Daren pula yang meminta Ghea untuk menggantikan Papa mengurus perusahaan. Selain tidak tertarik untuk menjadi pusat perhatian, Daren juga tak pandai dalam mengurus hal semacam itu. Berbeda dengan Ghea yang sangat ahli dan begitu kompeten untuk mengurus perusahaan, terlebih lagi jurusan kuliah yang ia ambil memang sejurus dengan ilmu yang di butuhkan untuk memimpin sebuah perusahaan.


Sepertinya Ghea terlahir dengan bakat yang ia dapatkan dari ayahnya sebagai pembisnis. Berbeda dengan Daren yang lebih tertarik dengan hukum, ia mencoba untuk mengembangkan bakat bawaanya itu.


Papa Morgan adalah seorang lelaki yang sangat mengerti tentang keinginan anaknya, ia tak memaksa Daren untuk menggantikannya meski ia sangat ingin jika anak lelaki pertamanya itu yang mewarisi kepemimpinan Papa di perusahaan.


Bahkan ia tak menolak ketika Daren malah menunjuk adik perempuannya untuk menggantikan posisi yang di tawarkannya kepada Daren, apalagi setelah melihat kemampuan Ghea yang memang cukup ahli untuk mengelola perusahaan, ia sama sekali tak merasa keberatan dengan hal itu.


Ghea yang masih mengantuk menghempaskan tubuhnya yang terasa berat ke atas kasur. Ia pandang langit-langit kamar dengan tatapan malas.


"Huft......" Ghea menghela nafas, mencoba menghanyutkan segala kebingungan yang bergelayut dalam fikirannya.


Baru kemarin ia bertemu dengan Faruq, dan belum sempat ia membalas dendam padanya, ia harus kembali sekarang. Bagaimana dengan misi balas dendamnya itu. Apakah harus terhenti sekarang.


Berulang kali pertanyaan itu datang dan pergi silih berganti di fikiran Ghea. Namun wanita dengan mata coklat itu seakan tak menemukan solusi yang tepat untuk menangani kedua masalah itu.


"Ahh...... Kenapa merepotkan" Keluh Ghea sambil mengacak rambutnya yang sudah berantakan.


Dengan sedikit malas Ghea raih smartphon miliknya yang ia lempar sembarang di kasur.


"Hallo..... Jec..... Aku akan terbang hari ini, siapkan semua dokumen yang harus aku urus" ucap Ghea datar tampa mempedulikan jawaban asisten pribadinya itu.


Di kantor perusahaan.


"Kita tunda dulu dokumen ini, akan merepotkan jika tidak terencana dengan baik" Ujar seorang lelaki kepada lelaki lain yang terlihat duduk santai di kursi kerja.


Wajah Roy seketika berubah masam. Ia daratkan telapak tangannya dengan keras ke atas meja.


BBRRAAKKK


"Sialan...... Kenapa dengan wanita itu, kenapa harus kembali secepat ini" Umpat Roy kesal.

__ADS_1


Jeco hanya terdiam sambil menundukkan kepalanya, menatap lantai marmer di bawah sepatu hitamnya.


"Apa dia berencana untuk mempermainkan kita? Berdalih untuk pergi liburan, tapi kembali terlalu cepat" Oceh Roy merasa sebal kepada kakak tirinya.


__ADS_2