
Ghea mengambil nafas dalam, mencoba menghirup ketenangan untuk membelai jiwanya yang membeku. Namun hanya remang mata yang kian basah dengan berlian bening yang kian menggenang.
Ia benar-benar kehilangan arah sekarang, semua harapan bahagianya hancur satu persatu.
Ghea meletakkan kedua telapak tangannya pada secangkir cappuccino panas yang terhidang di atas mejanya. Mencoba mencari kehangatan yang seakan menjauh dari dirinya.
Tubuhnya terguncang hebat, ia tak bisa menahan sedih yang sedari tadi terus bergelayut padanya, memberikan aroma lembab yang seketika membuat pengar hidungnya.
Ghea menenggelamkan wajahnya di antara kedua lengan yang ia lipat rapat di atas meja. Menumpahkan segala kesedihan yang belum juga habis ia curahkan.
"Sudahlah..... Jangan terlalu di selami terus lautan kesedihan yang kamu buat." ucap seseorang yang tiba-tiba mengelus lembut pundak Ghea.
Ghea mengangkat pandangannya, mengalihkan penglihatannya yang buram pada seseorang yang entah sudah berapa lama duduk di sampingnya.
Lelaki dengan seragam kerja yang masih rapi itu tersenyum, menyodorkan sebuah tisu pada Ghea.
Tanpa ragu Ghea menerima tisu itu, menyeka bulir air mata yang menghapuskan riasan tipis di pipinya yang merona.
"Jangan sok peduli....." ucap Ghea dengan suara pengar yang begitu kental. Ia alihkan pandangan pada meja kasir yang jauh berada di depan mejanya, mencoba menghindari kontak mata dengan lelaki yang tak ia undang sama sekali.
Lelaki itu terkekeh pelan.
"Aku memang tak pernah peduli denganmu, aku hanya peduli dengan kenangan manis kita di cafe ini." Ucapnya tersenyum manis sembari mengedarkan pandangan ke seisi ruangan luas tempat ia berada.
Ghea tersenyum, tiba-tiba saja kesedihan kembali membuat pengar hidungnya. Entah mengapa ia jadi begitu sensitif sekarang.
Ghea tak kuasa menahan air mata yang terus menetes membasahi pipinya yang belum mengering.
"Hey.... Kenapa kamu menangis lagi?" Tanya Faruq mendongokkan kepala ke depan muka Ghea yang sengaja ia sembunyikan dari Faruq.
__ADS_1
Ghea kian memalingkan wajahnya dari selidik Faruq setelah ia gagal menghentikan kesedihan yang terbit lagi di hatinya. Bukan lagi tentang papanya yang meninggal beberapa hari lalu, tapi tentang rasa yang masih saja tertanam untuk Faruq.
Ghea sudah berusaha mengubur dalam-dalam rasa cintanya pada Faruq, kekasihnya. Namun hanya kegagalan yang kian membuatnya sakit dan sesak menahan rindu yang tak bisa ia tumpahkan.
"Sudahlah..... Abaikan aku..." ucap Ghea dengan isaknya yang semakin dalam.
"Kenapa???" Faruq kian medekatkan muka ke arah wanita yang harumnya sangat ia rindu itu.
"Jangan tanya kenapa Fa..... Tuhan telah menggariskan takdirku harus begini. Tak memiliki apapun, termasuk kamu." Ghea melirihkan ucapan terakhirnya, namun lelaki yang sedari tadi menyimak ucapan Ghea masih bisa mendengar meski ucapan itu teramat lirih di telinganya.
Sesuatu yang pedih ikut menyayat hati Faruq kala itu juga, ia tau bagaimana perasaan Ghea saat ini. Entah mengapa Faruq merasa begitu bersalah sekarang. Semua karena kesalahpahaman yang sengaja Alexa buat untuk menghancurkan hubungan keduanya.
"Mungkin perahu yang aku pakai untuk menggapaimu masih terlalu kecil sampai terbawa derasnya ombak yang menerpa." Jawab Faruq pelan sembari menatap kosong meja di hadapannya.
Faruq merasa begitu bodoh karena terlalu percaya pada ucapan Alexa, ia juga terlalu bodoh menuruti permintaan Alexa untuk menikahinya. Kini semua tinggal kenangan saja. Faruqpun bingung harus kemana membawa hubungan ini. Disatu sisi ia ingin sekali hidup bersama dengan Ghea, tapi di sisi lain ia harus bertanggung jawab atas kehamilan Alexa.
"Apalagi sekarang aku hanya seorang wanita buron yang sebentar lagi akan tertangkap dan masuk bui."
Terdengar jelas bagaimana putus asanya wanita itu sekarang, ia tak punya keindahan atau harapan yang ingin ia capai lagi. Kotak kotak harapan yang semula tertata rapi dalam benaknya seketika berhamburan, raib entah kemana, meninggalkan kotak kosong yang kehilangan isinya.
"Aku percaya padamu, dan kebenaran suatu saat akan terungkap." Jawab Faruq santai sambil menatap helaian rambut coklat milik Ghea.
"Apa kamu sudah tau semuanya?" Tanya Ghea menatap Faruq dengan mata yang sembab. Ia mencurigai ucapan Faruq barusan.
Faruq menganggukan kepalanya dua kali, memberikan jawaban pasti atas pertanyaan Ghea.
Wanita itu menghela nafas lega, setidaknya ia tak harus menjelaskan panjang lebar tentang masalahnya, juga tentang sesuatu yang ia tutupi selama ini.
"Apa kau masih mau mengenal wanita pembohong seperti aku?"
__ADS_1
Faruq menatap dalam ke arah binar mata Ghea yang sengaja di lemparkan padanya, menatap iris mata coklat tua itu dengan penuh rindu.
"Aku sudah mengenalmu jauh sebelum ini Ghe..... Kebohonganmu yang kemarin tak akan berpengaruh apa-apa padaku." Jawab Faruq masih dengan tatapan lembut yang sama.
Entah mendapatkan dorongan dari mana, keduanya berpelukan begitu saja, seakan sudah berbicara lewat tatapan dalam yang mereka lemparkan satu sama lain.
Ghea menumpahkan segala asa yang sudah ia simpan sejak lama, menunggu seseorang merelakan pundaknya untuk Ghea luapkan segala asa miliknya. Air mata hangat terus saja menetes membasahi kemeja biru yang Faruq kenakan, meninggalkan noda basah disana.
"HEIIIII......"
Teriak seorang wanita yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Ghea. Keduanya menoleh ke arah sumber suara di belakang mereka.
Empat bola mata yang sedari tadi nampak sayu dan basah seketika membulat tak karuan.
Ghea buru-buru melepaskan diri dari pelukan Faruq yang entah mengapa tak Ghea tolak sedari tadi, kini ia menyesalinya.
"Perempuan ******..... Dasar pelakor...." celetuk seorang wanita dengan setelan blouse bunga-bunga juga bawahan celana kulot warna senada. Mata wanita itu membelalak tajam menatap Ghea yang masih sembab.
Mulut Ghea menganga, bergetar seakan ingin mengucapkan sesuatu yang pada akhirnya tak bisa ia ucapkan sama sekali.
"Ibu....." Sedangkan Faruq yang juga terkejut segera bangkit setelah tau itu ibunya. Seharusnya ini tak salah, karna ia hanya menikah secara terpaksa dengan Alexa, tapi tetap saja Faruq merasa bersalah karena sekarang ia punya hubungan suami istri yang sah secara hukum, ia tak berani menentangnya.
"Sedang apa ibu disini bu?" Tanya Faruq memegang lengan ibunya agar menjauh dari Ghea. Namun wanita paruh baya itu hanya melirik sekilas kepada anak lelakinya, ia tak menggubris pertanyaan Faruq sama sekali.
"Heh..... Kamu..... Ngapain kamu rayu-rayu anak saya? anak saya sudah menikah tau. Kamu jangan ganggu dia, dasar pelakor." bu Jasmin memperjelas ucapan terakhirnya, memberikan penekanan pada kata tersebut. Tatapan tajam masih ia hunuskan ke arah mata Ghea yang masih memerah.
Ghea merasakan sayatan tajam yang begitu menyiksa ulu hatinya, sesak seketika mendengar julukan itu dari seorang wanita yang harusnya bisa ia panggil sebagai ibu mertua.
Tanpa aba-aba bu Jasmin mendekat ke arah meja, melepaskan tangan Faruq dengan kasar lalu meraih cangkir kopi milik Ghea yang bahkan belum ia minum setegukpun, menyiramkannya ke arah dada Ghea dengan amarahnya yang memuncak.
__ADS_1