
Sesak di dada Ghea kian terasa. Kini ia tau kejamnya dunia memperlakukan nasibnya yang sudah baik. Merebut semua kebahagiaan yang sudah ia syukuri selama ini. Menggantinya dengan derita yang begitu memporak porandakan semua masa depan yang sudah terlukis indah di depan matanya.
Di saat masalah besar menerjang, Ghea tak punya tumpuan sama sekali. Ia hanya berdiri seorang diri, menatap padang safana yang terik dengan banyak ranjau yang siap menghancurkan tubuhnya berkeping keping.
"Pak tolong lepaskan kakak saya!!" Rengek Ghea menggenggam erat sandaran kursi tempat duduk sang kakak.
"Tidak bisa, semua tergantung keputusan pak Roy sebagai korban atas penganiayaan yang di lakukan oleh saudara Daren di kantor AZK."
Ghea terkulai lesu mendengar penjelasan sang polisi. Dia bingung harus berbuat apa untuk menyelamatkan kakaknya.
Dengan emosi membara Ghea menghampiri Roy yang duduk dengan di dampingi oleh Jeco.
"Apa yang sebenarnya kamu inginkan?"
Ghea meraih kerah baju Roy, namun sedetik kemudian Jeco melepaskannya dengan kasar, menggenggam pergelangan tangan Ghea dengan kuat. Ghea meringis, mengibaskan lengannya berkali-kali, berusaha melolosakan diri dari cengkeraman Jeco yang cukup membuatnya sakit.
"Lepaskan aku Jeco!!!" Gertak Ghea menantang mantan asisten pribadinya. Namun lelaki itu tak bergeming sedikitpun, tetap konsisten dengan genggaman tangannya dan malah semakin kuat mengimbangi pemberontakkan dari Ghea.
"Apa yang aku inginkan???"
Ghea menghentikan gerakannya. Mengalihkan perhatiannya kepada lelaki di hadapannya yang terduduk santai.
Roy terkekeh pelan, menyentuh dagu dengan kedua jarinya, menatap Ghea dengan senyum masam di sudut bibirnya. Senyum yang seakan menginjak-injak harga diri Ghea dengan kasar.
Ghea memelototkan matanya tajam. Memberikan ancaman kepada Roy, ia tak pernah sedikitpun takut kepada lelaki yang bersetatus sebagai adiknya itu.
"Semua yang aku inginkan sudah aku dapatkan kak, jadi apa lagi?" Dengan sombongnya Roy menjawab. Menghempaskan tawaran Ghea dengan ucapan yang begitu menohok. Membuat Ghea kian kesal kepada lelaki itu.
__ADS_1
Namun, sedetik kemudian Roy menjentikkan jarinya ke udara, seakan menemukan sebuah ide cemerlang yang tidak terduga. Padahal itu hanya akting saja, Roy telah menyusun rencana ini dengan begitu rapi.
"Atau begini saja..... Aku bisa saja mencabut laporanku, tapi......" Roy sengaja menggantungkan kata-katanya.
Daren dan Ghea yang sedari tadi menyimak merasa di permainkan oleh kelakuan adiknya yang terlalu menganggap santai semua ini.
"Kalian harus mengumumkan ke awak media, jika ini murni kesalahan kalian." Dengan entengnya Roy berkata demikian.
Ghea dan Daren membelalakkan matanya.
"Bagaimana bisa kita mengungkapkan kebohongan kepada publik." Ghea begitu geram dengan permintaan nyeleneh adiknya.
"Oh.... Tentu bisa.... Apapun bisa dilakukan." Roy mengintimidasi Ghea dengan senyuman dinginnya. Merentangkan tangan menunjuk pintu keluar untuk menghadap para awak media.
"Jangan begini Roy...." Ghea berusaha menego permintaan adiknya.
"Katakan jika kepemimpinan AZK memang sudah seharusnya menjadi tanggung jawabku." Roy memperjelas apa yang harusnya Ghea katakan pada awak media.
"Cih..... Kenapa aku harus mengatakan seperti itu?" Ghea merasa enggan, merasa tabu dengan ucapan Roy barusan. Pasti ada rencana lain yang sudah Roy rencanakan untuk menghancurkan hidup Ghea dan Daren.
"Lakukan! Atau aku akan berbuat yang tidak kau inginkan kepada papa." Roy kian licik melancarkan rencananya.
"Lakukan Ghe...!!" Daren memberi dukungan kepada adiknya agar tidak ragu.
"Oh ya.... Katakan juga kalau kalian bukan anak papa, maka aku tidak akan menarik habis harta yang sudah kalian miliki. Kalo tidak, kalian bisa saja menjadi gelandangan disini." Roy terkekeh, merasa menang atas strateginya.
Ghea mendengus kesal, tapi ia bimbang harus berbuat apa. Setelah membulatkan tekad, Ghea mengambil nafas dalam. Berjalan pasti ke arah pintu keluar, menghadap para awak media yang sudah sedari tadi menunggu info lanjutan dari kabar yang cukup heboh di negara itu.
__ADS_1
Perusahaan AZK Corp memang bukan perusahaan kecil, itu memang perusahaan besar yang menaungi berbagai macam bisnis. Jangankan di negaranya sendiri, bahkan di negara lain perusahaan itu sudah tersohor karena kepiawaiannya dalam mengatur segala macam bisnis yang mereka buka.
Semua awak media segera berlarian menyiapkan alat rekam mereka dan menyerbu Ghea yang sedang bimbang meski sudah memantapkan pilihannya.
Ia tak mau jika papa dan kakaknya mengalami nasib buruk hanya karena harta yang mereka miliki.
Air mata mulai mengalir di pipi Ghea, ia merasa kecewa dengan nasibnya yang membaik sebentar saja. Harusnya ia tak pernah datang ke sana, kini ia tau kalo akhirnya akan kehilangan segalanya. Faruq..... Lelaki yang sangat ia cintai, telah di miliki oleh sahabatnya. Bahkan sekarang, harta yang bisa mendukung semuanya berjalan mulus, malah raib oleh keserakahan adik dan ibu tirinya.
Dada Ghea benar-benar sesak sekarang. Ia pandangi setiap wajah yang menatapnya dengan begitu serius, berbagai pertanyaan sahut menyahut menjadi satu sampai Ghea tak bisa mendengar dengan jelas apa yang mereka tanyakan.
"Aku..... Aku Ghea Morgan, ingin memberitahukan kepada semuanya, jika sebenarnya......" Ghea menggantung kata-katanya.
Air liurnya ia telan kasar. Merasa berat untuk mengungkapkan semua kebohongan yang sudah di rencanakan oleh Roy. Ia tak menyangka jika Roy begitu tega memperlakukan kedua kakaknya seperti itu, padahal selama ini Ghea dan juga Daren selalu berbuat baik kepada adik tirinya itu.
"Jika sebenarnya aku bukan anak kandung dari pimpinan perusahaan AZK Corp sebelumnya, Mr. Morgan Netrico. Jadi aku bukan pewaris sah perusahaan AZK. Roy Chantona adalah anak kandung beliau dan dia yang berhak memimpin perusahaan untuk kedepannya." Ghea berucap sembari memejamkan matanya.
Lalu segera berlalu dari tempatnya berdiri tanpa menggubris pertanyaan puluhan reporter yang meminta penjelasan lebih detail dari perkataan yang baru saja Ghea sampaikan.
Ghea menyeka air matanya, menghampiri kakaknya dan meminta sang polisi untuk melepaskan borgol di lengan kakaknya.
Polisi meminta persetujuan kepada Roy dan lelaki berambut ikal itu mengangguk dengan senyuman lebar yang ia sunggingkan. Sang polisi melepasnya kemudian, entah mengapa Daren merasa sedih ketika melihat adiknya meneteskan air mata. Entah sudah berapa lama ia tak melihat adiknya menangis. Daren menamengkan pundaknya, memeluk adik perempuannya, membiarkan air mata tumpah di bahunya. Ghea tak menolak, ia sangat membutuhkan sandaran itu, yang bisa menopangnya ketika ia sedang rapuh.
"Kembalikan papa pada kami!!! Kamu sudah memiliki semuanya kan??" Ujar Daren menatap adik tirinya.
Roy hanya terkekeh pelan.
"Maaf kak, itu tidak ada dalam perjanjian awal. Papa itu kartu AS, kalo aku membuangnya bisa jadi para awak media mencurigaiku." Dengan santainya Roy berkata demikian, membuat Daren dan Ghea merasa kian geram di buatnya.
__ADS_1
"Kamu sudah tak membutuhkannya lagi kan." Ujar Ghea menatap tajam ke arah adiknya, matanya masih berkaca-kaca.