Sahabat Yang Menghancurkan

Sahabat Yang Menghancurkan
SM 75


__ADS_3

"Au....." Ghea mengaduh, kopi itu masih panas, tentu saja akan terasa sakit jika terkena kulit. Dengan gerakan refleks Ghea bangkit segera dari kursinya, membuatnya hampir terjengkang ke belakang karena ketidak hati-hatiannya.


Untung saja dengan sigap Faruq menangkap kedua pundak Ghea dan menahan punggung Ghea pada dadanya. Keduanya saling tatap sejenak sebelum akhirnya mengalihkan pandangan mereka pada bu Jasmin.


"Ibu.... Jangan bersikap seperti ini padanya." Faruq begitu marah kepada ibunya yang telah bersikap kasar kepada Ghea.


Lalu Faruq membantu Ghea membersihkan baju Ghea dengan tisu sekedarnya sembari meniup lembut bagian dada atas Ghea yang terkena siraman.


"Kamu begitu ya Fa...... Pantas saja Alexa selalu mengadu tentang sikapmu padanya, kamu berbuat baik kepada wanita pelakor ini, dan mengabaikan istrimu." Gertak bu Jasmin yang melihat perhatian Faruq kepada Ghea.


"Sudah bu! Aku tak ingin mendengar tentang dia. Aku sama sekali tak punya perasaan terhadapnya." jawab Faruq tegas.


Bu Jasmin terkekeh.


"Tak punya perasaan tapi kok ya hamil." ucap bu Jasmin lantang.


"Apa....???" Ghea mengernyitkan dahinya, ia baru mendengar pertanyaan ini.


"Iya.... Kamu kaget mendengar ini hah???" tanya bu Jasmin dengan nada mengejek.


Ghea mengalihkan pandangan kepada Faruq yang hanya menatap Ghea dengan pandangan penuh permohonan maaf.


"Hey wanita ******, pergi kau dari kehidupan anakku!!! Dasar wanita pelakor." Gertak bu Jasmin kian membulatkan bola matanya.


Ghea menundukkan kepala, merasa bersalah dengan semua sikapnya kepada Faruq selama ini. Ghea semakin sadar jika takdir memang tak ingin mempersatukan keduanya.


"Cukup bu.... Hentikan ucapanmu itu!!!"


"Biar saja.... Biar semua orang tau kebusukan wanita ini dan mereka bisa berhati-hati padanya."


Bu Jasmin menolehkan pandangan, bangga kepada kerumunan orang yang menyaksikan pertengkaran mereka.

__ADS_1


Ghea yang merasa malu segera berlalu dari sana, meninggalkan kerumunan orang yang kian berbincang buruk tentangnya.


"Ghea.... Tunggu Ghe......" Faruq berusaha mengejar Ghea, tapi tangannya di kekang oleh sang ibu.


"Bu lepassin!!!" Faruq melepaskan lengannya dari cengkeraman sang ibu, berlari meninggalkan kerumunan orang yang mengejeknya dengan lantang.


"Fa..... Jangan pedulikan wanita pelakor itu!!! Kasihan Alexa sedang mengandung anakmu." Teriak bu Jasmin meneriaki kepergian Faruq, namun suaranya hilang di antara riuh orang yang berkerumun disana.


"Bagaimana rasanya di olok-olok di depan umum? Tak enak bukan?"


Seorang wanita dengan dress selutut berjalan santai menghampiri Ghea yang hendak membuka pintu mobilnya.


Ghea menoleh, merasa begitu familiar dengan suara yang terdengar begitu akrab di telinganya itu.


"Kau....." Pekik Ghea sedikit terkejut melihat kedatangan wanita yang sangat ia benci sekarang. Gigi Ghea bergemelutuk menahan amarah yang berusaha ia tahan.


"Lihat Ghe..... Aku yang tadinya bukan apa-apa, sekarang bisa menandingimu. Melihat kehancuran hidupmu secara cepat." Alexa tersenyum lebar, menampakkan wajah licik yang selama ini ia sembunyikan pada raut memelas yang seakan sudah menjadi icon nya.


"Apa....??? Kamu yang merebut Faruq dariku Ghe...... Apa kamu lupa jika aku telah menyukainya lebih dahulu." Alexa mengernyitkan dahi memperjelas kata-katanya.


Ghea berdecak.


"Kamu tak pernah mengatakan itu Lex..... Aku tau kamu menyukai Faruq ketika aku sudah berpacaran dengannya. Apa kamu ingat aku selalu menolak bertemu dengannya ketika kita sedang bersama, agar apa?" Ghea menjeda ucapannya.


"Agar kamu tak merasa kian tersakiti oleh kemesraan kami....." Ghea begitu sendu menatap wajah sahabatnya.


Ghea menghela nafas, menjatuhkan kedua tangannya kasar, merasa begitu frustrasi dengan kenyataan hubungan mereka sekarang.


"Tapi sekarang aku menang Ghea..... Aku bisa mendapatkan Faruq yang memang seharusnya menjadi milikku." Alexa merasa puas melihat wajah sahabatnya itu yang penuh dengan kesedihan. Ia merasa menang atas Faruq dari Ghea.


"Kata siapa kamu bisa memiliki aku?" Seorang lelaki berkemeja biru sudah berdiri di belakang Alexa tanpa ia sadari.

__ADS_1


"Fa..... Faruq...." Alexa gemetar mendapati suaminya telah berada disana. Ia nampak gugup dan memperbaiki cara berdirinya.


"Aku tak pernah menyukai kamu Alexa..... Tak pernah. Kamu harus ingat itu." Faruq berkata dengan tegas, menatap wajah Alexa yang sengaja ia tundukkan untuk menyembunyikan kegugupannya.


"Aku tau ini semua rencana kamu Alexa. Tentang email itu. Aku tau semuanya." Sentak Faruq membulatkan matanya.


"Mana.... Mana mungkin itu perbuatanku Fa..... Aku tak tau apapun..." Alexa menengadahkan pandangannya, menampakkan raut memelas seakan apa yang di ucapkan Faruq itu adalah fitnah.


"Jangan berbohong Lex..... Aku akan segera mencari bukti itu untuk mematahkan semua ucapanmu." Gertak Faruq.


"Juga anak itu...... Kamu sengaja menjebakku kan???" Faruq kian tajam menatap Alexa ia mengacungkan jari telunjuknya ke arah perut Alexa yang masih rata. Ia merasa begitu kesal mengetahui kehamilan Alexa, semua rencananya berantakan sekarang.


Alexa melihat ke arah perutnya sekilas, menatap sedih atas kehamilannya yang ia balut dengan kebohongan. Mulutnya tergagap, ingin mengatakan sesuatu tapi urung ia lakukan. Alexa mencoba menyusun kata-kata untuk meyakinkan Faruq.


"A.... Apa maksudmu?" Kening Alexa berkerut, ia tatap sedih wajah suaminya yang menatapnya acuh, mencoba menyangkal semua ucapan Faruq dengan raut sedihnya.


"Ibu...... Faruq tak mau mengakui kehamilanku bu....."


Alexa berlari ke arah bu Jasmin yang mendekat ke arahnya. Air mata mulai menetes dari pelupuk mata Alexa. Bu Jasmin nampak begitu iba melihat kesedihan menantunya, ia tak mengira jika Faruq akan berbuat demikian pada Alexa.


"Pasti semua ini gara-gara wanita durjana itu ya?" Tanya bu Jasmin memberikan lirikan maut kepada Ghea yang juga melihat ke arah bu Jasmin. Bibirnya ia tekankan rapat menunjukan kemarahannya yang siap meledak kembali.


"Bu.... Jangan percaya wanita itu bu, meski dia istriku. Aku membencinya." Ucap Faruq kepada bu Jasmin yang tak di indahkan lagi oleh wanita paruh baya itu.


Dengan langkah cepatnya bu Jasmin menghampiri Ghea yang diam mematung, bingung harus bagaimana bereaksi.


PLAK....


Sebuah tamparan keras berhasil bu Jasmin layangkan pada pipi Ghea yang masih memerah karena isak tangisnya yang baru beberapa waktu lalu ia hentikan.


Bola mata berwarna coklat almond itu meremang kembali atas tamparan yang bu Jasmin berikan padanya. Entahlah, rasa sakit di ulu hatinya begitu menusuk dan ciptakan perih yang sulit untuk di jelaskan.

__ADS_1


Seharusnya bukan seperti ini, bu Jasmin adalah sesosok wanita yang ingin ia rasakan kasih sayangnya, tapi apa yang Ghea dapatkan darinya malah sebaliknya. Amukan dan rasa kebencian yang mendalam ia dapatkan darinya. Ia benar-benar kehilangan wanita yang harusnya bisa mengayominya setelah ibu kandungnya tiada.


__ADS_2