
Selain kualifikasi yang cukup ketat, di sekolah itu juga secara tidak langsung menyeleksi para murid dari golongan menengah kebawah karena biaya sekolah disana yang bisa di bilang cukup mahal dari sekolah lainnya, jadi hanya golongan menengah ke atas yang berani mendaftarkan diri disana. Beruntung sekali Ghea bisa lolos dari seleksi dan sanggup bersekolah di sana meski keluarganya tidak terlalu kaya.
Itu baru satu sekolah yang membuat Alexa iri dengan nasib Ghea. Ketika Alexa tau tempat sekolah Ghea saat SMP dan SD, kian membuat rasa irinya bertambah tinggi. Alexa kian merasa jika hidupnya jauh sekali dari kata beruntung.
"Ini sudah..." Alexa menyerahkan lembar kertas yang kini penuh dengan coretan tangannya.
Jack tersenyum, lalu menyerahkan selembar kertas lain yang sudah berisi bubuhan tanda tangan dari perusahaan YUC.
Alexa tersenyum lalu tanpa ragu menarikan bolpoin itu di atas kertas, meninggalkan tanda coret dengan nama terang di bagian bawahnya.
"Ini kartu nama saya!!" Jack menyodorkan selembar kertas tebal berisi sebuah logo perusahaan lengkap dengan alamat dan nomor teleponnya.
"Terimakasih." ucap Alexa.
"Sama-sama.... Saya permisi kalo begitu. Saya akan menghubungi anda nanti."
Lalu Jack segera berlalu meninggalkan Alexa yang tengah menikmati keberuntungannya.
......................
Tak Tak Tak
Langkah sepatu hak tinggi terdengar jelas menghentak di atas lantai marmer yang berkilau. Ghea hanya terdiam dan enggan untuk mengalihkan pandangan pada seseorang yang ia tau sedang menghampirinya, bahkan Ghea bisa tau jika wanita itu sedang berdiri memperhatikan dirinya.
"Aku hanya ingin kamu menjenguk suamiku dulu untuk yang terakhir, barangkali, besok kamu sudah harus pergi dari kehidupanmu yang sekarang dan kembali kepada takdir hidupmu yang dahulu." Jelas Cristine berjalan santai ke depan Ghea yang masih duduk dengan cukup luwes di atas sofa lembut berwarna merah marun.
"Aku sudah mencium aroma kebusukan dari rencanamu ini Cristine." Gertak Ghea merasa yakin dengan feelingnya.
Wanita dengan dress mini berwarna biru tua itu tertawa renyah mendengar tebakan Ghea.
"Kalau kau tak percaya silahkan pergi dari sini!!!" Cristine mengubah ekspresinya menjadi tajam dan garang.
"Apa maksud tujuan utamamu mengundangku datang kemari?" Ghea mencoba mengintrogasi wanita yang berpoles make up di wajah senjanya itu.
__ADS_1
"Aku hanya ingin memberi tahu kamu jika suamiku belum sembuh dari amnesianya, jadi percuma saja jika kamu ngotot mau menemuinya." ucap Cristine membuang pandangan ke arah jendela kaca yang menampakkan pemandangan indah di taman samping rumah.
"Dimana papa?" Tanya Ghea bangkit dari duduknya, sejujurnya ia sangat khawatir dengan keadaan papanya, namun dengan kondisinya yang mengalami amnesia seperti itu, rasanya percuma jika ternyata papanya telah melupakan Ghea.
Tanpa menunggu jawaban Cristine, Ghea berjalan cepat menaiki tangga menuju lantai dua rumah besar itu. Menghampiri sebuah pintu berpernis coklat yang tertutup rapat.
"Papa....." Panggil Ghea sembari menghambur masuk ke dalam ruangan itu.
Nampak dari cahaya remang, ada seseorang yang sedang duduk di sebuah kursi roda tepat di depan jendela.
"Papa......" Panggil Ghea lembut.
Dilihatnya pak Morgan sedang duduk santai menikmati udara sejuk yang berhembus menerpa jendela balkon yang sengaja di buka sedikit lebar.
"Siapa itu?" Tanya pak Morgan saat menyadari kehadiran seseorang di dalam Kamarnya. Kondisi leher pak Morgan yang patah membuatnya tak bisa menengok dengan bebas.
Ghea mendekatkan dirinya pada tubuh papanya yang mulai terlihat kurus.
Dengan air mata yang terus mengalir di pipinya, Ghea mendudukan diri tepat di depan pak Morgan, memegang erat kedua telapak tangannya.
"Pah.... Ini Ghea pah....." Ucap Ghea lembut sembari menghamburkan pelukan ke tubuh pak Morgan.
"Apa apaan ini??? Aku tak mengenalmu. Lepaskan!!!" Pak Morgan bersikukuh melepaskan tubuhnya dari pelukan Ghea, tapi wanita yang tengah di rundung kerinduan itu enggan untuk melepasnya. Kian Morgan memberontak, kian kencang pula Ghea mendekapkan tubuhnya.
BRAAKKK
Dengan sedikit keras Morgan mendorong tubuh Ghea, menabrak pintu lemari di belakangnya. Ghea hanya menangis kian menjadi, bukan karena kepalanya sakit terantuk almari, tapi hatinya terasa sakit melihat papanya belum bisa mengingatnya sampai saat ini.
Pak Morgan menggerakkan kursi rodanya, memundurkannya ke tepi ranjang, mencoba menjauh dari anak perempuannya.
"Pergi kamu dari kamarku!!!" Teriak Morgan lantang.
Dengan berderai air mata Ghea berlari keluar dari kamar papanya, tanpa berpamitan Ghea segera masuk ke dalam mobilnya yang terparkir di depan rumah.
__ADS_1
Hampir sepuluh menit Ghea terdiam disana, menghayati tangis yang belum jua ia mampu hentikan.
"Siapkan mobil.....!!!" Teriak seorang lelaki berpawakan tinggi berteriak kepada seorang sopir yang nampak sedang terduduk santai di depan ruang keamanan.
"Ayo cepat cepat!!!!" Teriak beberapa orang yang berlari dari dalam rumah megah milik keluarga Arnoldy.
Ghea yang masih menyisakan tangisnya segera mengusap bekas air mata di rona merah pipinya. Perhatiannya ia alihkan kepada kerumunan orang yang terlihat begitu sibuk menyiapkan sesuatu.
Sedetik kemudian Ghea tertegun melihat papanya tengah di gotong ke dalam mobil oleh tiga orang lelaki pekerja disana.
Bisa dengan jelas Ghea lihat jika papanya terbujur tak bergerak sedikitpun. Feeling tak enak langsung saja mencuat memenuhi hati Ghea.
"Papa.....!!!" Teriaknya sembari berlari keluar dari dalam mobil. Dengan tubuh yang terasa lunglai Ghea menghampiri papanya, ingin menghambur dalam pelukannya. Namun pintu mobil tertutup dengan cepat sebelum Ghea bisa menjangkaunya.
"Papa.... Papa......" Ghea menggedor kaca mobil dengan cukup kencang, berharap orang-orang mendengar teriakannya dan segera membuka pintu itu untuknya.
Namun hanya kegaduhan tanpa respon yang ia dapatkan. Ghea menarik baju seorang pria pekerja yang masih berdiri disana.
"Pak.... Apa yang terjadi pada papa saya.... Pak??" Ghea terus bertanya dengan linangan air mata yang terus mengalir di cembung pipinya.
"Tidak seharusnya anda bertanya seperti itu nona." Jawab lelaki itu menyingkirkan tangan Ghea dari bajunya.
Ghea yang sedang kalut melihat kondisi papanya yang tidak ia tahui kini semakin bingung dengan jawaban lelaki itu yang terdengar absurt di telinganya.
"A... Apa maksud anda pa??" pertanyaan itu tak mendapat respon apa-apa, lelaki itu sudah berlalu menaiki mobil.
"Cristine.....!!! Apa yang....." Ghea yang melihat Cristine berjalan gugup dari dalam rumah segera menyusul dan menodongnya dengan pertanyaan yang bahkan tak mampu Ghea selesaikan.
"Singkirkan wanita ini!!!" Ucapnya kepada para pengawal yang langsung menuruti perintah majikannya.
Ghea mengernyitkan dahi, pasrah ketika dua orang pengawal mengunci kedua tangannya, membatasi gerakannya yang ingin mengejar Cristine.
"LEPASIN...." Teriak Ghea berusaha melepaskan diri dari kedua pengawal itu.
__ADS_1
Tentu saja gerakan Ghea yang tak seberapa itu, tak berpengaruh sedikitpun pada keduanya. Tubuh besar dengan pelatihan khusus itu tak bisa Ghea tandingi sedikitpun.
"Cristine..... APA YANG KAU LAKUKAN PADA PAPA....????" teriak Ghea menatap tubuh Cristine yang kian menjauh dari posisinya.