
Faruq sudah mengepalkan tinju untuk memberi ancaman yang lebih berarti. Namun belum juga tinjunya melayang, lelaki di hadapan Faruq sudah memohon ampun.
"Ampun tuan..... sebenarnya saya hanya suruhan nona Ghea. Tapi percayalah, kita tak pernah mencuri ataupun berbuat yang tidak-tidak di rumah anda. Saya hanya membantu nona Ghea tuan" Bebernya pada Faruq.
"Jadi benar dia Ghea?" Faruq tersenyum kecut mendapati kenyataan yang sudah ia duga sebelumnya.
"Lalu untuk apa dia melakukan ini?" Tanyanya lagi.
"Nona Ghea berkata jika dia ingin mencari bukti pengkhianatan sahabatnya, yaitu istri tuan Faruq, nona Alexa" Jawab lelaki itu dengan sedikit gemetar.
"Tolong tuan..... Jangan katakan ini kepada nona Ghea, Semua karirku bisa hancur karena ini tuan" Rengek lelaki itu menggenggam erat pergelangan tangan Faruq.
"Tenang saja....." Aku tak setega itu memberi tahu dia." ucap Faruq dengan santai.
"Ada berapa orang yang Ghea bayar untuk melakukan ini?" Tanya Faruq terus menggali informasi lebih dalam.
"Ampun tuan, ada beberapa orang yang berbeda setiap harinya, ada ahli IT juga." Jelas lelaki gempal itu dengan sedikit gemetar.
"Tapi saya mohon jaga rahasia ini tuan, nanti saya kena omel nona Ghea." Lanjutnya dengan mata penuh ketakutan.
"Jangan khawatirkan itu, lalu dimana Ghea tinggal sekarang?" Faruq terus saja menekan lelaki di hadapannya dengan pandangan matanya yang tajam dan menusuk.
"Tidak tau tuan, beliau sangat merahasiakan itu sepertinya, sejauh ini yang saya tau beliau tinggal di salah satu hotel mewah disini." Jelasnya dengan begitu detail.
"Hotel???" Ada kebingungan saat mendengar Ghea tinggal di sebuah hotel, rasanya sedikit janggal jika Ghea yang bekerja sebagai Cleaning Service tinggal di hotel mewah, sedikit tidak make sense di otak Faruq.
"Tapi jangan katakan apapun dengan non Ghea ya tuan, dia sangat berpengaruh di sini, akan berbahaya sekali untuk pekerjaan saya pak." Ujar lelaki di hadapan Faruq dengan takutnya.
"Apa pengaruhnya memang?" Tanya Faruq sedikit penasaran.
__ADS_1
Tiba-tiba saja lelaki di hadapan Faruq itu sedikit mendekatkan wajahnya pada telinga Faruq dan berkata dengan volume yang sedikit ia rendahkan dari sebelumnya.
"Dia yang memegang kendali perusahaan AZK tuan." Ucapnya.
Seketika mata Faruq membulat. Lalu kemudian ia terkekeh, membuat lelaki cleaning servis itu terheran-heran.
Bagi Faruq hal itu layaknya bualan yang sulit untuk di percaya, mengingat AZK Corp adalah perusahaan besar yang ia sendiri tau siapa pemimpinnya.
"Kamu ini, makin ngawur saja mencari alasan ya, ya sudahlah sekarang pergilah!!!" Titah Faruq masih dengan kening berkerut memikirkan kata-kata yang di katakan lelaki itu.
Sang cleaning servis tak menggubris Faruq yang tak percaya, baginya lari dari cengkeraman Faruq saja sudah cukup baginya, ia tak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Jadi ia segera pergi dari sana.
......................
Dari dalam hotel mewah keluarlah seorang wanita dengan pakaian simple tapi terlihat cukup modis, celana jeans panjang berwarna abu terlihat sangat bagus di kakinya yang jenjang. Dengan santai ia berjalan menuju sebuah mobil merah yang sudah terparkir di depan lobi.
Dengan cekatan wanita itu masuk dan mulai melajukan mobilnya menggilas aspal yang belum terlalu panas oleh paparan matahari.
Ia dudukan dirinya di sebuah bangku taman dari kayu yang tercecer di seluruh tempat. Ia hirup bunga mawar yang terpajang di meja taman, seketika harumnya menusuk indra penciumannya meningkatkan hormon kebahagiaan yang seketika mengalir ke seluruh tubuhnya.
Setangkai bunga mawar merah tersodor ke depan Ghea dengan tiba-tiba, wanita berambut pirang itu hampir meloncat karena keterkejutannya. Ia alihkan pandangannya kepada lelaki yang entah sudah sejak kapan duduk di sampingnya.
Ghea hampir meloncat untuk yang kedua kalinya, lelaki dengan paras tampan, hidung mancung juga alis yang tegas. Wajah yang sangat Ghea hafal sebelumnya, wajah yang selalu ingin ia sentuh setiap saat.
"Fa......" Ucapnya terhenti, sedangkan lelaki itu hanya tersenyum sembari mendaratkan telapak tangannya di pipi Ghea yang mulai memerah.
"Apa kabar sayank....." Lembut dan juga merdu sekali suara itu di telinga Ghea, jantungnya berdetak kencang dengan tiba-tiba.
Ghea seakan kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri, lemas dan tak berdaya, itu yang ia rasakan untuk saat ini. Ia hanya termangu dan memandang Faruq dengan tatapan yang tak bisa ia artikan sendiri.
__ADS_1
Lewat tatapan itu Ghea menyampaikan semua asa, semua rindu dan perasaan campur aduk yang tak bisa ia pisahkan satu persatu. Berharap lelaki di hadapannya itu faham bahasa yang ia sampaikan lewat netra coklatnya.
"Jangan menangis....." ucap Faruq lagi sembari menyeka butiran bening yang mulai mengukir garis di kedua pipi Ghea.
Sedang wanita itu masih saja terdiam, tak mampu berkata barang sepatah katapun. Lidahnya kelu seketika, bibirnya kaku dan tak berdaya, Hanya mata yang terus berkata tanpa jeda.
Faruqpun menatap Ghea dengan begitu dalam, menyampaikan rasa rindu yang entah sudah berapa lama ia pendam. Menyampaikan cemburu yang terus menyakiti perasaannya tanpa ampun.
Faruq menggenggamkan bunga mawar itu pada tangan Ghea yang tak bergerak sedikitpun.
"Aku merindukanmu......Beberapa tahun ini semuanya terasa berat tanpamu" Ucap Faruq dengan mata yang mulai memerah.
"Aaa..... Aku......" Bahkan hanya ingin mengucapkan kata itu saja seakan tak keluar dari kerongkongan.
"Kau tak perlu berkata apapun.... Aku sudah tau" Ucap Faruq singkat.
Sungguh ucapan seperti itulah yang membuat Ghea luluh, itu baru satu dari sekian banyak pesona yang dimiliki Faruq. Membuat wanita bermata coklat itu kian jatuh ke dalam lubang cinta milik Faruq.
Ghea menundukkan kepalanya menutupi semua malu yang mulai hadir disana. Ia bingung harus bersikap bagaimana di depan Faruq
Hanya kebisuan dan hening yang bernuansa di antara keduanya, tak ada ucapan lain. Faruq menurunkan telapak tangannya, duduk sejajar dengan wanita yang masih jadi kekasihnya. Sedangkan Ghea hanya bisa menurunkan pandangannya, menatap sneaker berwarna peach yang ia kenakan. Ia seka bulir-bulir berlian yang tersisa di bawah kelopak matanya.
Beberapa menit berlalu keduanya masih terdiam, hanya suara burung dalam sangkar yang terdengar bersahutan dari satu sudut ke sudut lainnya. Suaranya merdu, tapi belum bisa menenangkan perasaan Ghea yang seketika menjadi kacau oleh kedatangan Faruq.
Seharusnya bukan Faruq yang akan Ghea temui disana, ada orang lain yang sudah mengatur janji,
"Apa orang itu berkhianat?" Gumam Ghea membatin.
"Aku dengar kamu terluka, apakah parah?" Ucap Faruq melirik lengan Ghea yang tersembunyi di balik jaket tipis yang sengaja ia kenakan.
__ADS_1
Seketika Ghea meraih lengan kanannya dengan tangan yang lain. Mencoba menyembunyikannya dari pandangan Faruq.