
"Hubungi para teman kuliah atau teman mainnya, pasti ada informasi yang bisa di korek dari mereka. Cari tau apakah nama belakang Ghea itu murni namanya sejak lahir atau bukan. Lalu cari tau silsilah keluarga Ghea. Dari situ kita cari siapa yang salah di antara mereka."
Tatapan tajam penuh permusuhan Leon lemparkan begitu saja, ia belum tau pasti yang mana kawan dan mana lawan di antara Ghea dan juga Roy.
Hati Leon memang memihak Ghea, tapi siapa yang tahu jika wanita cantik itu menyimpan belati yang siap untuk ia hunuskan pada lawannya. Leon harus lebih waspada dengan hal seperti itu, apalagi semua penjahat berkedok wanita sangat marak di kalangan para pembisnis sepertinya.
"Baik tuan."
......................
Hari masih cukup pagi untuk bepergian tapi Alexa nampak sudah sangat rapi dengan dress pendek dan juga tas jinjing di tangannya. Senyumnya nampak sumringah dan cerah. Sembari bersenandung ia berjalan menuju gerbang rumahnya.
"Permisi.... Nona Alexa."
Sapa seorang lelaki yang entah sejak kapan berada di depan gerbang hitam miliknya. Alexa menghentikan langkahnya, membuka kacamata besar yang bertengger di atas hidungnya.
"Ya....??" Alexa menatap lelaki itu dari ujung rambut ke ujung kaki, nampak sekali jika lelaki itu terlihat kaya, bisa Alexa lihat dari cara ia berpakaian dan juga beberapa barang branded yang ia kenakan. Ia sangat ahli untuk masalah fashion, jadi paham betul mana barang asli dan yang bukan.
"Ada sesuatu yang perlu saya bincangkan dengan anda, boleh minta waktunya sebentar?" Tanya lelaki itu dengan sopan santun.
"Bicarakan saja sekarang!!" Jawab Alexa, ia enggan membukakan gerbang untuk seseorang yang belum ia kenal, akan berbahaya jika itu hanya modusnya saja.
"Apa anda kenal dengan nona Ghea??"
Nama yang di sebutkan lelaki itu cukup untuk membulatkan mata Alexa. Ia tak menyangka jika itu yang akan lelaki ini tanyakan padanya.
Alexa berdecak, merasa kesal dengan pertanyaan semacam itu. Ia naikkan bola matanya, menatap gedung tinggi di sebelah kiri pandangannya.
"Aku tak mengenalnya." Jawab Alexa datar, ia tak ingin berurusan dengan wanita itu lagi.
__ADS_1
"Jangan berbohong, aku sudah menyelidiki semuanya sebelum kemari. Bahkan aku tau alamat rumah lamamu. Tak baik menelantarkan seorang ibu tua seperti itu." Ucap lelaki itu tersenyum kecut menatap wajah Alexa.
Alexa yang merasa kaget mendengar penjelasan Jack membulatkan matanya, ia tak menyangka jika lelaki itu sudah menyelidikinya sejauh itu. Keluarga kecil yang sengaja ia tinggalkan untuk menutupi status sosialnya yang sesungguhnya.
"Bagaimana dia bisa tau???" Gumam Alexa dalam hati.
"Apa yang kau tanyakan tuan??? Aku sama sekali tak mengerti ucapan anda, sebaiknya anda segera pergi atau akan saya telfon satpam agar mengusir anda dari sini." Gertak Alexa merasa dongkol dengan ucapan Jack.
"Aku punya penawaran yang menarik untuk anda tentang kerjasama dengan perusahaan YUC untuk butik yang sedang anda kelola." Jack tersenyum lebar sembari menyodorkan selembar kertas berisi surat perjanjian kerjasama.
Alexa tercengang ketika mendengar perusahaan YUC. Itu adalah perusahaan yang sangat bagus untuk mengembangkan bisnis fashion nya.
Alexa menerima kertas putih itu dan membacanya dengan begitu teliti. Namun tak ada sesuatu yang merugikannya dalam surat itu. Hanya ada peluang dan keuntungan besar bagi Alexa sendiri.
Wanita berambut lurus tergerai itu tersenyum beberapa kali membaca apa yang terlampir di sana. Mungkin tentang masalah Ghea bisalah ia urus nanti. Jika Alexa bisa sukses dengan bisnis fashionnya maka mengurus satu orang tak akan terlalu sulit untuk dilakukan. Pikirnya.
"Bagaimana?" Tanya Jack mengangkat kedua alisnya.
"Bolehkah saya masuk? Sepertinya sangat tak pantas jika saya harus bercakap dengan nona lewat pagar seperti ini." Ujar Jack menegur kelalaian Alexa.
Alexa tertegun, lalu tertawa pelan menyadari kebodohannya.
"Baiklah..... Silahkan masuk tuan!!" ucap Alexa membuka pintu gerbang miliknya.
Lalu keduanya berjalan beriringan menuju kursi tamu di teras depan. Alexa mempersilahkan Jack duduk di sana, lalu mendudukkan diri di kursi berhadapan dengan Jack.
Nampak sekali senyum gembira dari bibir Alexa, ia merasa jika keberuntungan sedang berada di pihaknya sekarang. Alexa bisa memanfaatkan peluang ini sebagai batu loncatan untuk melambungkan bisnis fashion yang ia miliki.
Selepas santai dengan duduknya, Jack memberikan selembar kertas juga bolpoin yang memang sengaja ia siapkan sebelumnya.
__ADS_1
Alexa mengalihkan pandangan ke arah kertas putih polos di hadapannya, mencari maksud yang Jack maksudkan.
"Aku ingin bertanya tentang Ghea Morgan. Apakah anda sebagai sahabatnya bersedia menjawab semua pertanyaan yang saya berikan tanpa mengurangi atau menambahi informasi yang anda tau. Jadi anda harus jujur nona." Jelas Jack memperingatkan.
"Baiklah....." Alexa hanya mengangguk pelan. Sejujurnya Alexa ingin memprotes pernyataan tentang sahabat dekat itu, tapi urung ia lakukan karena hanya akan memperpanjang proses yang sedang berlangsung.
"Bisa tolong tuliskan alamat tempat tinggal Ghea yang dulu atau sekarang yang anda tau!!!"
Alexa segera menuliskan alamat rumah Ghea saat dia masih kuliah dahulu.
"Tuliskan nama lengkap Ghea." Jack menatap lembar kertas yang terisi dengan coretan tinta dari gerakan tangan Alexa.
"Tuliskan nama orang-orang terdekat Ghea dan juga hubungannya dengan Ghea plus keterangan petunjuk untuk menghubunginya."
Alexa menghela nafas, merasa sedikit curiga dengan data-data yang di minta oleh lelaki yang tak ia kenal itu.
"Memangnya apa yang sebenarnya terjadi??" Tanya Alexa.
"Anda hanya cukup menuliskan itu, tak berhak mengajukan pertanyaan apapun kepada kami." Jawab Jack tegas.
Alexa memilih menuruti permintaan Jack daripada ia kehilangan kesempatan untuk mewujudkan impian utamanya. Alexa kembali fokus dengan kertas dan bolpoin di hadapannya.
"Anda tak akan memanfaatkan saya kan???" Tanya Alexa melirikkan mata ke arah lawan bicaranya.
"Tenang saja nona, kami akan merahasiakan hal ini. Dan kami harap nona juga melakukan hal yang sama, atau akan terjadi sesuatu yang tak anda inginkan!!" Kecam Jack memperingatkan.
Alexa menggangguk, merasa puas dengan jawaban yang Jack berikan.
"Selanjutnya anda tulis semua sekolah tempat Ghea menempuh pendidikannya, pasti dia pernah cerita kan??" Jack memastikan.
__ADS_1
Alexa mengangguk untuk yang kesekian kalinya. Ia ingat betul apa yang membuat Alexa iri kepada sahabatnya itu, salah satunya adalah kehidupan baik yang Ghea dapatkan. Tak terkecuali tentang pendidikan SMA nya di sekolah ternama di kota tersebut. Bisa di bilang jika Ghea sangat beruntung bisa mengenyam pendidikannya di sekolah besar yang menjadi sekolah idaman bagi para murid di seantero negeri.
Untuk bisa masuk ke sekolah itu butuh nilai rata-rata yang cukup tinggi, jadi hanya sekitar 50% dari jumlah total pendaftar yang bisa di terima masuk disana. Belum lagi ada tes lanjutan yang siap menyingkirkan sekitar 20% sampai 30% dari total murid yang lolos kualifikasi di awal tadi. Pada akhirnya hanya ada beberapa ratus murid baru yang bakal di terima disekolah itu.