Sahabat Yang Menghancurkan

Sahabat Yang Menghancurkan
SM 44


__ADS_3

"Apa maksudmu???? Aku tak pernah merebut dia darimu, Faruq yang bersedia untuk menikahiku, lagian kalian hanya berpacaran belum tentu juga akan menikah" Ucap Alexa tersenyum masam dengan ejekan yang ia tampakkan dengan jelas.


"Cih....." Decak Ghea merasa emosi.


"Kamu fikir aku tidak tau ya Lex..... Ternyata kamu masih sama bodohnya dengan Alexa yang dahulu" Kekeh Ghea balas mengejek.


Alexa melenguh kesal mendapat olokan dari Ghea yang selalu membuatnya iri.


"Kenapa kamu datang ke dalam kehidupanku lagi??" Tanya Alexa membulatkan matanya yang sipit.


Ghea kembali terkekeh.


"Untuk mengambil semua milikku" jawabnya tegas.


"Apa maksud dari ucapanmu itu??"


Mata Alexa kian membelalak tajam, ia kepalkan telapak tangan dengan kuat, ingin sekali ia meninju wanita di hadapannya, merebut semua kebahagiaan yang tak pernah ia miliki sebelumnya. Mata wanita itu meremang, ia merasa benci dengan nasibnya yang tak pernah beruntung sedikitpun.


Kecemburuan atas nasib baik Ghea membuatnya gelap mata, ingin sekali ia menghancurkan wanita dengan nasib baik itu. Menggantikan posisi yang selalu ia idamkan.


Ghea tersenyum masam menatap Alexa dengan aroma permusuhan yang kental.


"Kita lihat saja nanti" ucapnya singkat,


Ghea tau jika dirinya bisa menang melawan wanita itu dengan semua nasib baik yang ia miliki. Ia tak mau berkowar apa apa untuk saat ini, tindakan yang akan membuktikan jika ia mampu merebut apa yang sudah seharusnya menjadi milik Ghea.


Setelah memberikan tatapan yang menusuk, Ghea langkahkan kakinya meninggalkan toilet itu. Langkahnya sangat tegas, mencipratkan kesombongan atas dirinya di depan Alexa.


Alexa mendengus kesal, ia ambil nafas dalam dalam menghembuskannya perlahan, mencoba mendapatkan ketenangan yang beberapa menit lalu terasa hilang dari dirinya.


Ia tatap pantulan dirinya di cermin, menatap semua asa yang mulai menelan sedikit kebahagiaannya. Butiran bening mulai menarik garis lurus di kedua pipinya yang cubby, punggungnya mulai bergetar menumpahkan semua kesedihan dan amarah yang menyatu.

__ADS_1


"Kenapa kamu harus muncul Ghea....." ucapnya lirih, ia tau kekalahan akan segera menerjang semua semangat yang selama ini ia kumpulkan perlahan.


Ia dongakkan kepalanya, menatap mata merahnya dalam cermin.


"Tidak Lex..... Kamu tak boleh kalah dari dia" ucapnya penuh ambisi. Lalu ia mulai tersenyum licik, seakan mendapat sebuah ilham yang jatuh dari atas langit.


Sementara itu di tempat lain nampak Faruq yang tengah gusar memegang surat yang baru saja keluar dari mesin printernya.


"Apakah harus begini???" Gumamnya merasa tak yakin dengan keputusan yang harus dia ambil. Ingatan tentang pertemuannya dengan Ghea kemarin itu membuatnya sedikit ragu.


Ia bingung harus mempercayai hati atau matanya. Kedua indra itu berselisih tentang suatu hal yang membuat fikirannya bingung harus memihak kepada siapa.


Sikap santai dari Ghea sama sekali tak mencerminkan kebohongan sedikitpun, tapi sudah berapa kali ia menangkap sesuatu yang janggal tentang kedekatan antara Ghea dengan Leon.


Faruq mengacak rambutnya merasa dilema dengan keputusan yang sebaiknya ia ambil. Yang ia takuti bukanlah kehilangan semua harta miliknya, tetapi kehilangan Ghea yang menjadi penyemangat dalam hidupnya.


Ia raih kertas hvs di atas meja, matanya bergerak ke kiri dan ke kanan dengan teratur, namun ada tatapan sayu yang terpancar jelas dari netra coklat milik Faruq.


"Aku harus menyelidikinya dahulu, sebelum semuanya menjadi rumit" Gumamnya lalu menyimpan kertas itu ke dalam laci kerjanya.


......................


"Kenapa mualnya sampai begini?" Keluh Alexa yang masih saja merasa perutnya di aduk meski ia sudah mengeluarkan semua isinya.


"Apa aku sakit?" Tanyanya memegang dahi dan juga leher yang memang sedikit hangat. Alexa memutuskan untuk memeriksakan diri ke klinik tempat ia biasa memeriksakan kesehatannya.


Ia pesan taxi online yang ia pesan lewat aplikasi di dalam ponselnya. Ia langkahkan kakinya dengan santai melewati ruang tengah yang terlihat sunyi.


"Mau kemana kamu?" Tanya Faruq.


Alexa menolehkan pandangannya ke arah sofa ruang tengah yang hanya tersorot oleh lampu-lampu kecil berwarna biru yang tidak terlalu terang.

__ADS_1


Faruq sedang merebahkan dirinya di sana, menatap layar ponsel di tangannya. Biasanya ia akan bersikap acuh dan masa bodoh dengan semua kegiatan Alexa, namun hari sudah mulai larut kala itu, ia tak bisa membiarkan wanita yang masih berstatus sebagai istrinya itu pergi di saat malam dan membiarkannya dalam bahaya.


"Ada urusan, apa pedulimu" jawab Alexa acuh sambil melangkahkan kembali kakinya menuju pintu utama.


Faruq mengernyitkan dahinya, berfikir tentang sesuatu yang mungkin Alexa lakukan di luar saat malam sudah mulai larut.


Disusulnya Alexa yang sudah keluar dari gerbang, ia lihat wanita itu dari balik jendela kaca, Alexa masuk ke dalam sebuah mobil biru dengan tulisan taxi di atasnya.


"Mau kemana dia?" Gumam Faruq merasa curiga. Ia bergegas masuk ke dalam kamar, mengambil jaket dan juga kunci mobilnya. Faruq ingin tau kemana wanita itu pergi, ia khawatir ada sesuatu yang Alexa sembunyikan darinya.


Diikutinya mobil yang membawa Alexa dengan jarak yang lumayan jauh, sampai akhirnya mobil taxi itu berhenti di depan sebuah klinik kesehatan di tengah kota. Klinik milik dokter Miko, dokter pribadi bagi keluarga Faruq.


"Apa dia sakit??" Batin Faruq mencoba menerka.


Ia hentikan mobilnya di tepi jalan depan klinik, ia khawatir jika Alexa tau Faruq mengikutinya. Ia pantau pintu klinik yang baru beberapa menit lalu tertutup setelah Alexa masuk.


Sementara di dalam klinik Alexa menemui dokter Miko yang sudah menjadi dokter pribadinya.


"Keluhan apa yang anda rasakan nona Alexa?" tanya dokter Miko sembari menempelkan stetoskop ke arah dada Alexa. Ia pantau detak jantung wanita yang nampak pucat itu.


"Sudah seminggu ini saya merasa mual terus dok" jawabnya dengan suara sedikit lemah.


"Kapan hari terakhir anda datang bulan?" Tanyanya lagi sembari meraih tensi meter di atas meja praktiknya, ia raih lengan Alexa dan menggunakan alat itu pada Alexa.


"Sudah sebulan lebih dok....." Jawab Alexa mencoba mengingat. Ia baru menyadari jika ia telat datang bulan beberapa hari.


"Berarti anda telat datang bulan?" Tanya dokter Miko lagi sambil melepas tensimeter dari lengan Alexa.


Alexa mengangguk pelan, ia mulai khawatir sekarang.


"Saya USG saja ya bu Alexa..?" Tawar Miko meminta persetujuan pasiennya.

__ADS_1


Alexa menggangguk pasrah dengan pelayanan dokter Miko, ia memang selalu menyerahkan semua urusan kesehatan kepada dokter Miko sedari ia menikah. Ia adalah dokter andalan keluarga Faruq, bu Jasmin yang memperkenalkannya kepada Alexa selepas ia menikah dengan Faruq.


__ADS_2