
"Permisi pak!!" Seorang perawat menyadarkan Faruq dari lamunannya yang sudah ia selami beberapa menit yang lalu.
"Ya...." Faruq langsung sigap berdiri, menghadap seorang suster yang menghampirinya dengan sebuah catatan di tangannya.
"Dengan keluarga pasien atas nama Alexa Permata???" Tanya sang suster meminta kejelasan.
"Saya sus...." Jawab Faruq lugas.
"Apakah anda suaminya?" Tanyanya lagi yang langsung mendapat anggukan dari Faruq.
"Nona Alexa berkata jika ia telah mengonsumi minuman beralkohol semalam, itu yang membuat bayi dalam kandungannya berkontraksi dan menimbukan nyeri panas di rahim nona Alexa. Saya harap anda sebagai suaminya lebih memperhatikan setiap makanan dan minuman yang di konsumsi oleh nona Alexa. Terlebih lagi kehamilannya ini bisa di bilang berada dalam fase yang masih rentan untuk keguguran." Jelas suster panjang lebar.
Faruq hanya bisa mengangguki semua yang di sampaikan oleh sang suster. Ia tak terlalu peduli kepada Alexa, hanya karena tanggung jawabnya saja ia bersikap demikian kepadanya. Namun mendengar pertanyaan suster barusan entah mengapa membuat Faruq merasa miris. Tidak sepantasnya ia melakukan hal seperti itu kepada Alexa yang tengah mengandung anaknya.
"Silahkan....!!! Anda boleh menemui nona Alexa sekarang." ucap suster sembari berlalu dari hadapan Faruq. Faruq mengangguk, merespon ucapan suster, tapi masih enggan untuk menemui Alexa.
Ia raih ponsel miliknya, waktu sudah menunjukkan jam enam pagi. Faruq mencari sebuah kontak dalam ponselnya. Menekan sebuah nama yang tertera disana.
"Hallo bu...." Sapa Faruq saat mendengar seseorang mengangkat panggilannya.
"Ya Fa...... Ada apa???" Tanya seorang wanita yang terdengar dalam panggilan itu.
"Bisa ibu pergi ke Rumah Sakit Medika sekarang?? Aku akan memesankan taxi untukmu." ucap Faruq datar.
"Si.... Siapa yang sakit Fa???" Wanita itu nampak panik, terdengar jelas bagaimana gagapnya ia berucap.
"Jangan khawatirkan aku bu, lekaslah kesini!!! Yaa!!" ucap Faruq yang kemudian menutup panggilan secara sepihak. Lalu kembali menarikan jarinya di atas layar datar yang ia pegang. Mencari sebuah aplikasi di dalamnya. Memesankan sebuah taxi online untuk ibunya.
Sebenarnya ia tak ingin urusan rumah tangganya harus terdengar pada siapapun, namun ia punya suatu urusan di luar pekerjaan kantor yang harus ia selesaikan secepatnya.
"Permisi pak! pasien akan kami pindahkan ke ruang sebelah ya pak, kita akan tunggu sampai sore, jika istri bapak sudah benar-benar membaik maka baru boleh pulang." Ucap sang suster yang lagi-lagi hanya mendapat anggukan dari Faruq.
Kemudian Faruq mengekor sang suster yang berjalan ke tempat Alexa terbaring, melihat wanita yang berstatus sebagai istrinya itu terbaring sedikit membuat Faruq iba kepadanya.
"Mari pak...." ucap sang suster kepada Faruq sambil mendorong ranjang rumah sakit meninggalkan tempatnya semula, masuk ke ruangan lain yang tak jauh dari sana.
__ADS_1
Setelah menata rapi ruangan, suster itu meminta diri meninggalkan pasien untuk mengurus hal lainnya.
"Baik! Terimakasih sus." Jawab Faruq pada akhirnya, menatap punggung suster yang mulai hilang di balik tembok ruangan.
Faruq mengambil nafasnya pelan, menghembuskannya dengan sedikit kasar, seakan ingin menghempaskan kecemasan yang sedari tadi menghinggapi perasaannya.
Ia alihkan pandangan pada sebujur tubuh yang terbaring di atas ranjang. Lingerine yang masih Alexa kenakan menampakkan jelas lekuk tubuhnya yang memang elok.
Faruq buru-buru mengalihkan pandangan ke arah lain menyadari hal yang baru saja ia lihat. Faruq lepaskan jamper hitamnya, memberikannya kepada Alexa.
"Pakai ini!!" Ucapnya dengan wajah datar.
Mendapat perhatian seperti itu saja membuat Alexa tersipu malu, pipinya seketika memerah.
"Jangan kege er an, Jangan terlalu berharap kepadaku, nantinya kamu akan lebih kecewa." ucap Faruq yang menyadari kegrogian Alexa.
"Terimakasih ya, sudah membawaku kesini."
Alexa tau jika Faruq sudah mulai berada dalam pelukannya, ia tinggal menjalankan strategi selanjutnya.
"Entah apa alasanmu, itu sudah membuatku cukup senang." Alexa tersenyum manis menatap suaminya yang berdiri menatap pemandangan di luar jendela.
"Terserah kau saja." Jawabnya acuh, kemudian berlalu meninggalkan Alexa yang sedang gembira atas perhatian Faruq.
Faruq enggan untuk berlama-lama bersama dengan Alexa, kian lama melihatnya membuatnya kian jenuh. Ia mendudukan diri di kursi tunggu yang berderet di samping loket pendaftaran.
Menghirup udara dingin yang berhembus di sana.
"Fa..... Faruq....."
Seorang wanita nampak berjalan cepat menghampiri Faruq yang mulai penat dengan kegiatannya hari itu.
Faruq menatap ibunya yang terlihat sedikit kacau dengan raut muka khawatir yang ia tampakkan pada wajah tuanya yang masih terlihat cantik.
"Ibu kira kamu kenapa-napa, lalu siapa?" Tanya bu Jasmin mengerutkan alisnya berkali-kali. Ia tepuk pundak anaknya, merasa sedikit tenang saat melihat anak semata wayangnya berdiri di sana menyambut kedatangannya.
__ADS_1
"Alexa bu....." Jawab Faruq datar, tak menampakkan ekspresi kekhawatiran sedikitpun.
"Kenapa dia??"
Bu Jasmin menatap serius wajah anaknya, merasa ada sesuatu yang tidak ia ketahui.
"Kandungannya.... Mengalami kontraksi."
DEG.....
Jantung bu Jasmin seakan berhenti berdetak. Ia baru saja mendengar kabar baik dari anaknya. Wanita paruh baya itu malah tak merasa khawatir mendengar kabar dari Faruq. Ia malah merasa senang ketika tau menantunya tengah mengandungkan cucu untuknya.
"A.... Apa....???" Mulut wanita itu menganga. Tersenyum manis kemudian.
"Kenapa kamu tak mengatakannya kalo Alexa tengah hamil?" bu Jasmin memukul pelan dada anak lelakinya, merasa anaknya tengah bermain-main dengannya.
Faruq tak mengaduh sedikitpun, hanya memegang dadanya sembari bersikap datar. Tak merasa senang sedikitpun dengan keterkejutan ibunya.
Faruq meraih lengan ibunya dengan kedua telapak tangannya, menggamnya erat, menatap kedua bola mata bu Jasmin yang mulai di telan usia.
"Dengar bu...... Aku tak menginginkan Alexa bu. Dia menjebakku malam itu" Faruq berkata cukup serius. Ia tak mau ibunya salah faham.
"Tapi tak apa kan??? Sebaiknya memang begitu, lagian kalian kan sudah resmi menjadi suami istri, tak ada salahnya kan." Jawab bu Jasmin yang merasa senang dengan kabar baik itu.
Faruq menghela nafasnya kasar, merasa malas untuk melanjutkan perbincangan ini.
"Aku masih mencintai Ghea bu....." Faruq memonyongkan bibirnya, seperti anak kecil yang merajuk meminta jatah jajan.
Sekarang giliran bu Jasmin yang menghela nafasnya, merasa sebal dengan jawaban yang baru ia dengar dari mulut anaknya. Bukan jawaban seperti itu yang ia harapkan.
"Lupakan Ghea Faruq!!! Wanita itu bukan jodoh kamu. Lagian ibu sudah cocok dengan Alexa, untuk apa cari yang lain." Jawab bu Jasmin mengerlingkan matanya. Mencuri perhatian agar Faruq mau menurut dengannya.
"Sudahlah bu..... Mau berapa kalipun ibu meminta, aku tak pernah bisa mencintai Alexa." Jawabnya dengan nada putus asa.
"Kamu terlalu menutup hatimu Fa......" ujar bu Jasmin berpendapat, ia tau banyak tentang sifat anaknya.
__ADS_1