
17 tahun kemudian.
Terlihat seorang laki-laki berprawakan tegas, berwibawa. Dengan setelan wajah sempurna. Hidung mancung, bulu matanya lentik dan bibir mungil itu yang sama dengan ibunya. Tetesan air mata itu terus mengalir. Dadanya dan tangannya bergetar, sesekali ia menghapus air matanya. Laki-laki itu terus membaca sebuah kertas di depannya.
"Kakak." Sapa seorang gadis melihat laki-laki di depannya yang berdiri di depan jendelanya.
"Kakak ayo kita sarapan." Keluh gadis itu, perutnya sudah lapar. Tetapi Kakaknya tidak kunjung turun. Sementara dirinya dan kedua orang tuanya tengah menunggu laki-laki itu.
"Kakak kenapa?" tanya Gadis itu melihat mata kakaknya yang memerah. Matanya beralih ke sebuah kertas di tangannya. Gadis itu pun memeluk sang Kakak. Hingga laki-laki itu menumpahkan tangisannya di dalam dekapan sang Adik.
"Kakak jangan menangis, Ayah dan Ibu pasti sedih melihat Kakak seperti ini." Tuturnya seraya melepaskan pelukannya.
"Aku hanya merindukan Ayah ku." Ujar laki-laki itu yang tak lain Elca. Tadi malam tepat jam 12 malam, Ibunya masuk ke kamarnya. Kebetulan pada saat itu ia belum tidur. Caroline pun memberikan sebuah surat padanya untuk ia baca. Namun karna kelelahan menyelesaikan latihannya. Laki-laki itu tertidur dan membukanya pada pagi hari.
Sang gadis itu pun mengangguk, ia sudah tau. Jika sang kakak satu Ibu tapi beda Ayah. Semenjak kecil sang Kakak telah menjaganya, menjadi kebanggaan Ayahnya, Duke Elios. Dan secepat itu pula. Mereka akan berpisah setelah Elca matang menyandar gelar Viscount.
"Bagaimana jika nanti kita ke makam Ayah? Adik akan ikut dengan Kakak." ujarnya.
"Elca, Anabella kenapa kalian masih di sana." Caroline membuka pintu kamar Elca, melihat keduanya tengah berpelukan.
"Kami sudah membacanya," Caroline berucap melihat sebuah kertas di tangan Elca.
__ADS_1
"Ibu." Elca memeluk Caroline di susul dengan putrinya, Anabella.
"Jangan menangis sayang, Ayah mu sudah tenang. Kamu merindukan Ayah mu sama dengan Ibu." ujar Caroline, air mata itu pun keluar dari tempatnya.
"Bagaimana jika nanti kita kesana?" timpal Duke Elios, ia sadar tidak boleh cemburu pada Caroline apa lagi hanya untuk orang yang sudah meninggal.
"Ayah, baru saja aku ingin berbicara ke makam Ayah." Elca melepaskan pelukannya, beralih ke arah Duke Elios.
"Iya, sekarang kita kesana. Lebih baik kita sarapan dulu. Setelah itu, kalian bersiap-siap."
"Iya ayah." Serempak Anabella dan Elca keluar dengan bergandengan tangan. Umur Anabella yang kini sudah 12 tahun membuat Duke Elios merasa sedih. Sebentar lagi Anabella akan menikah dan meninggalkan mereka.
"Sayang, apa kita perlu membuatnya lagi. Aku ingin rumah kita ramai."
"Terimakasih, sayang ku." Duke Elios mengecup singkat bibir Caroline.
...----------------...
"Ayah." Elca duduk seraya mengelus batu nisan yang bertuliskan nama Viscount Luis.
"Aku datang." Elca menunduk, ia tumpahkan rasa rindunya dengan mencium batu nisan itu.
__ADS_1
"Aku bisa kuat di sana, tapi di depan Ayah. Aku sangat lemah."
Caroline memejamkan matanya, ia memeluk Duke Elios. Isakannya mulai pecah. Duke Elios pun hanya bisa menepuk bahunya, menghujaninya dengan kecupan lama di puncuk kepalanya.
"Aku sudah memiliki Adik. Namanya Anabella. Lihatlah." Elca memberikan kode pada Abella untuk mendekat. "Dia Adik ku, cantik kan. Sama seperti Ibu."
"Hallo Ayah." Sapa Anabella dengan lembut. Ia tersenyum, hatinya juga ikut menangis. Ada rasa kasihan di hatinya melihat sang Kakak yang sesegukan.
"Lihatlah Ayah dia sangat lembut. Ayah pasti suka padanya kan. Dia mirip Ibu Ayah."
"Anabella, Elca. Ayo kita pulang sayang." Timpal Caroline ia tidak tahan berada di sana. Bukan berarti dia tidak suka. Tetapi dadanya semakin sesak. Mana kala dia mengingat kembali hidupnya bersama Viscount Luis.
"Aku pulang Ayah," ujar Elca berdiri di ikuti Anabella.
Caroline menatap batu nisan di depannya, bibirnya tersungging. "Viscount aku pulang." Ucap Caroline.
"Yuk kak, Dukung author dengan beli karyanya. Cinta ama novel author, harus punya donk😊"
__ADS_1
#Yang Mau Pesen pakai COD bisa di lihat di Shopee