
Keesokan harinya.
Benar saja Kenan dan Mia mempersiapkan baju Caroline dan segala sesuatu yang di butuhkan saat perjalanan. Kedua pelayan itu merasa senang, akhirnya mereka bebas dari Duke Elios. Akan tetapi yang membuat mereka sedih, meninggal rumah besar ini yang selama ini mereka tempati, mulai dari Nyonya Berlia mengandung Caroline sampai mereka melihat Caroline tumbuh dewasa.
"Mia, Kenan apa gaun ku sudah siap?" tanya Caroline seraya mengusap lembut rambutnya yang basah dengan handuk.
"Sudah nona, semuanya sudah siap." Balas Mia
"Mari nona, kami bantu." Ucap Kenan.
Setelah 15 detik.
Caroline telah selesai di rias, memakai gaun berwarna hijau muda dan rambut di biarkan terurai.
"Aku tidak ingin memakai kalung ini, ganti dengan kalung ku yang lainnya." Seru Caroline sambil melihat kalung yang di belikan oleh Pangeran Oskar di cerminnya.
"Baik nona." Ucap Kenan.
Tiba-tiba seorang wanita masuk, ia berjalan ke arah Caroline dengan mata sembab. Semalaman dia menangisi kepergian Caroline, hatinya harus merasakan sakit lagi saat dirinya tidak akan bertemu Caroline dalam jangka waktu yang lama.
__ADS_1
"Caroline, apakah kamu bisa memikirkannya lagi. Apa kamu tega meninggalkan Bibi dan Paman mu." Ucap Nyonya Verland.
Mia dan Kenan meminggirkan tubuhnya, memberikan celah agar Caroline dan Nyonya Verland lebih leluasa.
"Maaf bibi, bukan maksud Caroline ingin meninggalkan Bibi dan Paman. Caroline ingin suasana baru Bibi. Dan tenang saja, Caroline bisa menjaga diri Caroline." Ucap Caroline menenangkan hati nyonya Verland.
"Tapi Bibi tidak bisa menjauh dari mu." Nyonya Verland kembali menangis tersedu-sedu.
"Biarkan Caroline hidup dengan suasana baru Bibi." Caroline memeluk Nyonya Verland begitu erat, seakan itu adalah perpisahan terakhirnya.
"Nona, kereta Duke Elios sudah siap." Ucap pria paruh baya sambil membungkuk hormat.
Caroline mengangguk, ia kembali memeluk Nyonya Verland, lalu melepaskannya. Dia mengusap lembut kedua mata Nyonya Verland dengan lembut. "Berjanjilah, Bibi akan menjaga kesehatan Bibi." Ucap Caroline berlalu pergi.
"Paman." Ucap Caroline seraya memeluk erat Baron Cosmin.
"Maafkan Paman, kali ini pun Paman tidak bisa berbuat apa-apa."
Caroline melepaskan pelukannya, ia beralih melihat sekeliling, meskipun di dalam tubuh itu jiwa yang berbeda. Tetapi Cyra bisa merasakan kebahagiaan hidup yang dialami oleh pemilik tubuh aslinya. "Kamu bisa berubah pikiran, jika kamu tidak ingin meninggalkan rumah ini."
__ADS_1
Caroline melirik Duke Elios, "Tidak, justru aku senang bisa berjauhan dengan Paman." Balas Caroline sambil berjalan di ikuti Kenan dan Mi.
Duke Elios tersenyum nanar, apa yang ia harapkan Caroline akan berubah pikiran dan menuruti semua keinginannya. Ternyata dia salah, Caroline justru bahagia berjauhan dengannya. Sebenci itu kah keponakan yang ia rawat selama ini. Hatinya merasakan sakit, Caroline memilih menjauh daripada bersamanya.
"Paman akan menyuruh Emi menjadi pengawal mu," seru Duke Elios.
"Terserah, yang penting aku bisa menjauh dari Paman lagi." Ucap Caroline.
Aku berjanji akan menemukan kebahagian ku batin Caroline
Saat Caroline ingin menaiki kereta, Duke Elios menarik tangan Caroline sampai jatuh ke dalam dekapannya. Dia memeluk Caroline begitu erat, seakan tidak ingin melepaskannya. Ada rasa mengganjal di hatinya, setelah perpisahan ini. Dia merasa Caroline tidak akan bersamanya kembali, meskipun sebagai seorang keponakan.
"Caroline, pikirkanlah secara baik-baik. Kamu bisa berubah pikiran Caroline." Ucap Duke Elios, akhirnya ia kalah dengan hatinya yang masih ingin bersama Caroline.
Sok dramatis, apa sih maunya orang ini
Caroline mendorong pelukan Duke Elios, "Aku lelah bersama Paman. Kali ini Caroline, akan mencari kebahagiaan Caroline sendiri. Paman tidak ingat kah, Paman yang menyuruh Caroline pergi dari hidup Paman. Dan selamat semoga bahagia." Ucap Caroline langsung masuk ke dalam kereta.
"Caroline," Duke Elios menggenggam tangannya yang hanya tersisa wanginya tubuh Caroline.
__ADS_1
Emi menunduk hormat, dia akan mengantarkan Caroline sampai keKaisaran sebrang, Kekaisaran Bintang.
"Aku harap kamu berubah Caroline." Gumam Duke Elios menatap sayu ke arah kereta yang mulai menjauh.