
Pada malam harinya, terlihat seorang gadis yang duduk di tepi ranjang seraya melihat ke arah wanita paruh baya yang sibuk memindahkan gaunnya ke koper.
"Caroline, bagaimana pendapat mu tentang Viscount Luis?" tanya bibi Roseline seraya melipatkan gaunnya ke kotak lumayan besar.
"Dia baik, orangnya hangat bi. Jadi Caroline merasa nyaman."
Bibi Roseline tersenyum seraya mengelus pucuk kepala Caroline, "Benarkah, apa dia begitu ramah? padahal Viscount Luis terkenal datar dan dingin, banyak wanita yang menginginkannya, tapi sayang semua itu hanya keinginan belaka." Ujar bibi Roseline sambil mengingat tatapan tajam Viscount Luis saat ada wanita yang mendekatinya.
"Dia ingin melamar mu Caroline, sudah waktunya kamu hidup dengan suasana baru bersama orang yang mencintai mu."
Caroline menatap wajah bibi Roseline, "Aku masih belum memikirkannya bi. Em, bibi aku ingin berbisnis kue disini. Setidaknya aku bisa belajar hidup mandiri." Ujar Caroline mengalihkan pembicaraanya.
"Tidak usah Caroline, bibi bisa menghidupi mu."
Bibi Roseline tidak ingin Caroline lelah di usia mudanya, ia ingin Caroline menikah saja mengurus keluarganya dari pada berbisnis.
"Bibi seharusnya mendukung," Caroline menunduk dengan wajah putus asa, ia harus membuktikan jika dirinya bisa hidup tanpa Pamannya yang sok kecakepan itu. "Aku harus buktikan bibi, aku bisa tanpa Paman Elios."
__ADS_1
Deg
Bibi Roseline terdiam, ia menatap nanar ke arah Caroline, hatinya terasa sakit. Hanya demi membuktikan dirinya bisa hidup tanpa Duke Elios, Caroline sampai rela berbisnis dan tidak memikirkan seorang wanita bangsawan yang masih seusianya. Seharusnya seusia Caroline, dia minum teh bersama para wanita bangsawan lainnya. Menikmati setiap acara wanita bangsawan. Dulu masa mudanya ia lakukan seperti itu, tapi semuanya berubah setelah kematian suaminya.
"Emz, bibi. Apa bibi tau Baron Knight? dulu aku pernah berdebat dengannya. Bahkan dia mengungkit nama Ibu dan menjelekkan namannya. Aku sangat kesal, seakan dia sangat kenal dengan Ibu."
"Bibi mengenalnya Caroline, dulu dia seorang pelayan di kediaman Baron. Mungkin saja dia tidak suka karna kamu menyukai Duke Elios. Bibi tadi tau dari Kenan. Ya, sudah Bibi menyiapkan semua keperluan bibi buat besok." Ucap Bibi Roseline seraya mengecup kening Roseline dan meninggalkan Caroline. Dia tidak ingin menangis di depan Caroline. Bagaimana jika Caroline tau? ayahnya sendiri membencinya. Hatinya semakin sakit memikirkan semua itu. Dia tidak tega mengatakan kenyataan pahit itu.
Keesokan harinya.
Caroline berputar-putar melihat tubuhnya memakai gaun berwana pink, gaun yang pas untuk tubuhnya. Di lehernya terdapat kalung dengan mutiara ungu. Semua yang ia pakai hari ini dari Viscount Luis, ia bersyukur, ternyata masih ada yang perhatian padanya.
Tap tap tap
Bunyi sandal Caroline mengalihkan pandangan semua orang yang berada di ruang tamu. Semua orang melongo melihat ke arah Caroline layaknya bak dewi. Gaunnya yang melekat di tubuhnya, di tambah kulitnya yang halus dan putih menambahkan aura kecantikannya.
"Tuan muda," sapa Caroline melihat Viscount Luis tanpa berkedip seperti robot.
__ADS_1
"Tuan Muda." cicit pengawal di sampingnya, ia malu melihat keadaan Viscount Luis yang seperti patung. Hilang sudah harga dirinya yang ia junjung.
"Tuan muda,"
"Eh, iya." Ucap Viscount Luis yang langsung tersadar. "Aku datang kesini hanya ingin mengantarkan nona Caroline." Ucapnya dengan wajah memerah.
"Caroline, bibi tidak menyangka kamu sangat cantik." Ujar bibi Roseline seraya melirik Viscount Luis yang salah tingkah. "Baiklah, mari kita berangkat Caroline."
Merekapun keluar bersama-sama. Caroline berdampingan dengan Viscount Luis dan bergandengan tangan. Tiba-tiba Caroline menghentikan langkah kakinya, saat melihat Emi yang berada di depan pintu gerbang. Jujur saja ia berharap Duke Elios tidak mendatanginya.
"Kenan, Mia bukankah itu Emi, untuk apa dia kemari?" tanya Caroline melihat ke arah Mia dan Kenan.
"Sepertinya hanya pengawal Emi nona."
Caroline mengangguk, ia kembali melanjutkan langkah kakinya.
Lain halnya dengan Emi, ia langsung mengeluarkan matanya ketika melihat Caroline berjalan dengan seorang laki-laki yang tak kalah tampannya dari Duke Elios.
__ADS_1
"Viscount Luis." Gumam Emi tanpa mengkedipkan matanya, segera ia menunduk saat Caroline dan yang lainnya sudah mendekat. Apa yang di khawatirkannya benar-benar terjadi. Jika Duke Elios tau, sudah pasti dia akan mengeluarkan tanduknya. Membayangkan saja, sudah membuat dirinya bergidik ngeri dan membuat sekujur tubuhnya panas dingin. Akan tetapi resiko sebagai bawahan membuatnya harus melaporkan apa yang ia lihat.
Cih, apa kamu pikir aku tidak bisa bersanding dengan pria tampan. Kita lihat saja bagaimana cara mu melaporkannya pada Paman sialan itu batin Caroline semakin mengeratkan tangannya dan tersenyum sinis.