
Caroline tersenyum geli. "Sudahlah nanti aku akan cepat kembali." Ujarnya berlalu pergi.
Duke Elios berdiri, ia kembali menatap sengit Viscount Luis. Lalu menyusul Caroline.
"Ada apa Paman?" tanya Caroline berhenti di taman itu, tanpa membalikkan badannya ke arah Duke.
"Cyra." Duke Elios ingin melihat Caroline sebagai seorang Cyra, sebagai orang yang ia kenal beberapa waktu lalu. Ia ingin melihatnya, ingin mendekapnya, memeluknya. Rasa rindunya pada jiwa asing itu. Dia sadar selama ini hanya mencintai Cyra, bayangan Cyra pertama kali saat ia lihat. Selama di medan tempur, membasmi musuh rasa kecewa, rindu bercampur menjadi satu.
"Aku memang Cyra, bukan Caroline Knight atau pun Betrigh." Caroline memutar badannya.
Duke Elios memejamkan matanya, ia berlari kecil ke arah Caroline, ingin sekali ia memeluk Caroline. Saat Duke Elios hampir mendekat. Dengan singkat Caroline langsung menyetop langkah Duke.
Deg
Air mata itu turun di pelupuk matanya. Wanita itu tidak lagi mengharapkan pelukannya, tidak lagi mengharapkan kehadirannya. Dia sadar, dia laki-laki egois yang sering mengabaikan Caroline, yang sering menyakitinya. Apa lagi dia pernah menyakiti Cyra, jiwa asing yang membuatnya tertarik.
"Cyra."
__ADS_1
"Sudahlah Yang Mulia Duke. Hanya itu, aku harus kembali." Caroline melewati Duke Elios begitu saja.
"Sebegitu pedulikah kamu padanya Cyra. Maaf selama ini aku egois."
"Saat Yang Mulia tidak mempercayai ku, saat Yang Mulia Duke menolak ku." Caroline mengingat tatapan kecewa pada saat kebenaran itu terungkap. Dadanya sangat sakit.
"Apa Yang Mulia Duke pikir aku mau menempati tubuh ini? tidak, aku tidak ingin merebut milik orang lain."
"Maaf, Caroline. Aku datang kesini hanya ingin bertanya, masih adakah aku di hati mu?"
Caroline menggigit bibir bawahnya, hatinya memang mengatakan, menginginkan Duke. Tapi pikirannya terpaut bayangan Viscount Luis. Tidak ! dia bukan orang egois yang harus mementingkan kebahagiaannya sendiri. Viscount Luis, orang itu. Orang yang menderita karna dirinya. Setiap detik, setiap menit, setiap hari dia berbohong padanya.
Caroline menarik nafasnya lalu menghembuskannya. Ia menghapus jejak air matanya di pipinya itu. Caroline membuka pintu yang tertutup rapat itu. Ia ukir senyuman di bibirnya, menghilangkan rasa curiga pada Viscount Luis.
Bisa saja Viscount Luis menaruh curiga padanya.
"Sayang." Viscount Luis meraba semua badan Caroline, ia melihat Caroline dari atas ke bawah, ke kanan ke samping. "Dimana Duke Elios menyentuh mu. Aku akan membersihkannya. Aku tidak ingin ada debu di tubuh cantik mu itu. Bekas Duke Elios lebih berbahaya dari pada debu."
__ADS_1
Caroline terkekeh, ia mencubit hidung Viscount Luis. "Sayang kamu ada-ada saja. Paman tidak menyentuh ku. Dia hanya bilang akan merindukan diri ku." Ujar Caroline gemes.
"Syukurlah." Viscount Luis memeluk Caroline. Ia menghirup aroma wangi tubuh Caroline. Mengusir kegundahannya.
"Aku kira dia berbuat macam-macam." Viscount Luis melihat ke arah pintu. Dia tersenyum sinis melihat Duke Elios yang mengeluarkan aura hitam di tubuhnya. Matanya mengeluarkan api kemarahan. Urat-urat hitam di yang terlihat di kulitnya menghiasi seluruh tubuhnya. Setidaknya sebelum kepergiannya, ia akan membuat jantung Duke Elios keluar dari tempatnya.
Viscount Luis melepaskan pelukannya. "Maaf Duke, tadi aku tidak tau jika ada Duke."
Duke Elios tersenyum, ia memaksakan hatinya bersabar dan bersabar. Tangannya sangat gatal, ingin meninju bibir yang tersenyum mengejek itu.
"O iya, karna Duke Elios datang dengan kerinduan. Aku berharap Duke Elios mau menginap di sini dalam beberapa hari." Ujar Viscount Luis.
Seketika Caroline menatap tak suka ke arah Viscount Luis. Bagaimana jika dia tau, Duke Elios datang kesini dengan maksud tujuan lain. Carolin tidak habis pikir dengan Viscount Luis yang dengan senang hati mengajak saingannya menginap. Apa dia tidak takut, jika dirinya akan berpaling lagi.
*Hehe, mau kemana Duke Elios. Mari kita bermain petak umpet dulu batin Viscount Luis tersenyum devil.
Apa lagi yang di rencanakan oleh bocah curut ini. Perasaan ku tidak enak. Jangan-jangan ada sesuatu. Hem, tapi boleh juga aku menginap di sini. Aku ingin melihat Cyra ku lebih lama. Tidak masalah jika ada Viscount Luis. Anggap saja di patung berjalan di samping Cyra batin Duke Elios*.
__ADS_1
Kedua orang itu memberikan kode lewat matanya dalam artian 'Mari kita bersaing secara sehat.'