Sakit! Paman, Duke

Sakit! Paman, Duke
Memantapkan hati


__ADS_3

Di bawahnya salju, angin menyapa kedua orang itu. Terlihat seorang laki-laki yang menangis di depan batu nisan bernama Berlia. Sementara Caroline berada di belakangnya mengelus pundak laki-laki itu, bermaksud menguatkan hatinya.


"Maafkan aku Berlia, tolong maafkan aku. Aku bodoh Berlia, aku laki-laki bodoh."


"Ayah,"


Baron Knight menatap Caroline sambil menangis tersedu-sedu. Setelah memberikan kalung itu pada Caroline. Baron Knight mengajak Caroline ke makan Ibunya, ia ingin meminta maaf di depan Caroline dan di depan Berlia. Sedangkan Caroline sudah memutuskan untuk memaafkan Baron Knight, ia tidak tega Baron Knight sampai berlutut meminta maaf padanya.


"Ibu mu pasti marah Carol, dia tidak akan memaafkan Ayah. Ayah bukan laki-laki yang baik dan bukan Ayah yang baik. Seharusnya dari dulu Ayah memperjuangkannya." Baron Knight menangis di pelukan Caroline, ia begitu enggan melepaskan pelukannya.


"Ini bukan salah Ayah, semua ini hanyalah sebuah kesalahpahaman saja. Caroline benar, memang sakit hati pada sikap Ayah. Tapi Caroline juga berfikir, seandainya Ibu memberitau Ayah. Semuanya tidak akan terjadi."


"Ayah bersalah Caroline, dia hanya menjaga kehormatannya untuk Ayah. Dan Ayah adalah laki-laki bejat. Ayah, Ayah tidak tau Caroline. Ayah laki-laki busuk," Baron Knight menumpahkan semua rasa bersalahnya di pelukan Caroline. Semua kehidupan masa lalunya penuh dengan kotoran yang baunya pun tidak akan dapat di hilangkan begitu saja.


"Dengar ! " Caroline menangkup kedua pipi Baron Knight, "Semuanya bukan salah Ayah sepenuhnya."


"Kita akan memulainya dari awal Ayah. Ayah tidak harus merasa bersalah seperti ini. Caroline juga minta maaf, karna sudah mengabaikan Ayah dan memilih keegoisan Caroline."


"Kamu tidak salah apa-apa Caroline," Baron Knight kembali memeluk Caroline.

__ADS_1


"Menangislah Ayah, hari ini, terakhir kalinya Ayah mengeluarkan air matanya." Caroline menepuk lembut punggung Baron Knight. Kini hatinya pun telah merasa lega.


"Ikut ke kediaman Caroline Ayah, hari ini Caroline ingin melihat Viscount Luis. Kasihan dia menjemput Caroline. Tapi Caroline tidak menemuinya."


"Baiklah, Ayah mau ikut dengan mu Caroline."


Caroline mengangguk, ia membantu Baron Knight berdiri. Sebelum pergi, Baron Knight menoleh ke belakang. Mengucapkan selamat tinggal untuk kekasihnya.


"Ibu, Caroline pulang." Ucap Caroline.


"Ayah kedinginan, musim dingin tidak baik untuk kesehatan Ayah. Seharusnya Ayah tadi tidak memaksa ke makam Ibu." Sungut Caroline yang merasakan tubuh Baron Knight menggigil dan bibirnya sedikit membiru.


Sesampainya di kediaman Baron Betrigh. Caroline lagi-lagi membantu Baron Knight turun dari kereta. Dengan hati-hati Caroline memapah tubuh Baron Knight yang terasa lemas. "Sebaiknya Ayah istirahat." Kenan dan Mia dengan cepat membukakan pintu untuk mereka.


"Caroline, Baron." Bibi Roseline dan Viscount Luis yang melihat kedatangan mereka memberikan hormat layaknya para bangsawan.


"Kalian siapkan teh hangat untuk Ayah." Perintah Caroline pada Kenan, "Dan Mia nyalakan api di ruangan perapian." Ujar Caroline.


Di ruang perapian. Caroline membantu Baron Knight duduk dan menyelimuti tubuhnya.

__ADS_1


"Ada sesuatu yang ingin aku katakan pada mu Caroline." Ujar bibi Roseline seraya melirik ke arah Viscount Luis.


"Ada apa Bibi?"


"Kami sepakat akan mengadakan pertunangan seminggu setelah seminggu kamu dan Viscount Luis akan menikah."


Deg


Sekujur tubuh Caroline membeku, dadanya terasa sakit. Apa benar dia harus meninggalkan Duke Elios, sementara hatinya masih bertautan padanya. Hatinya masih terselip rasa cinta untuk Duke Elios.


"Caroline, jika kami terlalu buru-buru. Kami minta maaf." Timpal Viscount Luis.


Baron Knight melihat bola mata Caroline yang tersimpan keraguan. "Biarkan aku yang berbicara pada Caroline." Sanggah Baron Knight. Ia tidak ingin Caroline terburu-buru mengambil keputusan seperti dirinya di masa lalu.


"Baiklah, kami akan memberikan waktu pada Baron Knight. Dan aku berharap semoga jawaban mu berasal dari hati mu Caroline." Ujar Viscount Luis tersenyum kecut. Ia juga merasa Caroline belum sepenuhnya menerimanya. "Aku tunggu besok Caroline, karna besok aku harus pulang. Jika jawaban mu Iya makan kamu akan ikut dengan ku. Aku menunggu jawaban mu di gerbang kediaman mu." Sambungnya lagi dan berlalu pergi di ikuti Bibi Roseline.


"Caroline apa keputusan mu? Ayah tidak ingin kamu merasa terbebani. Ayah merasa kamu masih mencintai Duke Elios. Jika benar, Ayah akan menyuruh Ariana membatalkan pertunangannya dengan Duke." Ujar Baron Knight.


Caroline menggeleng, "Tidak Ayah, aku bukan orang ke tiga di antara mereka. Biarlah waktu yang menjawabnya Ayah."

__ADS_1


"Caroline sudah meyakinkan hati Caroline untuk Viscount Ayah." Ucap Caroline mantap. Tanpa sadar pembicaraan mereka di dengar seorang laki-laki saat dirinya ingin memutar handle pintu itu, ia urungkan mendengarkan suara Caroline. Seketika laki-laki itu merasakan jiwanya runtuh, hatinya seakan hancur dalam sekejap.


__ADS_2