
Keesokan harinya.
Caroline membuka matanya, ia merasakan sesuatu yang berat menimpa tubuhnya.
emm
Caroline melihat Viscount Luis yang tidur dengan pulas di atas tubuhnya. Caroline mengusap kepalanya dengan lembut lalu mencium nya. Dengan hati-hati Caroline membaringkan tubuh Viscount Luis di sampingnya. Ia merapikan kembali selimutnya sampai menutupi tubuh Viscount Luis.
"Sayang." Panggil Viscount Luis tanpa membuka kedua matanya.
"Maaf sayang. Tidurlah lebih dulu." Caroline kembali mencium kening Viscount Luis.
Viscount Luis menarik lengan Caroline yang hendak turun. Hingga menabrak ke dada bidangnya itu.
"Sayang." Caroline meronta meminta di lepaskan. Namun ia kalah tenaga. Viscount Luis memeluknya begitu erat.
"Biarkan seperti ini." Viscount Luis mencium pucuk kepala Caroline. Setiap melihat wajahnya, hatinya menangis. Ia tidak mau meninggalkan Caroline. Sudah beberapa obatan yang ia konsumsi demi kesembuhannya. Tetapi jika takdir masih memisahkannya. Ia iklas, setidaknya Caroline dan kelak anaknya di titipkan kepada orang yang tepat.
"Jangan meronta, naga ku bisa terbangun." Ucap Viscount Luis terkekeh.
Caroline mencubit perut Viscount Luis. Ia gemas melihata Viscount Luis yang bisa gombal tapi juga bisa mesum.
"Au sakit !" jerit Viscount Luis. Ia berpura-pura sakit.
__ADS_1
"Sayang." Caroline membulatkan matanya melihat darah segar itu kembali keluar dari hidung Viscount Luis.
"Aku tidak apa-apa." Ujar Viscount Luis tersenyum.
Caroline meraih sapu tangan di atas nakas itu, ia menghapus darah yang sudah mengalir itu.
"Jangan sayang. Aku bisa sendiri, jangan sampai kamu jijik melihat ku seperti ini." Ujar Viscount Luis menahan tangan kanan Caroline.
Caroline tidak menjawab, ia turun memungut pakaiannya dan memungut pakaian Viscount Luis. "Aku sama sekali tidak jijik, justru aku merasa senang bisa merawat Viscount." Ujar Caroline membantu Viscount Luis memakai baju tidurnya kembali. Setelah membersihkan darah di hidung Viscount.
Caroline memapah tubuh Viscount ke kamar mandi, ia takut tiba-tiba Viscount merasa pusing. Caroline tidak memperdulikan rasa sakit di areanya, yang terpenting tidak terjadi sesuatu pada Viscount Luis.
Setelah sekian menit, ia menunggu di luar kamar mandi dan mempersiapkan baju Viscount.
Viscount Luis keluar dari dalam kamar mandi dengan wajah segar.
"Sayang apa kamu masih merasakan pusing?" tanya Caroline khawatir.
"Nyonya sarapannya sudah siap."
Caroline melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu, ia membuka pintu itu melihat kedua pelayan yang membawa nampan bubur.
"Bawa masuk." Perintah Caroline.
__ADS_1
Kedua pelayan itu pun masuk lalu menaruhnya di atas nakas.
"O, iya apa Paman sudah bangun?" tanya Caroline.
"Yang Mulia Duke baru saja sampai di ruang makan Nyonya." Jawab salah satu pelayan.
"Sayang, sebaiknya kita kesana. Tidak sopan membiarkan Duke Elios makan sendiri." Timpal Viscount Luis yang merasa tidak enak hati.
"Kalian keluarlah, persiapkan air hangat aku akan mandi." perintah Caroline. Kedua pelayan itu pun menunduk hormat dan melaksanakan perintah Caroline.
"Baiklah, kita akan keluar tapi harus makan bubur dulu dan minum obatnya." Ujar Caroline seraya membantu Viscount Luis duduk di tepi ranjang.
Viscount Luis membuka mulutnya, sesuap bubur itu masuk ke dalam mulutnya. Viscount Luis merasa bersyukur dan sangat bersyukur, ia di berikan seorang istri yang menyayanginya dengan tulus dan tampa pamrih sedikit pun merawatnya.
"Maaf aku seorang suami yang merepotkan mu." Ujar Viscount Luis.
"Tidak ! kamu suami yang baik yang pernah aku temui."
Sedangkan di ambang pintu, Duke Elios memalingkan wajahnya ke kanan. Air matanya menggenang. Rasa sakit itu bertambah, tapi apalah daya. Dia sekarang hanyalah seorang Paman yang mencintai Cyra dalan diam.
Emi yang berada di dekatnya. Merasakan kasian. Padahal tadi mereka mau berpamitan. Namun harus melihat pemandangan itu.
"Ehem."
__ADS_1
Caroline dan Viscount Luis menoleh ke arah pintu. Caroline mengabaikannya, ia masih fokus pada Viscount Luis. Caroline pun membantu mengelap bibir Viscount Luis dengan sapu tangannya.
Sebegitu perhatian kah kamu padanya Caroline. Andaikan aku yang di berlakukan seperti itu batin Duke Elios.