Sakit! Paman, Duke

Sakit! Paman, Duke
Selamat tinggal


__ADS_3

Caroline yang melihat Duke Elios ambruk di lantai, ia menuju ke arahnya, membantunya berdiri. Namun Duke Elios memberikan kode dengan tangannya untuk menolaknya.


"Aku bisa sendiri, Ayo kita pulang." Ucap Duke Elios datar dan begitu saja melewati Caroline di depannya.


Deg


Hati Caroline terasa sakit, Duke Elios terlihat tidak menerimanya. Ia menunduk seraya menyusul langkah kaki Duke Elios.


Selama di perjalanan, Duke Elios maupun Caroline tidak ada yang saling berbicara. Caroline ingin menyapa dan meminta maaf. Namun ia canggung.


Sama halnya dengan Duke Elios yang emmilih diam dan fokus ke depan, mempercepat lajuan kudanya itu. Hari ini, hatinya cukup lelah dan sakit. Semua kejadian ini adalah kebodohannya dan patut di salahkan.


Dia merasa bersalah dan sangat bersalah. Caroline, Keponakaan yang ia sayangi. Benar-benar meninggalkannya. Lalu dia harus bagaimana dengan orang asing di depannya itu, seperti biasanya atau harus pura-pura tak kenal.


Tepat jam 12 malam.


Kedua orang itu sampai di depan keluarga Baron. Duke Elios turun dari kudanya, setelah itu di ikuti Caroline.


"Yang Mulia Duke maaf," ucap Caroline menunduk.


Duke Elios tersenyum kecut, entah hatinya marah atau tidak. Dia tidak tau, hatinya membingungkan dan juga pikirannya.

__ADS_1


Tanpa menjawab permintaan maaf Caroline, Duke Elios kembali melajukan kudanya.


"Benar, dia tidak akan menerima ku." Gumam Caroline tersenyum dengan air mata yang menggenang.


"Nona," sapa Kenan dan Mia. Sejak tadi mereka menunggu ke datangan Caroline.


"Siapkan semua keperluan ku, besok pagi-pagi sekali kita harus kembali."


"Baik Nona, tadi saya juga menerima perintah dari Nyonya Roseline. Setelah Nona pulang harus beristirahat, besok katanya Nyonya harus kembali." Jelas Mia.


Sesampainya di kamarnya, Caroline langsung membaringkan tubuhnya. Tubuhnya sangat lelah, biarlah hari esok yang menjawabnya. Dia tidak akan memaksa Duke menyukainya. Ia tidak ambil pusing untuk masalah ini. Yang terpenting sekarang dia harus fokus pada pernikahannya.


Disisi lain.


"Apa yang harus aku lakukan Emi?" Duke Elios menanyakannya pada Emi yang baru saja membuka pintu kamarnya.


"Ada apa Yang Mulia?" tanya Emi, perasaannya di selimuti rasa tidak enak.


"Caroline meninggal dan kamu tau, di dalam tubuh Caroline ada jiwa asing." Jelas Duke Elios.


Emi tidak mampu berkata apa pun, tidak mungkin ada kejadian seperti itu. Baginya mustahil ada kejadian seperti itu.

__ADS_1


"Mungkin kamu tidak akan percaya Emi." Duke Elios mengerti keterdiaman Emi. "Tapi itu lah kenyataannya. Aku sudah melihat sendiri."


Emi turut berduka cita, dia tau maksud Duke Elios tentang sihir itu. Di Kekaisaran ini, hanyalah Tuan Arcef yang hidup dan mewarisi ilmu sihir dari nenek moyangnya. semua penyihir telah punah karna peperangan 20 Tahun lalu.


"Apa yang akan Yang Mulia lakukan?"


"Aku tidak tau Emi, aku tidak perasaan ku. Aku bingung, Aku hanya merasa bersalah pada Caroline." Ujar Duke Elios yang tampak bingung di wajahnya itu.


"Sebaiknya Baginda memikirkan secara baik-baik. Dan ini adalah surat dari istana." Emi memberikan surat itu pada Duke Elios.


"Untuk beberapa waktu kita harus pergi Emi. Besok aku akan ke istana untuk membicarakannya dengan Baginda." Ucap Duke Elios.


Ke esokan harinya..


Caroline menggunakan gaun berwarna putih abu-abu, ia turun dari tangganya di ikuti Kenan dan Mia yang membawa dua kotak yang lumayan berat. Caroline melihat sekelilingnya, ia tidak mendapati Duke Elios yang mengantarkan kepergiannya. Hanya ada bibi Roseline dan Baron Knight yang tengah menunggu kedatanganya. Caroline mendesah pasrah, Duke Elios sudah membencinya dan tidak mungkin lagi menerimanya. Ia harus berhenti berharap dan memulai kehidupan yang baru.


"Ayo Bibi, Ayah. Kita harus cepat sampai." Ujar Caroline.


Caroline memaksakan kakinya yang sangat berat melangkah. Berat bukan berarti dia punya penyakit, tetapi berat meninggalkan kediaman Baron Betright. Dan Duke Elios, dia masih menunggu jawabannya. Ia berharap Duke Elios datang, mengantarkan kepergiannya itu.


Sebelum Caroline menaiki kereta, dia melihat sekeliling kediaman itu. Hatinya sakit, dia tidak akan melupakan semua kenangan di rumah itu.

__ADS_1


...Selamat tinggal Duke Elios, Aku berharap kamu bahagia batin Caroline menitikkan air matanya....


__ADS_2