Sakit! Paman, Duke

Sakit! Paman, Duke
Dia sudah bahagia


__ADS_3

"Ariana, hentikan !" Teriak Baron Knight menggelagar di ruangan itu. Pecahan kaca dan vas bunga berserakah di lantai.


prang


Ariana mengabaikan teriakan Baron Knight, ia terus menghancurkan vas bunga di depan jendelanya itu. "Aku tidak terima Ayah, aku tidak terima. Selama ini aku lah yang bersama dengan Yang Mulia, selama ini aku lah yang pertama di cintainya dia tidak mungkin mencintai jalang itu." Teriak Ariana menajamkan matanya.


Telinga Baron Knight langsung memanas, ia melangkahkan kakinya dan langsung


plak


Tamparan keras itu membuat Ariana jatuh ke lantai yang lumayan jauh. Baron Knight mendekati Ariana ia mengcengkram pipinya dengan kuat-kuat.


"Katakan sekali lagi Arian, aku akan menyobek mulut mu." Ucap Baron Knight dengan mata memburu. Dia tidak peduli Ariana putrinya atau tidak, detik ini Caroline adalah putrinya. Dia tidak akan membiarkan siapa pun menjelekkan nama Caroline termasuk Ariana sendiri.

__ADS_1


"Kenapa Ayah? kenapa Ayah membelanya, bukankah dulu Ayah selalu mengatakannya jalang." Ucap Ariana menahan sakit di pipinya akibat tamparan itu dan pipinya yang di cengkram kuat-kuat.


"Itulah kebodohan ku Ariana, bersikaplah baik. Maka aku akan bersikap baik pada mu. Dan terimalah semua kenyataan. Nanti malam Ayah akan pergi ke rumah Nyonya Roseline, besok hari pertunangan Caroline. Lebih baik kamu tidak usah ikut agar tidak membuat kekacawan." Ujar Baron Knight melepaskan cengkramannya lalu meninggalkan Ariana yang terisak-isak. Sampai di ambang pintu, "Obati luka mu. Ayah harap kamu membatalkan pertunangan mu, sebelum kamu menyesal Ariana. Karna Ayah juga pernah berada di posisi mu. Menikah tanpa mencintai."


Ariana terpaku, tubuhnya gemetar. "Caroline, aku membenci mu." Teriak Arina sambil mengepalkan tangannya, lantai keramik putih itu memperlihatkan wajah Ariana yang lebam dan bibirnya mengeluarkan darah.


"Caroline aku tidak akan membiarkan mu bahagia, sekali pun dirimu bersama Viscount Luis." Ucapnya penuh dendam kusumat.


Disisi lain.


"Caroline maaf, bukan berarti aku harus menjauh dari mu." lirihnya sambil menatap lukisan wanita cantik itu.


Ke esokan harinya.

__ADS_1


Disebuah aula yang luas dan megah, di hadiri oleh para bangsawan. Terlihat sepasang dua sejoli yang saling melemparkan senyum dengan hati yang berbunga-bunga dan menyempatkan cincin di jari pasangannya.


Para bangsawan pun langsung bertepuk tangan. Setelah acara itu, musik piano dan biola pun beriringan. Para pasangan berdansa.


"Caroline Betright, terimakasih telah menjadi pendamping hidup ku. Dan terimakasih karna kamu bersedia menjadi ibu untuk anak-anak ku."


"Viscount Luis, terimakasih mau menerima kekurangan ku dan kelebihan ku. Terimakasih karna selalu mendukung ku."


Kedua pasangan itu saling mendekatkan dahinya, hidung merek bersentuhan. Nafas mereka saling menyapa dengan hangat.


Tanpa mereka sadari tepat lurus di tengah-tengah mereka, dari kejauhan seorang laki-laki tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Rasa sakit di hatinya, ingin dia berteriak untuk melegakan hatinya. Laki-laki itu memejamkan matanya, terdengar suara hembusan nafasnya yang menandakan nafas itu sangat berat di hembuskan.


Laki-laki yang berada di sampingnya, yang tak lain Baron Knight. Ia memupuk pelan pundak Duke Elios agar menguatkan hatinya. Ia tau betul posisi yang Duke Elios alami saat ini.

__ADS_1


"Dia sudah bahagia," lirih Duke Elios menatap ke langit-langit agar air matanya tidak tumpah.


"Aku pernah berada di sisi mu, dan sekarang hanya tinggallah sebuah penyesalan. Aku tidak tau mau setuju atau tidak dengan keputusan mu. Tetapi masa lalu yang aku buat, meninggalkan Berlia dan tidak menunggunya adalah keputusan salah bagi ku. Seharusnya aku dulu menunggunya dan membuktikannya, bahwa aku memiliki cinta yang besar untuknya. Hah, itu semua kebodohan ku." Ujarnya menunduk sambil mengeluarkan air matanya.


__ADS_2