
Acara demi acara berlangsung. Kaisar Ferdinand mengumumkan beberapa alat musik yang akan di perkenalkan dari negara tetangga, di antaranya Harpa, Erhu, Guzheng dan liqi.
Para pemain musik itu pun masuk dengan membawa alat masing-masing. Satu persatu orang itu memulai petikannya. Bunyi irama itu bernuansa di ruangan aula. Keselarasan iramanya membuat siapa saja hanyut dalam perasaanya. Lain halnya dengan Caroline ia lebih memilih menyantap hidangan di meja yang lumayan besar dan panjang itu. Sesekali dia hanya melihat sekilas dan melanjutkan lahapannya.
"Hey, lihat. Bukankah itu nona dari keluarga Baron. Lihat saja cara makannya, tidak sopan sekali."
Diam dengan telinga tuli, itu alah Caroline yang mengabaikan bunyi nyamuk di sekitarnya.
"Ibunya saja seperti itu, pasti anaknya juga seperti itu."
Caroline menghentikan acaranya, dalam hidupnya tidak masalah semua orang mengatakannya asalkan bukan kedua orang tuanya.
Caroline menaruh garpu itu di piringnya, ia berdiri dan menuju ke arah kedua wanita itu. "Apa kamu bilang tadi?"
"Cih, dasar wanita tidak tau diri sama seperti ibunya."
Saat Caroline ingin melayangkan tangannya, Namun seseorang mencegahnya. "Caroline apa yang kamu lakukan?" tanya orang itu yang masih memegang lengan Caroline.
"Lepas, aku ingin memberikan pelajaran pada mulut busuknya."
Laki-laki itu pun melihat ke semua orang, untungnya semua orang hanya fokus pada permainannya. Dan tidak memperhatikan perdebatan Caroline. Dia tidak ingin Caroline mendapatkan masalah.
"Ikut Ayah." Ucap Baron Knight, menarik lengan Carokine. Saat tersadar Caroline tidak ada di sampingnya. Baron Knight langsung mencari keberadaan Caroline dan menemukan Caroline ingin menampar orang lain.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan, Nak?"
"Seharusnya aku yang bertanya pada mu tuan Knight. Apa yang kamu lakukan tuan? urusan ku dengannya kedua wanita ular itu belum selesai." Caroline hendak pergi, akan tetapi tangannya di cekal oleh Baron Knight.
"Dengar Caroline, Ayah tidak ingin kamu di cela semua orang."
Caroline melepaskan tangan Baron Knight dengan kasar, "Oh, benar orang seperti mu hanya mementingkan status saja. Dan tidak akan pernah bisa mengerti hati orang. Oh, iya aku lupa. Pada saat itu tuan hanya mementingkan perasaan tuan sendiri dan tidak mementingkan perasaan orang lain. Bahkan saat ada orang yang menghinanya tuan hanya diam sendiri." Sindir Caroline, Baron Knight mengusap kasar wajahnya. Apa-apa yang di lakukannya selalu mendapatkan sindiran dari Caroline.
Baron Knight memukul tembok itu dengan kasar, ia mengikuti langkah kaki Caroline.
prang
Tanpa sengaja Caroline menyenggol nampan seorang pelayan yang sedang membawa jus saat Caroline ingin menghindar tangan Baron Knight yang ingin meraih tangan kanannya.
Duke Elios yang merasakan sesuatu, ia pun langsung menyusul mereka.
"Caroline Ayah tidak bermaksud seperti itu, baik maafkan Ayah. Ayah hanya tidak ingin kamu turun langsung. Biarkan Ayah yang memberikan mereka pelajaran."
"Halah, sudahlah aku tidak membutuhkan bantuan tuan."
"Caroline."
Caroline hanya melirik sekilas dan berlalu pergi.
__ADS_1
"Baron Knight, aku yakin Caroline hanya butuh waktu." Ujarnya meyakinkan. Mulutnya bisa menenangkan orang lain, tapi hatinya juga takut karna Caroline belum bisa menerima sepenuhnya.
"Nona Caroline," Caroline melirik ke arah suara itu seraya menyeruput jus jeruknya.
"Ada apa Pangeran?" tanya Caroline sambil menaruh gelasnya.
"Tidak ada, aku hanya ingin berbicara dengan nona." Ujarnya tersenyum, "O iya, apa nona Caroline bisa bermain alat musik."
"Tentu saja bisa." Jawab Caroline.
"Boleh aku mendengarkan suara nona."
Caroline kembali meneguk jus jeruknya, "Boleh, anggap saja ini penyambutan untuk mu."
Caroline dan Pangeran Xio Jue menuju ke arah alat musik. Caroline berfikir sejenak alat musik apa yang bisa membuat semua orang kagum. Pikirannya terjatuh ke arah piano, ia akan bernyanyi sambil memainkan piano.
Caroline menarik nafasnya dan menghembuskannya perlahan. Jari Caroline menekan salah satu nada piano itu, Caroline memejamkan matanya menikmati alunan melodi yang ia bawakan. Dia terhanyut sendiri kedalam permainannya. Caroline pun membuka suaranya, lagi yang ia nyanyikan Back In Time karya Lyn (Ost Film Moon Embracess The Sun)
Alunan melodi, suara merdunya dan permainan pianonya membuat semua orang bungkam seketika. Mereka pun hanyut kedalam nyanyian Caroline walaupun tidak tau artinya. Tapi mereka tau, lagu yang dibawakan Caroline tentang lagu kesedihan.
Baru kali ini dan sepanjang sejarah di kekaisaran ini, mereka mengagumi suara merdu Caroline. Bernyanyi menggunakan bahasa hangul di iringi musik piano.
#maaf ya kak, aku masih sibuk nabung bab novel di lapak kuningš¤
__ADS_1