Sakit! Paman, Duke

Sakit! Paman, Duke
Bisakah Kamu


__ADS_3

"Walaupun begitu, aku masih menyayangi Paman. Paman adalah orang hebat yang memberiku kasih sayang. Semenjak kecil aku tidak pernah merasakan kurang kasih sayang sosok Ayah dan Ibu semenjak ada Paman." Ucap Caroline seraya berjalan ke arah Duke Elios.


"Caroline minta maaf, jika tidak bisa membahagiakan Paman." Ucap Caroline berhambur memeluk Duke Elios.


"Maaf Paman !"


Duke Elios terpaku, seluruh tubuhnya kini menghangat, ia merasakan dengan memejamkan matanya. Menerima sentuhan pelukan itu di tubuhnya. Sampai beberapa detik dia sadar dan membalas pelukan Caroline.


Ariana yang melihat adegan itu, hatinya bertambah hancur. Sudah tidak tahan melihat pemandangan itu, ia memilih pergi. Sepanjang perjalan di kediamannya, ia hanya menangis sesegukan. Dia tidak perlu tatapan para pelayan yang merasakan aneh dan iba.


Sedangkan dari kejauhan, Baron Knight menghampiri Ariana. Dia tidak tega melihat Ariana yang menangis.


"Ariana," sapa Baron Knight dengan nafas lelah. Dia mengerti kesakitan yang Ariana rasakan sekarang.


"Ariana, biarkan Duke Elios pergi. Jangan pertahankan Nak, yang suatu saat nanti jika kamu mempertahankannya membuat hidup mu penuh air mata." Ujar Duke Elios menasehati Ariana selembut mungkin.


"Ariana sangat mencintai Yang Mulia Duke, Ayah." balas Ariana, ia memeluk Baron Knight dan menumpahkan kesedihannya itu.


"Lalu Ayah harus apa Nak?" Baron Knight mengelus lembut punggung Ariana bermaksud menenangkan hatinya yang rapuh itu.

__ADS_1


"Biarkan Yang Mulia Duke mengembalikan mu secara baik-baik. Dulu dia meminta mu secara baik-baik dan kali ini dia akan menyerahkan diri mu secara baik-baik pada Ayah."


Ariana semakin menangis tersedu-sedu, ia juga membenarkan Ayahnya. Dia sadar pertemuan pertama kalinya hanyalah Ayahnya yang ingin menjodohkannya. Ayahnya selalu meyakinkan Duke Elios jika dirinya wanita yang baik dan pantas bersanding dengannya. Bahkan Ayahnya juga membangun bisnis dengannya. Dan baru hari ini dia paham. Ayahnya melakukan semua itu hanyalah ingin balas dendam pada Caroline, yang tak lain adalah putrinya sendiri.


"Hilangkan semua rasa itu, maaf Ayah membuat mu jatuh ke dalam lingkaran Ayah."


"Aku sadar Ayah, seberapa benci aku dengan Caroline. Dialah putri Ayah, putri yang Ayah harapkan dari wanita yang Ayah cintai. Tetapi bolehkah Ariana juga di harapkan oleh Ayah walaupun bukan keluar dari rahim wanita yang Ayah cintai."


"Selamanya kamu akan menjadi putri Ayah Nak." Ujar Baron Knight kembali memeluk haru Ariana.


"Baiklah, besok aku ingin pergi ke rumah Paman. Aku butuh waktu menenangkan diri. Dan aku ingin kepergian ku tidak di ketahui oleh siapa pun." Ucap Ariana tersenyum.


"Ayah paham apa yang kamu mau Nak. Ayah menginjinkan mu ke sana. Apa kamu bersungguh-sungguh tidak akan menemui Yang Mulia Duke dan menghadiri acara pernikahan Caroline."


Semoga ini yang terbaik untuk kalian batin Baron Knight.


Pada malam harinya.


Ariana telah selesai membereskan semua keperluannya. Dia menatap nanar ke arah dua kotak itu, lalu melihat sekeliling kamarnya. Ada rasa berat di hatinya meninggalkan kamar itu, meninggalkan kediaman Baron. Meninggalkan semua kenangan yang selulu bersemayan di hatinya.

__ADS_1


Ariana menarik nafasnya dalam-dalam, ia keluar dari kamarnya dan ingin menemui seseorang wanita. Langkah kakinya berhenti, ia tidak enak mengganggu kedua orang yang berada di dalam kamar itu. Ada rasa sakit sekaligus cemburu mendengarkan gelak tawa dari dalam kamar itu.


Ariana membuka pintu itu, ia berjalan menunduk ke arah mereka. "Maaf mengganggu waktunya, aku hanya ingin berbicara dengan Caroline."


"Tidak perlu ! cukup di sini saja jika kamu ingin berbicara padanya." Jawab Duke Elios datar.


Caroline memperhatikan raut sedih wajah Ariana, ia merasa iba padanya. "Baiklah, aku akan berbicara padanya Paman." Timpal Caroline beranjak berdiri. Dia juga sudah ouas menemani Duke Elios yang merengek seperti anak kecil meminta di temaninya.


"Tapi.." Duke Elios ragu, takut terjadi sesuatu pada Caroline.


"Jangan khawatir Yang Mulia, saya tidak akan berani macam-macam. Dan mungkin ini adalah untuk yang terakhir kalinya."


"Baiklah Ayo," Caroline berjalan lebih dulu, lalu di ikuti Ariana. Sekilas ia melihat wajah Duke Elios yang tidak suka padanya.


Kedua wanita itu pun berhenti di teras depan. Ariana yang tampak gugup. Namun dia harus memberanikan diri.


"Caroline aku minta maaf, sungguh aku minta maaf." lirih Ariana.


Caroline terkejut, namun ia segera menyadarkan keterkejutannya itu. Entah dari doa mana yang Tuhan kabulkan darinya. Sampai dirinya di kejutkan dengan permintaan maaf itu. "Hanya itu," Caroline sedikit menaikkan satu alisnya.

__ADS_1


Ariana memejamkan matanya, hatinya harus kuat demi kebahagiaan orang yang ia cintai itu. "Bisakah kamu menikah dengan Yang Mulia Duke dan membatalkan pertunangan mu dengan Viscount Luis." Ujar Ariana menahan sakit di dadanya itu.


Caroline menganga, ia mengusap kasar wajahnya. Dia tidak mungkin salah dengar, Ariana sungguh nyata di depannya itu, kali ini bukanlah mimpi.


__ADS_2