
#Banyak yang tanya tentang Tes DNA. Sebenarnya ini aku ikot di komik sebelah, tapi kisahnya tentang Dokter. Lok di sana Reinkarnasi ke masa lalu.
Caroline menghentikan langkah kakinya, ia sekilas melirik ke arah Ariana yang masih tercengang. Ia sudah yakin, Ariana dan Duke Elios mendengarkan semuanya.
"Menyebalkan." Ucap Caroline melanjutkan langkah kakinya kembali.
"Dia bukan anak Ayah, Caroline bukan anak Ayah. Ariana yakin itu semua pasti hanyalah kebohongan." Ucap Ariana menghentikan langkah kaki Caroline.
Caroline membalikkan badannya, ia menunjuk Baron Knight, "Apa kamu pikir aku sudi menjadi putrinya, lebih tepat saudara mu." Caroline berdecak pinggang ia menghembuskan nafasnya melalui mulutnya. "Seumur hidup ku, aku juga tidak akan mau menjadi putrinya."
"Aku akan buktikan, kamu bukan anak Ayah." Ariana berjalan mendekat ke arah Caroline, ia menyeret Caroline secara kasar.
"Lepas tidak," Caroline menghempaskan tangan Ariana sampai ia terhuyung ke belakang. "Aku bisa berjalan sendiri. Kita buktikan dan aku berdoa, semuanya hanyalah omongan belaka."
Duke Elios, Baron Knight dan juga bibi Roseline mengikuti langkah kaki mereka. Ada rasa khawatir di hati Baron Knight, bagaimana jika Ariana dan Caroline tidak mau mengakui jika mereka bersaudara? lebih tepatnya Caroline yang tidak mau mengakuinya sebagai Ayahnya.
"Cukup Ariana, Ayah yakin. Caroline anak Ayah." Baron Knight berusaha melerai pertengkaran kedua putrinya.
"Paman Baron Knight, kita buktikan saja. Aku berdoa semuanya hanyalah mimpi. Dan setelah kenyataannya aku bukan anak mu, aku bisa terbangun dari mimpi buruk ku." Caroline berjalan lebih dulu, ia yakin dirinya bukan putri dari seorang bajingan yang licik.
Sesampainya di rumah sakit, Ariana langsung menuju ke ruangan Dokter, "Dokter aku ingin kamu mengambil darah dari Caroline dan Ayah."
"Cepat !" Dokter itu masih diam, ia bingung dengan semuanya.
__ADS_1
"Ini ambil darah berharga ku dan jangan terlalu dalam. Soalnya nyamuk saja aku bunuh saat nyamuk itu menghisap darah ku." Caroline dengan santainya menyodorkan lengannya.
Baron Knight memegang lengan Caroline, ia tidak ingin jarum itu menancap di tubuh Caroline. "Caroline jangan."
"Jangan bilang Paman tidak ingin bangun dari mimpi. Ayolah Paman, aku harus secepatnya bangun dari mimpi buruk ku."
"Ayah, cepat lakukan. Dan kau Dokter kenapa masih diam !" bentak Ariana menatap dingin ke arah pria paruh baya itu.
Dengan sigap Dokter itu mengambil darah Caroline dan darah Baron Knight, setelah mengambil darahnya. Semua orang menunggu di lobi. Caroline hanya melihat kukunya, sudah lama ia tidak merawat kulitnya. Saat di zamannya, ia bisa ke sallon dan jalan-jalan semaunya.
Tak terasa 4 jam telah berlalu, Baron Knight dan Ariana mondar mandir. Ariana menginginkan Caroline bukan anak kandung Ayahnya, sedangkan Baron Knight berdoa jika Caroline benar anak kandungnya.
Duke Elios dan bibi Roseline tidak berkata sedikit pun, mereka hanya berharap semua jawaban itu memberikan kebaikan untuk Caroline dan Ariana.
"Cih, kalian pasti terkejut aku bukan anak Baron Knight." Caroline berdiri, ia memungut kertas di bawahnya dan membacanya. Caroline meremas kertas putih itu. "Tidak ini hanya mimpi, semuanya tidak seperti ini. Aku bukan Putrinya." Caroline berlari keluar dari rumah sakit itu.
"Caroline," bibi Roseline mengikuti langkah kaki Caroline. Ia harus menenangkan Caroline saat kenyataan pahit itu datang menerpanya.
"Aku bukan anak pria brengsek itu,"
"Caroline, sayang. Sadarlah, ini semuanya kenyataanya."
"Caroline," Duke Elios dan Baron Knight mengejar Caroline.
__ADS_1
Caroline menarik lengan bibi Roseline dan langsung menaiki kereta. "Percepat." perintah Caroline pada kusir kuda.
Tak berhenti di situ, Duke Elios dan Baron Knight merasakan khawatir, ia menaiki kereta. Laju kereta itu pun seakan saling berlomba, Duke Elios dan Baron Knight merasakan takut, khawatir. Mereka takut terjadi apa-apa dengan Caroline.
Sesampainya di kediaman Baron, Caroline langsung turun dan berlari ke arah kamarnya. Kenan dan Mi mengikuti Caroline, mereka juga merasakan khawatir ketika melihat Caroline dengan wajah yang di penuhi amarah.
"Nona." Kenan dan Mia mengetuk pintu Caroline.
"Minggir," Baron Knight dan Duke Elios mengambil alih mengetuk pintu kamar Caroline.
"Caroline," panggil Duke Elios dan Baron Knight.
Sedangkan Caroline yang berada di dalam, ia mondar mandir seraya menggigit kukunya. Sampai kapan pun dirinya tidak akan pernah mengakui Baron Knight. Sampai mati pun, dirinya akan mengingat semua penghinaan dari Baron Knight dan juga putrinya, Ariana.
Caroline melirik ke arah pintu, yang di gendor-gendor oleh Duke Elios dan Baron Knight seraya memanggil namanya.
"Caroline, ini ayah, Nak."
Caroline mengepalkan tangannya, ia mengambil vas bunga yang berukuran sedang itu dan melemparkannya ke arah pintu.
prang
Semua orang terdiam, mendengarkan pecahan keramik di belakang pintu.
__ADS_1
"Sudah aku bilang, aku bukan Putri mu atau anak mu. Sampai kapan pun aku tidak akan menerima semua kenyataan ini. Enyalah dari depan kamar ku." Teriak Caroline kembali melemparkan vas bunga.