Sakit! Paman, Duke

Sakit! Paman, Duke
Aku tidak percaya


__ADS_3

Caroline dan Ariana terkejut, mereka serempak menoleh me arah pintu. Caroline dan Ariana pun berlari ke arah pintu, mungkin saja ada seseorang yang mendengarkan perkataan mereka. Saat pintu itu terbuka lebar, Ariana menganga. Dia menangis sambil menepuk pipi Duke Elios.


Lain halnya dengan Caroline, ia juga merasa takut. Apa karna jawabannya tadi atau karna Duke Elios mencintai Ariana dan tidak sanggup saat dirinya membentak Ariana? entahlah, sekali Duke Elios mengatakan tentang cinta. Dia tidak mempercayainya. Pikirannya masih melayang ke arah mana.


"Paman," Ujar Caroline.


"Diam ! jangan menyentuhnya." Bentak Ariana menepis tangan Caroline.


Ariana berteriak memanggil pelayan dan juga Ayahnya. Lain halnya dengan Caroline, ia merasakan khawatir. Akan tetapi sepertinya dia tidak di butuhkan di samping Duke. Apa lagi ada Ariana, tunangannya.


"Ada apa Ariana? kenapa Yang Mulia Duke bisa seperti ini?" tanya Baron Knight panik.


Tanpa mendengarkan jawaban Ariana. Emi membantu memapah tubuh Duke Elios bersama Baron Knight ke kamar lainnya. Duke Elios pun di periksa oleh Dokter istana dan mengatakan jika Duke Elios hanya kelelahan dan terlalu banyak pikiran.


Pada malam harinya.


Acara pesta telah selesai beberapa menit yang lalu dan Duke Elios masih belum sadarkan diri. Ariana menangis sesegukan di sampingnya dan menggenggam tangan Duke. Sesekali dia mengelus pipi Duke. Berharap Duke Elios segera sadar.


Caroline, ia juga sama halnya mengkhawatirkan Duke Elios. Pikirannya selalu mengarah pada perkataannya tadi. Ada rasa bersalah di hatinya, tapi pikirannya masih bingung. Apa Duke Elios benar-benar mendengarkan perkataannya atau karna memang faktor lainnya.


Dia ingin duduk si samping Duke Elios, tapi Ariana selalu menampakkan taringnya. Jadilah dirinya hanya mondar-mandir di belakang Ariana dan sesekali melihat ke arah Duke.

__ADS_1


"Caroline beristirahat lah, Yang Mulia Duke pasti segera sadar. Jangan khawatir." Ucap Baron Knight seraya menghampiri Caroline.


"Tapi Ayah.."


Caroline masih ragu meninggalkan Duke Elios.


"Benar yang di katakan Ayah, dia tidak butuh dirimu Caroline." Timpal Ariana tanpa melihat ke arahnya.


"Ariana jaga sikap mu." Baron Knight hendak menghampiri Ariana. Namun di cegah oleh Caroline yang menggelengkan kepalanya. Sebagai pertanda jangan membuat keributan.


Caroline mengalah, ia keluar dari kamar itu. Lagi pula perutnya juga lapar. Semenjak pesta tadi, dia tidak memakan apa pun.


Beberapa menit kemudian.


"Caroline." Satu kata itu keluar dari mulutnya, dia merindukan Carolinenya itu.


"Yang Mulia sudah sadar." Ariana tidak memperdulikan nama panggilan itu, dia hanya memperdulikan kesadaran Duke Elios.


"Dimana Caroline?" tanya Duke Elios, ekor matanya melihat ke seluruh kamar itu.


"Jangan mencarinya Yang Mulia. Dia tidak memperdulikan Yang Mulia. Saya lah yang menjaga Yang Mulia."

__ADS_1


Duke Elios mengernyitkan dahinya, "Aku tidak percaya pasti Caroline khawatir pada ku." Duke Elios beringsut, ia turun dari ranjangnya. Satu langkah saja, badannya sempoyongan hendak terjatuh. Dia kembali duduk di tepi ranjangnya. Lalu menggelengkan kepalanya, mengusir rasa pusing itu.


"Yang Mulia, sudah saya bilang Caroline tidak ada di sini. Dari tadi dia hanya bersenang-senang dengan pestanya." Ariana kembali bersuara seraya memegang lengan Duke Elios.


"Aku tidak percaya, Caroline tidak mungkin seperti."


"Kenapa Yang Mulia berkata seperti itu? apa Yang Mulia tadi mendengarkan percakapan kita?"


Duke Elios kembali mengingat kejadian tadi pagi. Benar, dia mendengarkan semuanya dan saat itu lah dia merasakan kesakitan lagi dan lagi. Duke Elios menunduk, tanpa terasa air matanya keluar.


Ariana tertegun, baru kali ini dirinya melihat Duke Elios menjatuhkan air matanya. Seumur hidupnya dan semenjak dirinya bertunangan dengan Duke Elios, dia tidak pernah melihat Duke Elios sangat menderita. Duke Elios yang terkenal kejam dan tidak takut pada kematian.


Seberarti itu kah dirinya untuk mu Yang Mulia batin Ariana.


"Caroline lebih memilih Ayah dari pada Yang Mulia. Orang yang merawatnya dari kecil."


"Cukup !" Duke Elios tidak mampu mendengarkannya lagi.


"Benar, aku lebih memilih Ayah dari pada Paman. Aku juga menginginkan kasih sayang dari Ayah. Selama ini aku dan Ayah hanya bertengkar dan saling membenci. Lalu apa aku salah mengharapkan kasih sayang itu, aku kira Paman tidak akan membutuhkan diri ku karna sudah ada Ariana. Apa lah diri ku Paman? aku hanyalah keponakan Paman yang di pungut di besarkan oleh Paman sementara nona Ariana adalah tunangan Paman." Timpal Caroline. Dia mondar mandir dari tadi dan mengintip di balik pintu, ingin tau Duke Elios sadar atau tidak, ia sangat yakin Ariana akan membuat drama lagi.


Dan untung saja setelah mengusir cacing di perutnya, ia langsung bergegas ke kamar Pamannya dan mendengarkan perkataan Ariana. Dugaannya benar, Ariana masih suka menghasut Pamannya itu.

__ADS_1


Kamu pikir hanya kamu yang bisa buat Drakor, aku juga bisa Ariana batin Caroline.


__ADS_2