
"Jangan membuat ide gila Ariana, apa kamu pikir hati Viscount Luis dan Paman bisa di permainkan?" Caroline tidak habis pikir dengan jalan pikiran Ariana. "Aku suka kamu yang bertengkar dengan ku Ariana, tapi tidak membuat permintaan konyol yang ujung-ujungnya harus memilih."
"Aku minta maaf Caroline. Aku egois, benar aku kalah dari mu sekarang, tapi bisakah.."
"Cukup Ariana !" bentak Caroline memalingkan wajahnya, "Aku tidak ingin membahasnya lagi. Terserah diri mu mau memutuskan pertunangan itu atau tidak, yang jelas ! Aku tidak ingin terlibat urusan pribadi mu."
"Caroline, bisakah kamu menerima ku sebagai keluarga mu, sebagai saudara mu." Ariana meremas gaunnya, tangannya gemetar. Ia tau, perbuatannya di masa lalu tidak akan semudah itu untuk di maafkan.
Caroline menghentikan langkah kakinya, "Bersungguh-sungguhlah kamu menyesalinya Ariana, karna tidak akan datang kedua kalinya." Balas Caroline kembali melangkahkan kakinya itu.
Kenapa rasanya harus sesakit ini batin Ariana seraya meremas dadanya itu.
Selama di perjalanan, Caroline hanya menatap kosong ke depan. Pikirannya tidak karuan, dia tidak mungkin meninggalkan Viscount Luis. Apalagi dirinya akan sebentar lagi menikah. Ya, sudah satu hari berlalu dan besok dia harus kembali. Dua hari lagi pernikahannya akan di gelar.
Caroline mendesah, apa ini benar jalan hidupnya layaknya dunia novel yang harus memilih salah satunya?
"Caroline."
"Paman, kenapa bisa ada di sini?" Caroline berlari kecil menuju ke arahnya melihat Duke Elios yang di papah oleh Emi.
"Aku tidak apa-apa, aku hanya khawatir saja." Duke Elios meraih kedua tangan Caroline, sedangkan Emi menjauh beberapa meter dari kedua orang itu.
"Caroline untuk beberapa hari ini ikutlah Paman ke kediaman Duke. Paman ingin menghabiskan waktu Paman dengan mu. Ya, setidaknya..."
__ADS_1
"Baiklah, hari ini kita akan pindah ke kediaman Duke. Caroline akan menuruti permintaan Paman." Potong Caroline dan tersenyum.
Duke tersenyum di iringi air mata yang mengalir di pipinya. Kebahagiaan yang tak pernah dia dapatkan, setidaknya sebelum Caroline benar-benar meninggalkannya akan ada kenangan yang akan menemaninya.
"Emi, siapkan kereta. Kita akan pulang." Perintah Duke Elios.
Emi pun melaksanakan perintah Duke Elios. Kini Caroline dan Duke Elios berpamitan pada Baron Knight dan Ariana yang baru saja tau, jika mereka akan pindah.
"Baron Knight terimakasih telah memberi ku tumpangan." Ujar Duke Elios.
"Tidak masalah ! kamu lah orang yang merawat putri ku. Memberikan nyawa ku saja tidak akan cukup rasa terimakasih ku pada Yang Mulia Duke." Balas Baron Knight terkekeh seraya mengalihkan pandangannya ke arah Ariana.
"Ariana apa ada yang ingin kamu bicarakan pada Yang Mulia Duke?"
Duke Elio lega, Ariana menerima keputusannya itu. Jika pun dia tidak bisa bersama dengan Caroline. Setidaknya dia bisa membatalkan pertunangannya. Anggaplah dia laki-laki yang egois. Dulu sangat mempertahankan Ariana, tapi sekarang dia lah yang melepaskannya saat Ariana ingin mempertahankannya.
"Aku minta maaf tidak bisa menjadi tunangan yang baik untuk mu Ariana. Kamu perempuan baik dan sudah pasti mendapatkan laki-laki yang baik." Ujar Duke Elios tersenyum.
Ariana menggigit bibir bawahnya, air matanya keluar tanpa seijinnya. Mungkin, mungkin inilah yang terbaik untuknya. Semenjak hari itu, dia sudah merasa Duke Elios memilih Caroline dan selamanya akan memilih Caroline.
"Aku ingin kalian bahagia."
Duke Elios melihat ke arah Caroline yang hanya diam mendengarkannya tanpa menjawab atau pun menimpalinya. Perkataan Ariana membuatnya sakit, Caroline tidak akan menerimanya. Dia akan menikah dengan laki-laki yang lebih baik dari pada dirinya.
__ADS_1
"Aku akan bahagia, jika Caroline bahagia. Baiklah aku harus pergi." Duke Elios memberikan penghormatan di ikuti Caroline.
Baron Knight memberikan penghormatan itu, ia berharap Caroline memilih Duke Elios.
"Ayo Caroline."
Selama di perjalanan, Duke Elios hanya bisa melihat Caroline yang mendiaminya. Dia tau, Caroline tengah terusik perkataan Ariana.
"Caroline jangan memikirkan perkataan Ariana. Anggap saja, tidak ada.."
"Paman, apa Paman bisa bahagia tanpa Caroline?"
Duke Elios menunduk, ia mengepalkan tangannya. Perkataan itu sudah pasti jawabannya tidak.
Caroline berjongkok di depan Duke Elios, ia melihat air bening itu sudah keluar.
"Paman, berjanjilah. Paman akan bahagia walaupun tidak bersama Caroline." Caroline membantunya menghapus air bening itu.
Duek Elios hanya mengangguk dan menangis, Lalu memeluk tubuh Caroline. Dia mengeluarkan rasa sakitnya di pelukan wanita yang kini ia cintai.
"Aku berjanji akan bahagia selama kamu bahagia. Paman akan sering mengunjungi mu di kediaman Viscount."
"Baiklah Paman," jawab Caroline mengangguk.
__ADS_1