
Sepanjang malam Duke Elios dan Viscount Luis tidak tidur. Kedua laki-laki itu, kadang sama-sama menatap lalu terkekeh. Mereka tidak bisa menumpahkan rasa kebahagiaannya itu.
Duke Elios pun dan Viscount Luis berjaga di dalam kamar Caroline. Mereka silih bergantian, takut baby Elca terbangun dan menangis.
"Sayang sudah bangun." Ujar Duke Elios melihat baby Elca yang terbangun. Ia meraih bayi mungil itu di dalam box. Menatap lekat wajah bayi itu, sangat persis seperti Viscount Luis.
Duke Elios melihat ke arah Viscount Luis. Baby Elca bagaikan pinang yang di belah dua. Ia merasa sedih wajahnya tidak ada keturunan dari Caroline.
"Sayang tidur lah. Ibu mu dan Ayah mu sudah tidur." Ujar Duke Elios tersenyum.
Beberapa menit kemudian.
Baby Elca memejamkan matanya, dengan hati-hati ia menaruh baby Elca ke dalam keranjang bayi itu. Duke Elios duduk di samping keranjang bayi itu. Mendorongnya dengan pelan sampai baby Elca tertidur sangat pulas.
Duke Elios menguap, ia menjatuhkan kepalanya di pinggir keranjang itu. Lalu mengikuti mimpi baby Elca.
Matahari telah melewati jendela, burung pun telah bernyanyi dengan merdunya. Mata itu pun terbuka. Ia beringsut turun dari ranjangnya itu. Matanya menangkap sosok suaminya yang tertidur di sofa. Dengan tertatih-tatih ia menarik selimutnya, memakaikannya pada tubu suaminya itu.
Caroline beralih, ia melihat seorang laki-laki yang tengah tertidur pulas di samping keranjang bayi laki-laki itu.
__ADS_1
Caroline menuju ke arah lemari dengan tertatih-tatih. Ia berjalan sangat pelan. Areanya masih sakit setelah melahirkan. Caroline mengambil selimut itu, lalu memakaikannya pada Duke Elios.
"Pasti lelah Ya Paman. Maaf membuat mu menjaga baby Elca." Ujar Caroline merasa bersalah. Ia mengelus pipi bayi itu.
"Caroline." Sapa serak itu. Duke Elios membuka matanya. "Kamu sudah bangun, Paman akan mengisi bathub mu dengan dengan air hangat." Ujar Duke Elios, ia menaruh selimut itu di sofa. Sekilas ia melihat Viscount Luis yang tertidur.
"Paman. Terimakasih," Duke Elios menghentikan langkah kakinya. Dia memutar badannya itu, "Aku sudah bosan mendengarkannya." Ujarnya terkekeh lalu melanjutkan langkahnya kembali.
Paman sebesar apa cinta mu pada ku? sampai kamu mengurus baby Elca layaknya anak sendiri. Seharusnya kamu pergi Paman, tidak disini. Jangan biarkan aku menyakiti mu batin Caroline.
Caroline melihat ke arah Viscount. Tidak tega melihat wajah pucat suaminya itu. Sudah lama dia tidak menyentuh Caroline semenjak hamil. Bahkan dia tidak pernah memintanya lagi. Namun perhatiannya, tidak pernah pudar.
"Hah baby Elca." Ujar Viscount Luis yang langsung beringsut.
"Sayang, cup cup. Ini Ibu Nak." Ucap Caroline seraya menggendong baby Elca. Ia duduk di tepi ranjangnya. Lalu membuka salah satu benda kenyal itu. Baby Elca dengan cepat ia menyesapinya, layaknya bayi lapar.
"Sayang, dia sangat lapar sekali." Viscount Luis tertawa melihat baby Elca yang sangat rakus mengemut benda kecil yang menghitam itu.
"Elca sangat mirip dengan mu sayang. Aku kira, aku dia juga mirip dengan ku."
__ADS_1
"Siapa yang membuatnya sayang, tentu saja harus mirip dengan ku." Ujar Viscount Luis. Ia mengusap lembut kepala baby Elca. Setelah di rasa kenyang. Caroline menarik benda kenyal di mulut baby Elca.
"Caroline ini sudah siap." Duke Elios langsung menerobos masuk, ia tersenyum kikuk melihat Viscount Luis dan Caroline menatapnya.
"Biar aku saja kamu cepat lah mandi." Ujar Duke Elios seraya mengambil baby Elca.
Caroline pun menuju ke kamar mandinya di ikuti kedua pelayannya itu.
Duke Elios menimang-nimang bayi itu. Hatinya amat bahagia. Dia juga merasakan menjadi seorang Ayah. Bukan maksudnya ingin merebut Caroline atau apa lah. Akan tetapi dia melakukan semua ini dengan tulus, ia sudah pasrah dengan takdirnya itu.
"Heh, Viscount. Lihatlah Putra mu tersenyum pada ku." Ujar Duke Elios tanpa melihat ke arahnya.
"Hah, sepertinya keputusan ku salah. Mungkin suatu hari nanti. Putra ku akan lebih dekat dengannya." Gumam Viscount Luis tersenyum.
"Sayang kenapa kamu mengompol di baju ku."
Seketika Viscount Luis tertawa lepas. Melihat baju Duke Elios yang sudah basah. "Sepertinya dia membenci mu."
"Ck, dia tidak membenci ku. Justru mencintai ku." Cibir Duke Elios yang merasa kesal karena di tertawakan.
__ADS_1