Sakit! Paman, Duke

Sakit! Paman, Duke
Tamparan dari Baron Knight


__ADS_3

Ke esokan harinya.


Caroline mengerjapkan matanya, ia mengucek matanya dan melihat kanan kiri. Caroline beranjak duduk ia memandang lekat laki-laki yang berada di sampingnya dengan tidur di tepi ranjang dalam posisi duduk.


"Hah, kenapa dia tidur di sini?" tanya Caroline menerka-nerka. Padahal dirinya tidak sakit dan tidak membutuhkan penjagaan. Seharusnya dialah yang tidur di kamarnya. Bukan malah menjaganya.


Caroline menyandarkan punggungnya ke sisi ranjang. Matanya masih menatap lekat laki-laki itu.


"Nona." Ujar Mia dan Kenan di ambang pintu. Caroline memberikan kode agar mereka diam tak membangunkan laki-laki di sampingnya.


"Ada apa?" tanya Caroline sedikit berbisik.


"Sarapan sudah siap," jawab Kenan sambil melirik Baron Knight.


"Tolong ambilkan selimut." Perintah Caroline.


Mia mengangguk, ia menuju ke lemari di depan ranjangnya. Lalu mengambil selimut putih itu dan menyelimuti tubuh Baron Knight dengan hati-hati.


Dengan hati-hati Caroline turun, akan tetapi getaran ranjang itu membuat Baron Knight terbangun. "Caroline," sapa Baron Knight melihat Caroline di tepi ranjang. "Kamu sudah bangun Nak. Maaf jika Ayah membuat mu tak nyaman dan mengusik tidur mu." Ujar Baron Knight.


"Ayah pergi saja, kamu istirahat dulu." Baron Knight melihat tubuhnya di selimuti, ia melirik Caroline. Apa benar Caroline masih peduli padanya. Bukankah hatinya sangat membenci dirinya.


"Aku yang menyuruh Mia untuk menyelimuti Baron. Istirahat lah dulu. Nanti Caroline yang akan mengantarkan sarapan untuk Baron." Ucap Caroline seraya turun dari ranjangnya dan merapikan baju tidurnya.

__ADS_1


"Caroline, Ayah sudah tidak apa-apa."


"Jangan memaksakan diri, lebih cepat sembuh lebih cepat aku pulang."


Baron Knight menunduk, Caroline masih memanggilnya dengan sebutan Baron bukan Ayah. Hatinya menginginkan Caroline memanggilnya sebutan Ayah walaupun hanya satu kata atau hanya satu panggilan. Hatinya mungkin terlalu berharap, Caroline tidak akan memanggilnya sebutan menjijikkan itu.


"Caroline boleh Ayah meminta sesuatu."


Caroline mengangguk, "Apa?"


Baron Knight ragu, apakah Caroline mau menurutinya atau malah semakin membencinya. "Bisakah Caroline memanggil ku dengan sebutan Ayah."


Caroline mengembangkan mulutnya, "Mudah hanya saja kalimat itu tidak mau keluar dari mulut ku. Eh, maaf maksudnya hati ku. Cepatlah sembuh aku ingin secepatnya pulang." Ujar Caroline seraya menuju ke kamar mandi di ikuti Kenan.


Setelah selesai mandi, Caroline memikirkan sesuatu, ia tidak mungkin menggunakan baju tadi malam. Sementara dirinya tidak membawa baju satu pun dari kediamannya. Tidak mungkin juga ia harus meminjam baju dari Ariana. Bisa iritasi kulitnya.


"Kenan, kamu tidak menyiapkan baju untuk ku. Lah aku harus bagaimana?"


"Tenang saja nona. Pelayan kediaman Baron sudah menyiapkan baju ganti untuk Nona?"


"Pengertian." Caroline keluar dari Bathubnya. Aroma bunga mawar itu melekat di tubuh mungil, putih dan mulusnya.


"Nona ini baju ganti untuk nona." Ujar salah satu pelayan. "Dan sarapan pagi sudah siap." Sambungnya lagi.

__ADS_1


Caroline di bantu oleh Mia dan Kenan untuk merias diri. Setelah selesai, Caroline keluar dari kamarnya. Matanya masih saja mengedarkan ke segala penjuru arah di ruangan itu. Rasanya ia belum puas melihat-lihat.


"Kapan kamu akan pulang?" tanya seorang wanita yang muncul di belakang Caroline.


"Apa maksud mu? Baron Knight juga Ayah ku." Ujar Caroline tersenyum sinis, ia sangat suka mengusik Ariana. Lebih tepatnya lagi saat Ariana akan mengeluarkan tanduknya.


"Dia memang Ayah mu, selamanya juga bukan Ayah mu."


"Tapi sayang, di dalam tubuh ku mengalir darah Baron Knight."


Ariana merasa geram, ia ingin melayangkan tangannya menampar Caroline. Tetapi di hentikan oleh seseorang.


"Hentikan Ariana, Ayah sudah beberapa kali bilang pada mu. Jika kamu melayangkan tangan mu ini. Ayah pastikan, Ayah tidak akan menganggap mu sebagai Putri Ayah." Ujar Baron Knight menatap tajam ke arah Ariana.


"Kenapa Ayah melakukan itu? apa karna aku bukan terlahir dari wanita yang di cintai Ayah."


"Benar, kamu memang darahku. Tapi kamu lahir karna kebodohan ku."


"Kenapa Ayah setega itu pada Ariana, Dia memang anak Ayah, tapi sayang dia lahir tanpa pernikahan."


plak


Tepat perkataan itu keluar dari mulut Ariana. Secara bersamaan tangan Baron Knight melayangkan tanganya. "Tutup mulut mu Ariana." Ucap Baron Knight dingin.

__ADS_1


Sementara Caroline menutup kedua mulutnya dengan tangannya. Sungguh di luar dugaan ia merasa senang Ariana di tampar oleh Baron Knight. Awalnya dia yang ingin turun langsung. Dan sekarang tangannya tak perlu repot-repot membasmi virus di depannya itu. Alngkah baiknya jika ia lebih lama tinggal di rumah Baron Knight. Setiap harinya pasti menerima tontonan yang gratis.


__ADS_2