
"Jadi Baron Knight menghinanya juga," bibi Roseline mengepalkan tangannya, dulu ia mengira Caroline bahagia bersama dengan Duke Elios, tapi setelah mengetahui kebenarannya ia sungguh menyesal. Kali ini di lubuk hatinya yang paling dalam bertekad, tidak akan membiarkan Caroline bersedih. Bahkan ia merencanakan mencarikan Caroline jodoh yang pas untuknya.
"Nyonya."
Bibi Roseline menoleh, ia melihat laki-laki yang ia kenal dan tersenyum lebar. Lalu membungkuk hormat. Bibi Roseline menaikkan salah satu alisnya, tidak biasanya tuan muda Viscount mendatangi rumahnya. Biasanya mereka akan bertemu di kediaman Viscount setelah selesai membahas bisnis.
"Ada apa tuan muda?" tanya Bibi Roseline ramah.
"Saya hanya ingin membahas bisnis kita," Ucap Viscount Luis seraya melirik ke arah Caroline.
Bibi Roseline mengikuti lirikan Viscount Luis, sesekali ia melirik mata Viscount Luis, sepertinya dia tertarik dengan Caroline.
"Apa tuan muda ingin saya memperkenalkan dengan nya?"
"Ah, boleh." Jawab Viscount Luis dengan gugup. Seiringnya dengan langkah, seiring pula detak jantung Viscount Luis tak beraturan, dadanya terasa sesak. Semakin dirinya mendekat dengan Caroline, tubuhnya terasa tidak bernafas.
"Caroline," sapa Bibi Roseline dengan lembut.
"Iya Bibi." Jawab Caroline berdiri dan menoleh. Tatapannya beralih ke arah laki-laki yang tersenyum ramah ke arahnya.
"Kenalkan dia Viscount Luis,"
"Saya Caroline, senang bertemu dengan anda tuan muda." Ucap Caroline membungkuk.
__ADS_1
"Ekhem, saya Luis." Bibi Roseline sekali lagi melirik Viscount Luis, ia benar-benar yakin. Laki-laki di sampingnya menyimpan rasa untuk Caroline. Tidak seperti biasanya sikap Viscount yang terkenal dingin dan datar tiba-tiba bersikap ramah.
"Caroline, bibi menyiapkan kue untuk kalian. Jadi temanilah tuan muda untuk berbincang-bincang." Ujar bibi Roseline buru-buru pergi.
Hening dan hening, hanya ada suara angin yang memecahkannya. Caroline dan Viscount sama-sama diam. Mereka tidak tau harus memulai percakapan dari mana. Ada rasa gugup di antara keduanya. Caroline pun tersenyum terpaksa, ia mengumpat serapah di dalam hatinya. Bisa-bisanya bibinya meninggalkan dirinya dan laki-laki asing di depannya ini.
Awas saja bibi.
"Kemana Bibi?" tanya Roseline melihat ke arah pelayan yang membawa kue dan buah.
"Maaf nona, Nyonya sedang ada urusan."
Caroline memutar bola matanya, hatinya bertambah kesal dan ingin secepatnya pergi.
"Tidak ada." Jawab Caroline singkat dan padat.
Merekapun berbincang-bincang diselangi canda tawa. Sesekali Caroline mengekspresikan apa yang ia bicara membuat Viscount Luis terkekeh. Wanita di depannya benar-benar menarik perhatiannya. Dia ingin bertambah dekat dengan Caroline dan berencana melamar Caroline.
"Seperti ini saat Mia marah?" Caroline mengekspresikan mata membulat.
Viscount Luis pun tertawa geli, hilang sudah wajahnya yang garang dan datar.
"Apa saya mengganggu waktu tuan Viscount dan Caroline?" tanya bibi Roseline.
__ADS_1
"Ah iya, hampir lupa. Aku tinggal dulu tuan Viscount karna harus menyiapkan keperluan besok." Ucap Caroline membungkuk hormat.
Tuan Viscount Luis tersenyum mengangguk, matanya tidak pernah lepas melihat punggung Caroline dan Mia yang mulai menjauh.
"Nyonya, aku ingin melamar Caroline." Ujar Viscount Luis.
Bibi Roseline terkekeh, "Apa tuan Viscount sudah tidak sabar? tenang saja tuan, Caroline pasti menerima tuan."
"Aku berharap begitu Nyonya. Melihatnya aku merasa dia berbeda dari wanita lainnya. Aku pergi dulu Nyonya karna masih ada urusan pekerjaan dan nanti aku akan mengirimkan hadiah untuk nona Caroline." Ucap Viscount Luis.
"Tuan Viscount mau kemana?" Caroline muncul tepat di belakang Tuan Viscount, ia menyesal telah pamit. Seharusnya tadi ia tidak buru-buru pergi.
Lain halnya dengan kedua pengawalnya yang menahan geli melihat kekonyolan sang majikan. Tadi ia buru-buru pergi dan sekarang nona Caroline muncul, malah bingung mencari alasan agar tidak pergi. Sungguh kekonyolan yang langka bagi mereka.
"Em," Viscount Luis terlihat kebingungan ingin menjawab apa. "Apa nona sudah selesai dengan urusan nona?" kilah Viscount Luis.
"Ah itu, tadi aku hanya mengecek saja buat keperluan besok ternyata sudah selesai. Aku harus kembali ke kediaman Baron. Ya, untuk menghadiri pertunangan Pangeran Oskar."
"Apa nona akan lama disana?" tanya Viscount Luis di iringi wajah yang terlihat murung.
"Ah, tidak. Selesai acara, aku akan segera kembali ke sini."
"Baiklah, bisakah nona Caroline meluangkan waktunya kembali. Ya, setidaknya kita harus meluangkan waktu."
__ADS_1
"Ekhem, baiklah. Saya permisi dulu tuan Viscount." Ucap Bibi Roseline berlalu pergi. Dia tidak ingin mengganggu acara mereka berdua. Dan lebih memilih mengecek tokonya di Ibu Kota.