
Kini sore telah berganti malam. Matahari telah di gantikan oleh bulan. Angin segar malam tengah menyapa seorang wanita yang sangat fokus melihat ke arah langit. Gadis itu mengingat percakapannya tadi. Dia ingin bahagia tapi sayang dia takut, sangat takut, sampai dia tak berani mencintainya.
Tangan satunya masih menyilang, sementara tangan satunya memijat pelipisnya itu.
"Bagaimana dia berkata, iya. Sementara dirinya takut dan akan merasa bersalah."
"Caroline apa pun yang terjadi, aku tidak ingin kamu memaksa ku menikah dan membahasnya lagi. Jika kamu ingin melihat aku bahagia, maka cukup bahagiakan dirimu, itu sudah cukup bagi ku."
"Paman, paman tidak bisa mengambil keputusan itu, Paman harus memiliki seorang pewaris." Ujar Caroline.
"Maka Paman akan mengadopsi seorang anak,"
"Paman !" bentak Caroline. Bukanya dia tak suka Pamannya mengadopsi anak orang lain. Apa lagi anak yatim piatu, tapi reputasi Pamannya pasti hancur. Semua bangsawan di Kekaisarannya hanyalah memandang politik dan politik demi memperkuat kekuasaanya.
"Sudahlah Caroline, Paman tidak ingin membahasnya." Duke Elios mengalihkan pandangannya ke langit. "Caroline apa Paman memang tidak bisa bersama mu?"
"Tidak bisakah kita bersama Caroline, tidak bisakah kita memiliki keluarga dan memiliki anak." Duke Elios beralih ke sampingnya.
"Paman mencintai mu Caroline," Duke Elios memeluk Caroline.
"Jika Paman tau aku bukan Caroline yang asli, apa Paman akan mencintai ku?" tanya Caroline dengan suara bergetar. Dia takut, Duke Elios akan menuduhnya seorang pembunuh.
"Aku bukanlah Caroline yang asli, aku berasal dari dunia lain." Sambungnya lagi, Duke Elios melepaskan pelukannya dia menatap lekat Caroline. Apa yang di katakan Caroline tentang dunia lain, apa itu dunia lain. Tetapi melihat bola mata Caroline, sepertinya dia serius.
"Caroline, kamu itu Caroline bukan orang lain. Ya, tetap Caroline."
__ADS_1
"Aku memang Caroline, tapi aku berbeda. Yang jelas aku bukan Caroline yang asli." Bentak Caroline.
"Dengar kamu itu Caroline."
"Apa Paman tak merasa sikap ku berbeda? apa Paman tidak pernah bertanya atau terfikirkan di benak Paman?"
Duke Elio memundurkan langkahnya, benar sikap Caroline berbeda. Itu lah yang membuat dirinya tertarik pada Caroline sekarang. Tapi wajah itu. "Lalu Caroline yang asli ada di mana? apa yang kamu perbuat padanya?" tanya Duke Elios dengan tatapan menyelidik.
"Aku tidak tau, tiba-tiba aku sudah terbangun di tubuh ini."
"Aku mengalami kecelakaan pada waktu itu dan nama ku adalah Cyra."
"Aku hanya ingin menanyakan dimana Caroline yang asli, jawab !" Bentak Duke Elios, ia tidak menyangka tubuh Caroline ada jiwa asing. Lalu di mana keponakan aslinya sekarang.
"Ikut aku," Duke Elios menarik kasar lengan Caroline. Dia akan membawa ke suatu tempat rahasia. Dimana kebenaran akan terungkap.
Duke Elios meraih kuda Emi, dia membantu Caroline menaiki kuda itu. Sementara Caroline hanya mengikutinya saja. Dia tidak ingin membohongi Duke Elios. Dia mencintai Caroline bukan dirinya Cyra.
"Yang Mulia mau ke.." Emi melongo, baru kali ini Duke Elios mengabaikannya tanpa menjawab iya atau tidak.
Kuda itu pun melaju sangat kencang. Setelah melewati Ibu Kota. Mereka melintasi sebuah sungai. Ya, kini mereka sudah memasuki sebuah hutan. Kabut putih itu menyelimuti hutan itu. Pohon besar dan tinggi, jika di dunianya mungkin pohon itu di huni oleh hantu. Caroline meneguk salivanya, dia melihat sekelilingnya sangat menyeramkan.
Sampailah mereka di sebuah gubuk, tapi gubuk itu bersih seperti ada seseorang yang menempatinya.
"Turun !"
__ADS_1
Ucapan itu membuat Caroline bertambah takut dan merinding. Dia pasrah jika harus mati saat ini juga. Mungkin kehidupan keduanya tidak beruntung.
Duke Elios menarik lengan Caroline sampai mereka memasuki gubuk itu. Gubuk itu bersih tanpa debu sedikit pun, terlihat foto usang dan sebuah kursi yang terbuat dari kayu dan satu meja. Di dinding kayu itu terdapat sebuah lukisan seorang wanita.
"Ada apa kamu datang ke sini?"
Caroline melihat sekelilingnya, tubuhnya semakin bergetar.
"Tanpa basa basi lagi. Aku meminta pertolongan mu. Di tubuh wanita di samping ku, apakah ada jiwa lain?"
krek
Pintu itu terbuka, memperlihatkan seorang pria paruh baya yang tersenyum.
Pria paruh baya itu mendekati Caroline dan Duke Elios. Sejenak dia melihat Caroline dari atas ke bawah. Pria paruh baya itu tidak berkata apa pun. Dia menjulurkan tangannya, kemudian. Entah sihir mana, Caroline menerima tangan itu.
Silau sebuah cahaya keluar dari tubuh Caroline. Kedua laki-laki itu terdiam. Wanita di depannya jauh lebih cantik dari Caroline, mulut mungil, hidung mancung dan bola mata yang biru. Serta bulu mata yang lentik. Rambutnya bergerai dengan kriting gantung.
Duke Elios terpana akan kecantikannya, tetapi dia langsung menyadarkan lamunannya. Yang terpenting sekarang adalah Caroline bukan kecantikan wanita di depannya itu.
"Dimana Caroline?" bentak Duke Elios.
"Jangan menyalahkannya, dia tidak tau apa-apa. Mungkin Caroline mu sudah tenang disana." Timpal pria paruh baya itu.
Seketika Duke Elios tubuhnya lemas dan terjatuh ke lantai. Dia tidak percaya, semua ini seperti mimpi. Caroline tidak mungkin meninggalkannya.
__ADS_1