
Keesokan harinya.
Terlihat seorang laki-laki turun dari tangga, ia duduk seraya melihat roti dan segelas susu serta teh. Ia melihat tempat duduk di sampingnya. Biasanya seorang gadis akan duduk di tempat itu. "Panggil Caroline !" perintahnya.
"Baik Yang Mulia." Ucap ketua pelayan membungkuk hormat.
Pelayan itu pun menuju ke lantai atas, ia mengetuk pintunya, dalam sekali ketukan pintu itu terbuka. Saat hendak berbicara ia mendengarkan suara Kenan dan Mia.
"Hah, ternyata mereka sudah membangunkan nona." Ucapnya berjalan masuk.
"Nona bangun, Yang Mulia Duke sudah menunggu nona. Bagaimana jika nona di hukum." Ucap Kenan seraya melirik Mia. Mereka tidak tau lagi harus membangunkan Caroline. Sedari tadi mereka sudah berceloteh meminta Caroline untuk bangun.
"Sudah aku bilang, aku tidak ingin makan. Cepat pergi. Aku mau istirahat." Ujar Caroline di balik selimutnya. Ia berniat mogok makan, dengan cara ini im Duke Elios akan membebaskannya.
"Nona, sebaiknya nona makan. Yang Mulia Duke sudah menunggu nona." Timpal pria paruh baya menatap tubuh Caroline yang terbungkus dengan selimut.
"Aku sudah bilang, aku tidak mau makan. Sebelum Paman membebaskan diriku." Teriaknya.
Ketua pelayan membungkuk hormat dan berlalu pergi. Ia akan menyampaikan sesuai permintaan Caroline.
"Yang Mulia, nona Caroline tidak mau makan."
Duke Elios seketika menggebrak meja itu, ia menatap tajam ke arah ketua pelayan yang ketakutan. "Apa maunya dia? kenapa kamu tidak bisa membujuknya." Bentak Duke Elios melangkahkan kakinya menuju ke kamar Caroline.
__ADS_1
Ketua pelayan mendonggakkan wajahnya menatap punggung Duke Elios sambil memperbaiki kaca matanya.
"Itu salah Yang Mulia menghukum nona Caroline seperti itu. Kenapa jadi aku yang harus kenak getahnya." Lirihnya.
"Caroline bangun, makan sarapan mu. Jangan seperti ini." Bentak Duke Elios.
Sementara Kenan dan Mia merasa kasihan. Duke Elios tidak pernah membentak Caroline seperti itu.
"Apa kamu kira dengan seperti ini, Paman akan melepaskan mu, hah?" Duke Elios duduk di tepi ranjang Caroline, ia mengusap kasar wajahnya. Dalam hatinya ia tidak tega memarahi Caroline bahkan menghukumnya, tapi semua yang ia lakukan hanya bermaksud mengajarinya agar tidak pulang malam atau keluar malam.
"Kalian keluarlah, aku akan bicara dengan Caroline."
"Ba-baik Yang Mulia." Ujar Kenan dan Mia seraya membungkuk hormat.
"Caroline kenapa kamu seperti ini? Paman hanya khawatir pada mu. Semenjak kecil, Paman selalu menjaga mu. Paman tidak ingin terjadi sesuatu pada mu Caroline. Kali ini tolong mengerti." Lirihnya dengan wajah sendu.
Saat mengatakan kata itu, degupan jantung Duke Elios semakin cepat.
"Ada apa ini?" Duke Elios memegang dadanya.
Caroline membuka selimutnya dan mengernyitkan dahinya melihat Duke Elios yang memegang dadanya.
"Paman menyayangi ku, tapi aku tidak suka di kekang." Ucap Caroline seraya bangun dari tidurnya.
__ADS_1
Segera Duke Elios menetralkan tubuhnya kembali. Semoga saja Caroline tidak mendengarkan degupan jantungnya. "Paman melakukan semua itu demi kebaikan mu Caroline. Seorang gadis keluar malam tanpa ada pengawasan itu tidak baik." Ucap Duke Elios lembut. Ia mengusap kepala Caroline dan tersenyum. "Cobalah mengerti Paman. Paman tidak membenci mu, bahkan Paman sangat menyayangi mu, Caroline."
Caroline menatap bola mata Duke Elios, tidak ada kebohongan di matanya. Lalu memalingkan wajahnya. "Lepaskan Caroline. Caroline tidak mau di kurung."
"Baiklah, kali ini untuk yang terakhir kalinya." Duke Elios mengecup kening Caroline dan menarik ujung hidungnya. Ia rindu apa yang dulu ia lakukan pada Caroline, tapi tindakannya kali ini lebih bahagia dari pada sebelumnya.
"Paman memang baik dan tampan." Cerocos Caroline membuat Duke Elios bersemu merah, ia mengelus pucuk kepala Caroline.
"Paman akan membawa sarapan untuk mu."
Duke Elios hendak pergi, namun di hentikan oleh kedatangan salah satu Kesatrianya.
"Yang Mulia, Pangeran Oskar ingin bertemu dengan Caroline."
"Apa Pangeran?" Caroline hendak turun, ia ingat tadi malam langsung pulang tanpa ijin dulu dan membuatnya merasa bersalah. Seharunya ia tidak membuat khawatir Pangeran Oskar. Pasti malam itu Pangeran Oskar mencarinya.
"Biar Paman yang menemuinya. Kamu tunggu di sini." Ucap Duke Elios datar.
"Tapi Paman.."
"Caroline, jika kamu melanggar perintah Paman. Kali ini hukuman mu akan bertambah." Ucap Duke Elios seraya melangkah kan kakinya keluar dari kamar Caroline.
"Apa sih maunya dia?"
__ADS_1
Caroline tidak habis pikir, baru saja Pamannya bersikap lembut dan sekarang malah ia bersikap kasar dan yang lebih menyeramkan lagi dia melarang untuk bertemu dengan Pangeran Oskar. Padahal dirinya ingin minta maaf.
"Shit, aku tarik ucapan ku ." Pekik Caroline seraya memukul kasur di sampingnya.