
"Caroline apa benar kamu akan kembali ke kediaman Baron Knight?" tanya Viscount Luis.
"Tunggu saja Viscount, aku pasti cepat kembali." Ujar Caroline. Viscount Luis melihat ke arah belakang Caroline, Duke Elios, Baron Knight, bibi Roseline dan yang lainnya sedang menunggu percakapan mereka.
"Baiklah cepat kembali, maaf kali ini aku tidak bisa menemani mu, dan ya jaga kesehatannya. Jangan terlalu dekat padanya." Ucap Viscount Luis memeluk Ava.
Setelahnya Ava menaiki kereta bersama Duke Elios. Sementara yang lainnya menaiki kereta masing-masing. Ava ragu satu kereta dengan Duke Elios tapi karna Duke Elios memohon. Ia pun mengangguk karna rasa kasihan.
"Caroline." Duke Elios memecahkan kegugupan dan keheningan di dalam kereta itu.
"Iya Paman." Jawab Caroline beralih melihat ke arahnya. Dari tadi ia hanya memandang keluar, ia juga merasa gugup. Tidak tau harus berbicara apa.
"Kamu lelah, tidurlah. Setelah sampai Paman akan membangunkan mu." Duke Elios kembali membuang wajahnya ke arah luar jendela.
Caroline memang sudah merasakan ngantuk sejak tadi. Ia mengucek matanya. Sudah tiga jam kereta itu melaju tanpa berhenti. Caroline menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi itu. Perlahan-lahan mata itu terpenjam lalu menuju ke alam mimpinya.
__ADS_1
Lima menit telah berlalu, Duke Elios melirik Caroline. Lalu menghembuskan nafas kasarnya dan beralih tempat duduk. Untung saja tempat duduk kereta Duke lebih luas sehingga lebih nyaman untuk duduk berdua. Pelan-pelan Duke Elios menyandarkan kepala Caroline ke pundak. Sejenak ia berfikir, ia takut Caroline merasakan sakit di kepalanya dan lehernya. Duke Elios pun memindahkan kepala Caroline ke dadanya lalu mendekapknya.
Mata Duke Elios berkaca-kaca sampai air mata itu turun membasahi pipinya, jika boleh meminta, satu kata yang ingin hatinya pinta 'Waktu berhentilah, aku masih ingin bersama dengannya'
Duke Elios memejamkan matanya, ia menghirup aroma wangi tubuh yang selama ini ia rindukan.
"Caroline maaf jika Paman egois,"
Duke Elios melihat wajah Caroline yang sangat pulas, ia mendekatkan bibirnya ke bibir Caroline. Mencium dan ******* bibir itu walaupun hanya sesaat.
"Maaf Caroline, Paman akan selalu mengingat ciuman ini." ujarnya mengeratkan pelukannya itu.
Caroline mendonggakkan wajahnya, "Paman." Caroline melepaskan pelukan Duke Elios.
"Ada apa? apa Paman mengganggu mu?" tanya Duke Elios merasakan takut karna telah lancang memeluknya.
__ADS_1
"Tidak ada Paman aku hanya ngantuk." Duke Elios tersenyum lega, ia kembali menarik Caroline ke dalam pelukannya. "Tidurlah."
Tak butuh waktu lama, akhirnya Caroline kembali ke dalam mimpinya.
Tepat pukul sembilan malam, perjalanan yang mereka tempuh telah sampai di kediaman Baron Betright. Duke Elios menggendong tubuh Caroline dengan hati-hati. Bibi Roseline dan Baron Knight tak bisa menegurnya. Mereka paham Caroline sangat kelelahan dan butuh ranjang empuknya.
Duke Elios membaringkan tubuh Caroline, ia menarik selimutnya sampai di dada. Lalu menyingkapi rambut yang mengusik di wajahnya itu. Duke Elios duduk di tepi ranjang Caroline, ia mengusap wajahnya frustasi.
Dulu wajah itu, wajah yang ia sayangi tapi hanya sebatas Keponakan dan Paman. Tetapi melihat perubahan Caroline yang sangat melawannya. Membuatnya tertarik dengan sifat yang di miliki Caroline saat ini. Hidupnya kali ini di buat gila oleh wanita yang pernah dia tolak mentah-mentah.
"Caroline, sebenarnya apa yang kamu miliki? kamu berbuah dalam sekejap membuat ku tertarik pada mu dan tak bisa menoleh pada Ariana."
"Kenapa harus sekarang Paman menyadarinya, saat Paman tau kamu memiliki sifat yang sangat unik. Lembut tapi beracun, kamu bagaikan mawar Caroline. Indah namun berduri."
"Caroline bisakah kita memulai dari awal." Lagi-lagi kalimat itu muncul di pikirannya dan mulutnya.
__ADS_1
"Paman tau, tidak semudah itu kamu memberikan kesempatan buat Paman. Tapi ketahuilah, Paman akan menunggu mu. Jika pun Paman harus mati karna menunggu mu. Paman tidak akan menyesalinya. Paman terima, pilihan mu Viscount Luis." Duke Elios menggerakkan tangannya mengelus pipi Caroline. Lalu mendekatkan wajahnya, mencium bibir manis itu dan beralih kecupan singkat di keningnya.
"Tidurlah sayang." Duke Elios kembali mencium kening Caroline dan meninggalkan kamar itu.