Sakit! Paman, Duke

Sakit! Paman, Duke
Salahkah dirinya cemburu?


__ADS_3

"Caroline," Baron Knight mengejar Caroline, ia tidak ingin berpisah lagi dengannya. Hidupnya tak akan berarti tanpa putri dari wanita yang ia cintai.


Viscount Luis merentangkan tangan kanannya, menghalangi Baron Knight yang mengejar Caroline. "Maaf kali ini aku harus ikut campur Baron Knight. Sudah cukup bagi Caroline memberi mu kesempatan."


Baron Knight meremas lengan Viscount Luis, "Aku tidak ada urusan dengan mu. Ini hubungan seorang ayah dan anaknya." Balasnya seraya berniat menerobos tangan Viscount Luis.


Caroline menghentikan langkah kakinya, "Hubungan Ayah dengan Anaknya. Sadarkan perkataan mu Baron Betright. Darah ku memang mengalir darah mu, tapi sayang kasih sayang dari Baron Betrigh mengalahkan kasih sayang mu. Satunya licik dan satunya picik." Caroline membalikkan badannya, "Mungkin Ariana mempelajarinya dari mu Baron Knight." Ujarnya berlalu pergi


"Caroline !" Baron Knight masih kekeh, ia tak akan menyerah jika pun Viscount Luis orang yang akan menjadi menantunya kelak. "Jangan halangi ku Viscount Luis."


"Cukup Viscount Luis dan Baron Knight biarkan Caroline sendiri. Dia butuh waktu. Sebaiknya kita mengurusi Ariana dan membawanya pulang." Ujar Duke Elios seraya memegang tangan Baron Knight.


"Tapi aku tidak bisa diam sendiri. Aku takut Caroline.."

__ADS_1


"Baron Knight, ini bukan salahnya. Wajar saja dia marah." Timpal Duke Elios.


"Besok aku akan datang kesini." Ucap Baron Knight langsung menarik lengan Ariana yang tak jauh dari mereka. Ariana hanya menunduk, ia tau Baron Knight dan Duke Elios melimpahkan semua kesalahannya pada dirinya. Tapi apa dia salah jika tak ingin berbagi Ayah dan orang yang ia cintai pada siap pun.


Baron Knight melempar tubuh Ariana sampai terjatuh ke sofa merah itu, ia mengusap kasar wajahnya lalu mengambil vas bunga mawar merah di atas meja itu. Kemudian melemparkannya ke lantai.


"Ariana, apa kamu tadi hanya mengelabui Ayah dan Duke Elios?" teriak Baron Knight tajam. Bola matanya ingin keluar dari tempatnya. Dia tak bisa menahan amarahnya lagi. Jika bukan mengingat Ariana masih anaknya, sudah sedari tadi ia mencekik Ariana. Bodohnya dia yang jatuh tertipu ke akal muslihat Ariana. Seharusnya dia sadar, Ariana berbuat seperti itu adalah ajaran darinya.


"Benar, jika bukan karna mu. Ayah mu dan Caroline tidak akan bertengkar." Timpal Duke Elios, ia juga merutuki kebodohannya itu.


"Jangan egois Ariana, Caroline juga putri ku. Putri pertama ku." Bentak Baron Knight seraya duduk di sofa kecil itu dan kembali mengusap wajahnya.


"Dia memang lahir dari orang yang di cintai Ayah. Tapi sayang, dia meninggalkan Ayah."

__ADS_1


Hati Baron Knight sangat tidak menerima perkataan Ariana. Di sini dialah yang salah bukan Berlia. Dengan penuh emosi dan bercampur api kemarahan. Baron Knight kembali menampar Ariana untuk yang kedua kalinya. "Sekali lagi kamu mengatakan itu. Aku akan mencekik mu Ariana. Ini memang salah ku, tidak mendidik mu orang baik." Ujar Baron Knight berlalu pergi.


Duke Elios pun tak akan tinggal diam, ia juga ingin melayangkan tangannya, bagaimana pun juga Berlia tetaplah bibinya dan Baron Betright pamannya. "Sekali lagi kamu mengatakan itu, aku juga tidak segan menampar mu Ariana. Bahkan aku sangat kecewa pada mu. Kau tau, saat ini aku ingin membatalkan pertunangan kita."


"Yang Mulia Duke," teriak Ariana menatap nanar ke arah punggung yang mulai menjauh. Ia juga jengah berdekatan dengan Ariana. Hatinya amat kecewa, Ariana yang ia kenal dulu dengan penuh kelembutan dalam sekejap berubah menjadi orang lain.


Disisi lain.


Caroline duduk sendiri di kamarnya, ia tidak ingin di ganggu oleh siapa pun. Hatinya sangat teriris dan amat kecewa. Betapa sakitnya dia, betapa cemburunya dia melihat Baron Knight yang sangat mengkhawatirkan Ariana pada saat itu. Salahkah dirinya yang haus kasih sayang akan ayah kandungnya? di bentak oleh orang yang ia sayangi. Dia tidak terima.


"Ayah."


"Aku cemburu melihat mu mengkhawatirkannya, andai saat itu aku juga melakukannya. Siapa kah yang akan Baron Knight pilih?" Gumam Caroline, ia membalikkan badannya dan membaringkan tubuhnya di ranjang empuk itu. "Aku sungguh gila, seharusnya aku tidak mengharapkan apa-apa darinya."

__ADS_1


"Besok aku juga akan pergi dari sini. Aku harap keputusan ku bertunangan dengannya pilihan yang tepat. Ya, aku sangat lelah. Letihnya kehidupan yang di alami saat ini. Aku ingin melarikan saja."


__ADS_2