
Setelah acara perdebatan itu, Caroline dan Duke Elios duduk berhadapan, hanya diam, saling melirik namun enggan menyapa. Kadang tatapan mereka saling bertemu. Dan hanyalah sebuah tatapan yang tenggelam beberapa menit saja.
Ada keresahan yang menjalar di hati Duke Elios. Dia ingin menyapa, tapi melihat Caroline memasang muka datar. Ia takut Caroline justru bertambah kesal.
"Caroline," sapa Duke Elios dengan seribu keberanian.
"Hem.."
"Maaf, tadi Paman berbicara kasar. Tapi setidaknya tolong mengertilah Caroline."
"Sudahlah, aku tidak ingin ikut campur urusan Paman. Terserah Paman mau menikah atau tidak." Ujar Caroline tepat kereta kuda itu berhenti di halaman depan kediaman Baron Knight.
Caroline turun dari kudanya di ikuti Duke Elios dan berjalan bergandengan tangan.
Terlihat seorang laki-laki paruh baya terburu-buru menghampiri seorang laki-laki yang sedang menyapa tamunya.
Laki-laki itu pun bergegas keluar kediamannya, ia tersenyum dan memeluk erat putrinya itu.
"Caroline tidak akan terlambat kan Ayah." Ucapnya yang di angguki Baron Knight.
"Tidak sayang, ayo masuk." ucapnya sambil menggandeng lengan Caroline.
Pintu kediaman Baron Knight terbuka lebar, Caroline di sambut hangat oleh para bangsawan. Banyak para bangsawan yang menyapanya dengan ramah, mereka semua sudah tau kebenaran itu, ternyata Ibu Caroline lah yang berkorban untuk Baron Knight, bukan karna ke egoisannya. Dan lebih mengejutkan lagi bagi mereka, ternyata Caroline sudah resmi menjadi tunangan Viscount Luis. Seseorang yang tidak bisa di anggap remeh..
Acara peresmian itu pun berlangsung lancar, kini Caroline telah menyandang statusnya yang baru. Banyak para bangsawan yang mengucapkan selamat padanya dengan Baron Knight yang kini bertambahnya keluarga baru. Selain cantik, Caroline sudah di kenal bakatnya semenjak acara yang membuat takjub semua bangsawan. Bahkan ada pula seorang bangsawan yang menyuruh anaknya dekat dengan Caroline selain cantik dan cerdas. Caroline memiliki politik yang kuat di bawah keluarga Baron Knight. Tapi sayang semua harapan mereka sirna, ketika mendengar kabar Caroline sudah bertunangan.
__ADS_1
"Ayah di mana Ariana?" tanya Caroline yang tak melihat keberadaan Ariana di pesta itu.
"Biarkan saja, jangan mencarinya. Ini pesta untuk mu, bukan untuknya biarkan saja dia melakukan apa pun. Asalkan tidak mengganggu mu." Sahut Baron Knight.
"Apa aku bisa menemuinya Ayah?" tanya Caroline.
"Jangan Caroline, bagaimana jika Ariana menyakiti mu?"
"Tenang saja Ayah, dia tidak akan menyakiti ku. Apa lagi sekarang banyak tamu." Jawab Caroline meyakinkan.
"Baiklah, berhati-hatilah. Dia berada di lantai atas." Ujar Baron Knight. Dia memanggil salah satu pelayan untuk mengantar Caroline ke kamar Ariana. Tadi pagi dia sudah mengatakan agar Ariana juga ikut menyambut Caroline, namun Ariana bersikeras, berteriak dan selalu mengatakan. Selamanya dia tidak akan mengakui Caroline.
tok
tok
tok
Wanita di dalam itu pun langsung menoleh ke arah pintu, bayangan wajah Caroline membuat hatinya mendidih. "Biarkan dia masuk teriaknya."
Pelayan wanita itu membuka pintu kamar Ariana, ia sedikit terkejut kamar Ariana kini kembali berserakah dengan kaca.
"Jangan khawatir aku tidak apa-apa." Ujar Caroline melihat pelayan itu yang menatapnya khawatir.
"Ariana." Panggil Caroline dengan lembut.
__ADS_1
"Puas," Suara dingin itu, keluar dari mulutnya. Dia sangat jijik dengan wanita di belakangnya itu.
Caroline tersenyum miring, ia mendekat ke Ariana dan menyilangkan kedua tangannya di dada. "Tentu saja aku puas, bagaimana hidup mu?" tanya Caroline. Dari dulu Ariana selalu menanyakan hidupnya dengan suara mengejek.
"Aku tidak menyangka kamu seperti itu Caroline. Kamu membuat Ayah dan Yang Mulia Duke mengasihi mu. Sebenarnya apa yang kamu miliki Caroline? apa kamu menyihir mereka?"
"Jangan salah paham. Aku tidak mungkin selicik itu. Selicik liciknya diriku lebih licik kamu."
Ariana membalikkan badannya, "Aku membenci mu Caroline."
"Sama donk. O, iya aku sudah mengatakan Paman agar menikahi mu. Tapi sayang, paman tidak mau." Caroline menaikkan kedua bahunya, "Aku kasian sekali pada mu, dulu kamu yang suka mengejek ku. Kenapa sekarang berbalik ya,"
"Itu semua gara-gara kamu Caroline, kenapa kamu datang ke dalam kehidupan ku." teriak Ariana.
"Bukan karna aku, tapi kamu sendiri yang berani mendatangi hidup ku dan mengusik ku Ariana." teriak Caroline, "Dan karna kamu pemilik tubuh ini mati." Gumam Caroline.
"Aku akan memberikan Ayah ku pada mu, tapi tolong tinggalkan Duke Elios." Ujar Ariana dengan nada memohon. Kali ini hidupnya memang benar-benar kalah dari Caroline. Jika Ayahnya meninggalkannya, setidaknya orang yang ia cintai tidak meninggalkannya.
"Dari dulu aku sudah melepaskan Paman." Balas Caroline. Dia melihat Ariana benar-benar terpuruk.
"Tapi hatinya untuk mu Caroline." Ucap Ariana yang menangis tersedu-sedu.
"Itu terserah kamu Ariana dan usaha mu sendiri. Dan jika kamu bertanya apa aku memilih Ayah atau Duke Elios, yang jelas aku memilih Ayah ku dari pada dia. Dia tidak berarti apa-apa untuk ku Ariana."
Deg
__ADS_1
Tanpa sadar ucapan di dengarkan oleh seorang laki-laki di depan pintu. Dadanya terasa sakit dan langsung ambruk di lantai.