Sakit! Paman, Duke

Sakit! Paman, Duke
Season 1 : END (Elca = Elios dan Caroline)


__ADS_3

Pada malam harinya.


Caroline terbangun, is merasakan sakit di perutnya. Caroline memegang perutnya itu. Melihat ke samping, Viscount Luis tidak ada di kamarnya. Padahal tadi mereka tidur bersama. Caroline mengira jika Viscount Luis saat ini bersama Duke Elios.


"Pelayan." Teriak Caroline seraya duduk. Kakinya lemas. Saat ia melangkah, rasanya tidak memiliki tenaga sama sekali.


"Ada apa Nyonya?" tanya seorang laki-laki yang masuk ke dalam kamarnya. Ia membungkuk hormat.


"Dimana Viscount? perut ku sangat sakit. Tolong panggilkan Dokter." Ucap Caroline dengan wajah pucat.


"Baik Nyonya." Ucap Emi langsung berlari keluar, tapi ia menyuruh salah satu pelayan untuk memanggilkan Viscount Luis dan Duke Elios. Sementara dirinya memanggil Dokter.


Viscount Luis dan Duke Elios yang tadinya mengobrol panjang lebar. Mengenai nama anak Caroline dan tentunya harus melalui perdebatan di antara mereka. Mereka langsung bergegas pergi menuju kamar Viscount Luis.


"Sayang." Viscount Luis yang di bantu di dorong oleh Duke Elios berhenti tepat di depan Caroline yang kini membaringkan kembali tubuhnya.


"Dimana Dokter? kenapa lama sekali datangnya?" Duke Elios tidak tega melihat Caroline yang merasakan kesakitan sambil mengeluarkan air matanya.


"Maaf saya terlambat. Mohon Tuan Viscount dan Yang Mulia Duke keluar." Ucap seorang Dokter perempuan.

__ADS_1


"Aku tidak bisa menjauh dari istri ku, cepat periksa istri ku." Bentak Viscount Luis.


"Benar, aku juga tidak bisa jauh darinya."


"Sebaiknya kalian cepat keluar, biarkan Dokter itu memeriksa ku." Lirih Caroline yang geram melihat kedua laki-laki itu.


Viscount Luis dan Duke Elios pasrah, ia memilih pergi sesuai permintaan Caroline.


Dokter istana pun memeriksa area Caroline, air ketubannya sudah pecah.


"Nyonya akan segera melahirkan. Siapkan air." Ucap Dokter itu.


aaaa


Caroline mengatur nafasnya, ia kembali menghujam dengan semua kekuatan tenaganya itu.


Selang beberapa saat.


Bayi mungil berkulit putih itu lahir. Caroline menghirup udara sebanyak-banyaknya. Dadanya naik turun mengumpulkan tenaganya kembali. Tanpa terasa air matanya turun membasahi pipinya. Caroline beringsut, ia menyandarkan punggungnya ke tepi ranjangnya. Menatap bayi mungil itu. Baru kali ini dia merasakan bahagia, merasakan menjadi seorang Ibu.

__ADS_1


"Selamat Nyonya bayinya laki-laki." Ujar Dokter itu tersenyum. Lalu menunduk hormat, meninggalkan Caroline dan ke lima pelayannya.


Sementara di luar.


Duke Elios dan Viscount Luis yang mendengarkan tangisan bayi kecil itu. Saling berpelukan, kedua laki-laki itu menangis dalam pelukannya.


"Selamat Viscount Luis menjadi seorang ayah." Ujar Duke Elios menepuk punggung Viscount Luis lalu melepaskannya. Ia menghapus air matanya itu.


"Dan selamat kamu juga akan menjadi seorang Ayah. Aku bahagia Yang Mulia Duke. Terimakasih selama ini kamu menjaga Anak ku dan juga istri ku. Aku bahagia sampai aku tidak bisa mengungkapkannya dengan sebuah kata-kata." Ujar Viscount Luis. Ia tidak lagi memikirkan dirinya akan mati. Tetapi ia sekarang merasa lega. Anaknya telah lahir dan akan di jaga oleh orang yang berpengaruh sekaligus yang akan menyayanginya.


"Sebaiknya kita tidak usah membahasnya. Ayo kita temui mereka." Ujar Duke Elios mendorong kursi roda itu.


"Sayang." Caroline tersenyum, ia kembali mencoel pipi bayi laki-laki itu.


"Lihatlah, kita sudah memiliki seorang putra." Ujar Caroline. Memperlihatkan bayi laki-laki itu.


"Elca, ya namanya Elca. Aku suka dengan nama itu." Viscount Luis melihat ke arah Caroline lalu melihat ke arah Duke Elios. Caroline pun memberikan bayi iti pada Viscount Luis.


*Elca, Elios dan Caroline. Nama itu aku khusus kan untuk kalian. Meskipun tidak ada nama ku. Tapi dia akan menjadi pewaris ku.

__ADS_1


Sayang, ingat lah Ayah yang selalu menyayangi mu. Jika tidak ada Ayah, masih ada Ibu dan juga Ayah Duke Elios batin Viscount Luis lalu mencium kening bayi laki-laki itu*.


__ADS_2