Sakit! Paman, Duke

Sakit! Paman, Duke
9 bulan kemudian


__ADS_3

Duke Elios melihat ke arah Caroline dan Viscount Luis secara bergantian. Sementara Caroline bersikap biasa saja. Namun ia sering melirik Viscount Luis yang begitu tenang.


Apa yang sebenarnya mereka sembunyikan batin Duke Elios


"Caroline, Ayah akan sering kesini." Baron Knight memeluk Caroline. Dia harus pergi meninggalkan Caroline ke kediaman Baron sudah beberapa hari ini dia meninggalkan pekerjaannya.


"Paman juga akan sering kesini Caroline." Ujar Duke Elios.


"Aku menunggu kedatangan mu Duke." Ucap Viscount Luis.


"Aku mohon bantuannya Nyonya Roseline. Tolong jaga Caroline. Hanya kamu yang paling dekat dengan Caroline." Ujar Baron Knight.


"Ayah tidak perlu khawatir. Caroline adalah istri ku. Selama aku masih memiliki nyawa, aku akan menjaga Caroline dengan baik."


Lagi-lagi perkataan Viscount Luis membuat Duke Elios semakin penasaran. Ia melihat Caroline yang meremas gaunnya.


Caroline kenapa wajahnya sangat terlihat rapuh batin Duke Elios.


Kereta itu pun berjalan melewati gerbang kediaman Viscount. Caroline menunduk, ia langsung memeluk Viscount Luis. Tangisannya tumpah. "Kenapa kamu bicara seperti itu pada Paman. Aku yakin kamu akan sembuh." Ucap Caroline memukul dada Viscount Luis. Ia menangis tersedu-sedu.


"Aku sudah menitipkan pada orang yang tepat." Viscount Luis langsung mengangkat tubuh Caroline ala bride stayle.


"Mari kita membuatnya, anggap saja perkataan ku dengan Duke Elios angin lalu." Ujar Viscount Luis.

__ADS_1


Dan pada akhirnya Caroline lebih mementingkan permintaan Viscount Luis. Sejenak menghilangkan keresahan hatinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tak terasa 9 Bulan telah berlalu. Caroline dan Viscount Luis bertambah mesra. Kini Caroline telah mengandung anak pertama Viscount Luis. Dan kesehatan Viscount Luis satu bulan yang lalu menurun. Caroline tidak pernah mengeluh menjaga Viscount Luis, ia tidak pernah jauh dari Viscount Luis sekali pun dalam keadaan perut yang sudah membuncit. Sedangkan Duke Elios, dalam satu bulan sekali 4 kali ia menjenguk Caroline. Tidak heran jika dirinya selalu membawa buah tangan kesukaan Caroline. Duke Elios juga sudah tau tentang penyakit Viscount Luis satu bulan yang lalu.


Selama ia menjenguk Caroline selalu ada saja pertengkaran mereka namun berujung kebaikan. Seperti halnya sekarang, kedua laki-laki itu tengah berdebat dengan makanan keinginan Caroline.


"Sayang jangan makan ubi, tidak baik untuk kesehatan mu dan anak kita." Ujar Viscount Luis. Ubi salah satu makanan yang paling banyak di temui di Kekaiasaran itu. Para bangsawan sangat enggan memakan ubi. Karena ubi menurut mereka sangat jorok dan tidak enak. Hanya rakyat biasa saja yang memakannya.


"Tidak Caroline, ini ke inginan mu dan keinginan anak mu. Jadi makanlah, lagi pula Paman sendiri yang membersihkan ubi itu."


"Tidak bisa, istri ku dan anak ku tidak boleh keracunan."


"Bisa jadi kamu beracun."


bla


bla


bla


Caroline mendonggakkan wajahnya menatap langit, ada rasa haru di hatinya tetapi juga ada rasa sedih di hatinya. Di perhatikan oleh kedua laki-laki yang sangat menyayanginya. Dia bukanlah wanita serakah. Sekali pun dia masih menyimpan rasa untuk Duke Elios. Tapi dia berusaha tidak membuat Viscount Luis cemburu atau berfikir lainnya. Bahkan dia juga menyuruh Duke Elios menikah dengan salah satu wanita bangsawan atau pun Ariana yang kini telah berubah.

__ADS_1


Namun sama saja, Duke Elios tetap kekeh tidak ingin menikah. Duke Elios selalu memberikan alasan hanya ingin fokus pada pekerjaannya. Justru sebaliknya, dalam hatinya ingin menjaga Caroline dan juga anaknya. Apalagi dia sudah tau tentang kesehatan Viscount Luis.


Duke Elios pun juga merasa sedih, ia juga mencari obat yang mahal bahkan mencari obat di Negeri sebrang untuk Viscount Luis. Dia dan Caroline tidak pernah putus asa. Mereka masih berharap Viscount Luis sembuh dengan cara apa pun.


"Sayang sudahlah. Anak kita menginginkan ubi ini." Ujar Caroline yang tampak sedih.


"Ba-baiklah makan saja sayang. Maaf." Ucap Viscount Luis yang merasa bersalah.


"Karena kalian sering berdebat, bisa saja nanti anak ku. Hidungnya mirip Viscount Luis matanya mirip Yang Mulia Duke." Ujar Caroline.


"Tidak bisa." Ujar kedua laki-laki itu serempak berdiri.


"Dia anak ku, harus mirip dengan ku."


"Tidak ! dia anak keponkan ku, tidak ada salahnya jika dia mirip dengan ku."


bla


bla


bla


Caroline memilih memakan ubi rebus itu dengan santai, ia memilih pergi meninggalkan kedua orang laki-laki itu yang masih bersiteru.

__ADS_1


__ADS_2