
"Caroline, pikirkan lah baik-baik. Pernikahan bukan main-main." Nasehat Baron Knight.
"Ayah, Caroline tau, tapi Caroline tidak bisa apa kata orang Ayah? Caroline sudah putuskan. Caroline akan menikah dengan Viscount Luis."
"Caroline anggap saja hubungan Ayah pelajaran bagi mu,"
"Sudahlah Ayah, aku tidak ingin membahasnya."
Caroline duduk berjongkok dan menggenggam tangannya, "Ayah percaya saja pada Caroline."
Baron Knight menepuk lembut tangan Caroline yang menggenggam tangannya. Ia percaya, Caroline pasti memikirkan matang-matang tentang masa depannya. Ia tidak akan salah memilih. Semoga saja Tuhan selalu memberikan kebahagiaan padanya.
tok
tok
tok
Suara ketukan pintu itu membuyar acara percakapan mereka.
"Caroline." Suara bergetar itu, suara dari dalam hati yang merasakan sakitnya ketika orang yang kita hindari dulu memilih menjauh. Duke Elios memutar handle pintu itu yang sedari tadi ia remas, menumpahkan api di hatinya.
"Baron Knight."
"Paman,"
__ADS_1
"Duke Elios,"
Kedua itu saling memandang, Baron Knight berdoa dalam hatinya. Semoga Duke Elios tidak mendengarkan percakapan mereka tadi. Ia merasa tidak enak hati telah menyinggungnya.
Lain halnya dengan Caroline, ia bersikap santai. Bahkan dalam hatinya berdoa semoga Duke Elios mendengarkannya, ia tidak ingin dikatakan wanita yang tak bisa hidup tanpa cinta dari Pamannya. Rasa sakit di hatinya, masih ia rasakan. Cinta dan Benci itu menjadi satu.
"Bagaimana kabar mu Baron Knight dan Caroline. Sudah lama kita tidak bertemu." Ujar Duke Elios menatap lekat Caroline.
"Aku baik-baik saja Duke,"
"Bagaimana dengan kabar Ariana? sudah lama aku tidak melihatnya." Ujar Duke Elios sedikit berbasa-basi. Tapi dalam hatinya, ia bersyukur tidak bertemu dengan Ariana.
"Dia baik Duke."
"Caroline, bisakah kita berbicara berdua." Ujar Duke Elios. Ia ingin berusaha membuat Caroline tidak mengambil keputusan tadi.
"Baiklah, Caroline."
Duke Elios dan Caroline meninggalkan Baron
Knight. Langkah kaki mereka menuju ke taman depan. Mereka duduk di kursi putih itu yang mulai tertutupi salju. Duke Elios membersihkan salju itu dan mempersilahkan Caroline duduk di sampingnya. Tanpa basa-basi langsung mengatakan isi hatinya.
"Caroline, apa benar kamu akan bertunangan dengan Viscount?" tanya Duke Elios setenang mungkin mengendalikan amarahnya dan kekecewaannya.
"Ya," Jawab Caroline singkat seraya memandang ke arah pohon cemara.
__ADS_1
"Kamu harus memikirkannya Caroline, jangan mengambil keputusan yang salah." Ujar Duke Elios.
"Caroline sudah memikirkannya."
"Bisakah kamu tidak menikah dengannya Caroline,"
Caroline menoleh, "Tidak bisa, aku sudah memantapkan hati ku Paman." Caroline berdiri, ia hendak pergi.
Dengan cepat Duke Elios memegang lengan Caroline, "Dia bukan laki-laki yang baik Caroline."
Caroline mengkerutkan dahinya, "Maksud Paman?"
"Carilah penggantinya, Paman yakin Caroline dia bukan laki-laki yang baik."
Caroline tidak terima, ia melepaskan tangan Duke Elios dan mundur dua langkah. "Lalu laki-laki yang baik seperti apa Paman? apa harus seperti Paman." Ujar Caroline yang mulai tersulut emosi dan meninggalkan Duke Elios. Ia tak ingin bertengkar lagi dengan Pamannya. Ia takut Viscount Luis akan mendengarkan semua pertengkarannya dan salah paham.
"Caroline."
Caroline menghentikan langkah kakinya.
"Dulu Paman menyayangi mu, semenjak kecil. Semenjak kedua orang tua mu meninggal. Paman lah yang merawat mu sampai kamu dewasa seperti ini. Semenjak kecil kamu berlari ke arah Paman, memeluk Paman. Mengatakan, "Jika kamu merindukan Paman." Ketahui lah Caroline, Paman baru sadar. Ternyata Paman takut kehilangan mu. Paman tidak ingin kamu menjauh dari Paman."
"Caroline, apakah kamu bersedia menikah dengan Paman jika Paman melepaskan Ariana?"
"Tidak !" teriak seseorang seraya mengepalkan tangannya. Matanya membulat sempurna, telinga panas, begitu pun hatinya yang ikut panas dan perih. Ia tidak menyangka perkataan itu lolos keluar dari orang yang ia cintai sedari dulu.
__ADS_1
"Aku tidak akan pernah melepaskan mu Duke. Apa dan kenapa Duke mengatakannya? kenapa Duke berubah? padahal dulu Duke selalu mengutamakan diri ku. Apa kekurangan ku?"
"Apa karna dia?" Ariana menunjuk ke arah Caroline. "Jika Duke sampai bersamanya, Duke tidak akan pernah melihat ku lagi." Ucap Ariana berlari dan menghapus jejak air matanya.