
"Jagoan sarapan lah yang banyak." ujar Duke Elios seraya memberikan dua potong roti yang pada Elca.
Caroline hanya tersenyum hangat melihat interaksi keduanya. Ia bersyukur, Duke Elios mau menerimanya dan juga putranya itu. Kedua laki-laki di depannya itu saling melemparkan senyuman bertubi-tubi.
"Ayah, kenapa dengan leher Ayah?" tanya Elca si polos.
Caroline gelagapan, ia melihat ke leher Duke Elios yang ia berikan tanda ciumannya.
Sementara Duke Elios melihat ke arah Caroline tersenyum smirik.
"Sayang ini adalah tanda kasih sayang."
Elca tersenyum dengan sumeriang, "Apa nanti aku akan mendapatkan tanda itu?"
"Iya setelah Elca dewasa. Sekarang makanlah." ujar Duke Elios yang di angguki oleh Elca kecil.
Selesai sarapan, Elca kecil bermain dengan Kenan dan Mia. Sementara kedua orang itu masih asik berduaan di taman. Duduk di bawah pohon, di temani dengan biskuit dan tidur di pangkuan Caroline.
"Sayang aku ingin selamanya seperti ini." Duke Elios membenamkan kepalanya di perut Caroline.
"Aku ingin secepatnya memberikan adik pada Elca." sambungnya lagi.
__ADS_1
"Kenapa kamu mau menerima kita? kamu tau sendiri aki seorang janda dan memiliki anak."
Duke Elios beranjak duduk, "Hanya satu alasannya. Aku mencintai mu." Duke Elios kembali membaringkan kepalanya di pangkuan Caroline.
Caroline pun mengecup singkat kening Duke Elios. Sedangkan Duke Elios memejamkan matanya, merasakan degupan jantungnya yang berdetak lebih cepat.
Duke Elios beranjak duduk. Seketika dia memeluk Caroline. "Setiap harinya aku berdoa, ini bukanlah mimpi. Jika pun ini mimpi, aku tidak ingin terbangun Caroline. Aku ingin merasakan kasih sayang mu."
"Ini bukan mimpi."
Duke Elios mengelus kedua pipi Caroline, lalu menyatukan dahi mereka. "Aku bahagia." Kini Duke Elios mengeluarkan air matanya. Rasa bahagia yang ia tunggu dan harapkan selama ini.
"Menemupuk, tapi aku ingin bersama kalian."
"Sebaiknya kamu segera menyelesaikan pekerjaan mu."
Duke Elios menggelengkan kepalanya, mana mungkin dia bisa jauh dari Caroline. Se menit saja dia tidak melihat Caroline rasa sudah seperti se tahun.
"Temani aku," rengek Duke Elios bergelanyut manja di tangan Caroline. "Biarkan Elca bermain bersama Kenan dan Mia." sambungnya lagi dengan nada memohon.
"Benar Ibu, sebaiknya Ibu menemani Ayah. Biar Elca secepatnya memiliki adik." timpal Elca yang duduk di depannya. Ia mengambil biskuit itu. Lalu memasukkan ke dalam mulutnya. "Katanya Kenan dan Mia, jika Elca ingin punya adik. Ibu dan Ayah harus sering bermain."
__ADS_1
Kenan dan Mia saling melihat, ia memejamkan matanya melihat Caroline yang menatap tajam. Sedangkan Duke Elios tersenyum.
"Benar Sayang, jadi biarkan Ibu mu tiap saat bersama Ayah."
"Ibu aku ingin memiliki Adik, Ibu tidak boleh jauh dari Ayah. Tenang saja, Elca bisa menjaga diri Elca."
"Ya, sudah Ayah dan Ibu pergi dulu. Mau bermain."
Tanpa meminta persetujuan lagi, Duke Elios menarik lengan Caroline. Berjalan bergandengan tangan. Sepenjang perjalan, Duke Elios tidak pernah berhenti tersenyum. Kadang pelayan melihatnya hanya terkekeh. Duke Elios seperti seorang pemuda yang di mabuk cinta.
"Sayang duduk lah di sini." Duke Elios menunjuk ke pangkuannya.
"Sayang bagaimana kamu bisa bekerja, jika aku duduk di sana." ujar Caroline menghela nafas. Permintaan Duke Elios tidak masuk akal sama sekali. Duke Elios yang terlihat wibawa berubah seperti anak kecil dalam sekejap.
"Emi, kenapa kamu di sini? pergilah jangan mengganggu ku."
Emi merasa kesal, ia sudah memasang tembok di depannya agar tidak melihat dan mendengar kedua majikannya itu yang dengan bangganya bermesraan di depan orang tak laku-laku.
Caroline melirik ke arah Emi, memang sejak tadi Emi mengikuti mereka. Tetapi kemarahan Duke Elios sepertinya ia tumpahkan pada Emi.
"Ya, sudahlah aku akan bekerja. Tapi jangan jauh dari ku." Carolien mengangguk, ia duduk di sofa yang tak jauh dari pandangan Duke Elios. Menatap wajahnya yang tampan, Caroline tersenyum, sepertinya ia tidak bisa mengakui Duke Elios dengan sebutan jelek. Nyatanya dia lah laki-laki yang paling tampan di Kekaisaran ini
__ADS_1