Sakit! Paman, Duke

Sakit! Paman, Duke
Kesakitan kesekian kalinya


__ADS_3

Setelah selesai acara dansa itu, Caroline beralih ke para wanita bangsawan yang mengucapkan selamat padanya.


Banyak para wanita bangsawan yang mengucapkan selamat, ia melirik ke arah Viscount Luis yang tersenyum dan mengangguk.


"Caroline."


Caroline mematung sejenak, ia kenal suara khas itu. Dia tersenyum dan menoleh. "Paman," seru Caroline.


"Selamat." Ucapnya singkat dengan nada bergetar, matanya berkaca-kaca.


Baron Knight memeluk Caroline, "Selamat sayang. Ayah ikut bahagia."


Caroline melepaskan pelukannya, matanya masih melihat Duke Elios yang menatapnya.


"Caroline, apa boleh Paman berbicara berdua dengan mu?"


"Baiklah Paman."


Caroline menghampiri Viscount Luis meminta ijin padanya. Dia tidak ingin terjadi kesalahpahaman cukup dirinya di masa lalu yang memiliki masalah.


Viscount Luis tidak ingin Caroline bertemu dengan Duke Elios. Dia takut tiba-tiba Duke Elios membawanya pergi. Viscount Luis mengalihkan pandangannya ke arah Duke Elios, ia menatapnya tak suka. Namun beberapa saat kemudian ia mengangguk. Dia tak mungkin menolak Caroline, akan tetapi ia akan menyuruh beberapa pengawalnya mengawasi mereka.

__ADS_1


Caroline yang sudah mendapatkan persetujuan Viscount Luis, ia langsung membawa Duke Elios ke taman. "Ada apa Paman?" tanya Caroline menghentikan langkah kakinya di bawah pohon.


"Caroline,"


"Iya, ada apa Paman?"


"Bolehkah Paman memeluk mu," Tanpa jawaban dari Caroline. Duke Elios langsung memeluk Caroline. Ia mengeluarkan semua rasa kerinduannya. Duke Elios menahan hatinya yang begitu sesak, ia tidak ingin menangis di hadapan Caroline.


Caroline merasakan tubuh Duke Elios gemetar, ia mengelus punggungnya dengan penuh kasih sayang. "Caroline, bolehkah Paman mengunjungi mu,"


Caroline hanya mengangguk seraya menghapus jejak air mata Duke Elios di pipinya itu.


"Walaupun Paman mencintai mu, Paman tidak akan mengganggu mu, tapi setidaknya Paman ingin melihat mu."


"Carolin, apa Ayah juga boleh melihat mu." Ujar Baron Knight, tanpa sengaja dia mendengarkan perkataan Duke tadi.


Tadinya ia tak berniat menemui mereka, tidak ingin mengganggu mereka. Tapi ia takut tidak memiliki waktu lagi untuk bertemu Caroline.


"Iya Ayah." Ucap Caroline lembut, ia tidak mau di hari memulai kehidupan barunya masih ada rasa dendam di hatinya pada kedua orang di depannya itu.


Dari kejauhan, Viscount Luis melihat semuanya. Di mulai dari Duke Elios memeluk Caroline sampai Baron Knight menghampirinya. Setelah kepergian Caroline, Viscount Luis menyusulnya dan melihat penampakan menyakitkan.

__ADS_1


Sedangkan Caroline, tanpa sadar matanya menangkap sosok Viscount Luis, ia merasa takut Viscount Luis melihatnya berpelukan. Ia berencana setelah selesai dengan obrolannya, ia akan menemui Viscount Luis dan menjelaskannya.


Setelah beberapa menit, mereka kembali ke pesta. Caroline pun menghampiri Viscount Luis.


"Em, itu tadi maaf." Ujar Caroline menunduk.


Viscount Luis menarik lengan Caroline ke sebuah kamar yang di khususkan tempat penginapan untuk para tamu saat ingin bermalam di kediamannya itu. Tanpa basa-basi, Viscount Luis memeluk Caroline. Ia ingin aroma laki-laki di tubuh Caroline menghilang.


"Caroline, apa yang kamu bicarakan dengan Duke?"


Caroline melepaskan pelukannya, "Tidak ada, Paman hanya ingin mengunjungi ku saja dan aku tidak bisa menolaknya."


Mendengarkan perkataan Caroline membuat Viscount Luis, khawatir dan takut. "Kenapa kamu mengijinkannya Caroline, seharusnya kamu berbicara pada ku dulu." Ujar Viscount Luis beralih duduk di sofa merah itu.


Caroline berjongkok, ia menggenggam kedua tangan Viscount Luis. "Maaf jika membuat Viscount marah. Tetapi dia juga Paman ku dan untuk masalah perasaan. Viscount Luis tidak perlu khawatir. Aku dan Paman hanyalah berhubungan keponakan saja."


"Tapi Caroline..."


Caroline langsung memeluk Viscount Luis. "Percayalah pada hubungan kita."


Viscount tersadar, benar yang di katakan Caroline dalam hubungan harus ada kepercayaan yang menguatkan hubungan itu.

__ADS_1


"Maaf Caroline, berjanjilah kamu tidak akan meninggalkan ku." lirihnya sambil merasakan kehangatan itu.


Di balik pintu kamar itu, terlihat seorang laki-laki yang tersenyum pahit. Antara bahagia dan sedih bercampur menjadi satu. Ia tidak tau mau bahagia tapi sedih dan justru sebaliknya. Awalnya ia ingin meminta ijin kembali ke kediamannya. Namun melihat Adegan itu, membuatnya mengurungkan diri dan malah pergi meninggalkan kesakitan kesekian kalinya.


__ADS_2