
Satu menit, dua menit, tiga menit Caroline memainkan kukunya dan melirik Duke Elios. Duke Elios masih diam dan memandang lurus kedepan, ia masih bingung akan mengatakan apa.
Caroline menopang dagunya, ia melihat ke arah langit. Benar saja mereka saling diam dengan pemikirannya masing-masing.
Caroline yang pikirannya mengarah pada tunangannya sementara Duke Elios mengarah cintanya pada Caroline.
"Jika Paman benar menyukai mu bagaimana?" tanya Duke Elios gugup merasakan detak jantungnya begitu cepat.
Caroline melirik Duke Elios, ia menguap sambil menopang dagunya kembali. "Bagaimana mungkin dari dulu Paman menyukai Ariana. Dan aku tidak ingin menjadi orang ketiga Paman alias pelakor.
"Tapi dulu kamu kan menyukai Paman," Duke Elios tetap kekeh ingin Caroline mengakui perasaannya.
"Kebodohan ku yang berabad-abad. Caroline sudah memantapkan hati Caroline, tidak akan mudah menyukai Paman. Hati Caroline sudah lurus ke arah Viscount." Ucap Caroline menempelkan kedua tangannya seperti tepuk tangan "Dan tidak akan berbelok seperti ini." Sambungnya lagi membelokkan semua jarinya ke kanan.
"Apa benar tidak ada lagi di hati mu untuk Paman?"
Caroline melambaikan tangannya, "Tidak ada." Ucap Caroline tersenyum.
"Dulu Caroline itu tidak tau cinta, sekarang Caroline tau apa artinya cinta. Saling menyukai menerima apa adanya."
Duke Elios terkekeh, ia mengusap lembut kepala Caroline. "Paman serius Caroline."
__ADS_1
"Ah, aku tidak ingin membahasnya." Caroline berdiri seraya menguap dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya. "Caroline sudah ngantuk." Caroline hendak pergi, dengan sigap Duke Elios memeluk Caroline dari belakang. Seketika Caroline merasakan jantungnya seakan copot dari tempatnya.
"Ijinkan Paman menyukai mu Caroline,"
Sejenak Caroline membisu, lidahnya kelu ingin menolak Duke Elios. Caroline berusaha memantapkan hatinya. "Aku tidak bisa Paman, aku sudah menyukai Viscount."
"Tidak Caroline, kamu hanya menyukainya bukan berarti kamu mencintainya. Paman yakin kamu masih mencintai Paman. Paman sangat yakin, cobalah jujur pada perasaan mu."
"Hentikan Paman !" Caroline meninggikan suaranya. "Aku lelah Paman, aku tidak ingin membahasnya. Masalah siapa yang Caroline sukai yaitu Viscount Luis bukan Paman." Ujar Caroline tetap teguh memainkan akal sehatnya bukan perasaannya.
Duke Elios menggenggam kedua tangan Caroline, "Paman tau, kamu masih menyukai Paman."
Caroline menarik kasar tangannya. "Semuanya telah berakhir Paman. Caroline hanya meminta jangan membahasnya lagi. Besok Caroline akan menemui Baron Knight, itu pun karna bibi yang memaksa Caroline untuk menemuinya sebagai tanda perpisahan."
"Terserah, Caroline hanya ingin mencari kebahagiaan Caroline sendiri. Caroline tidak butuh restu Paman. Jadi terimakasih selama ini telah menjaga dan merawat Caroline."
Duke Elios memegang lengan Caroline, "Pikirkan baik-baik Caroline. Jangan membohongi perasaan mu."
"Hentikan Paman ! Caroline lelah Paman. Caroline tidak ingin memiliki masalah lagi. Lagi pula Paman sudah memiliki tunangan."
"Paman bisa membatalkanya."
__ADS_1
"Jangan gila Paman, Caroline tidak ingin di cap sebagai orang ketiga hubungan Paman." Ucap Caroline berlalu pergi.
Akhh
"Kenapa semuanya seperti ini?" teriak Duke Elios seraya menjambaknya rambutnya. "Tidak Caroline, kamu milikku Jika pun kamu menikah. Kamu akan tetap milikku, aku akan menunggu mu Caroline."
Caroline menghentikan langkah kakinya, ia melihat mata Duke Elios bak singa yang ingin menerkam mangsanya. "Dasar Paman gila." Ucap Caroline melanjutkan langkah kakinya.
Sesampainya di kediamannya.
Caroline melihat pengawal Baron Knight dan pelayannya. Caroline memperhatikan kedua raut dari pelayan dan pengawal itu yang kelihatan panik.
"Caroline," Bibi Roseline yang melihatnya muncul di balik gerbang berlari ke arahnya.
"Cepatlah ke rumah Baron Knight, dia membutuhkan mu Caroline." Ujar Bibi Roseline menangis tersedu-sedu.
Caroline beralih melihat kedua orang itu, "Bilang padanya, dia tidak membutuhkan ku. Sudah ada Ariana, putri tercintanya." Ucap Caroline melewati ketiga orang itu.
Sementara Viscount merasa kasihan, ia tidak tega mendengarkan cerita pelayan dan pengawal Baron Knight yang sering menangis memanggil nama Caroline.
Saat Caroline melewatinya, dengan sigap Viscount Luis mencekal lengan Caroline. "Caroline cobalah untuk melihatnya sebentar saja. Setelah itu kamu bisa pulang ikut dengan bibi mu."
__ADS_1
......### maaf ya kak saya update satu bab saja, soalnya saya juga punya tanggung jawab kak. Saya nulis di lapak kuning/NoMe/******* jadi mohon pengertiannya😊😊😊