
Duke Elios menghentikan langkah kakinya di dasar tangga, ia menatap punggung lebar itu dan menyilangkan kedua tangannya di belakang pinggangnya yang sedang melihat ke arah luar jendela. Sedari tadi mulutnya sudah komat kamit ingin mengatakan semua kekesalannya dan kemarahannya, ia ingin mengusirnya bahkan ingin meninju wajahnya yang sok ketampanan itu. Beraninya dia menggoda Caroline dan menggunakan wajah sok polosnya itu.
"Hormat hamba, Pangeran." Duke Elios membungkuk hormat. Padahal di dalam hatinya enggan untuk memberikan hormat. "Ada apa Pangeran datang kesini?" tanya Duke Elios menatap songong ke arah Pangeran Oskar.
Sama halnya dengan Pangeran Oskar yang kini mengumpat di dalam hatinya. Kenapa harus selalu ada muka datar itu diantara dirinya dan Caroline, ingin sekali dirinya menenggelamkannya ke laut. "Apa Yang Mulia Duke tidak suka dengan kedatangan ku."
"Hamba sangat senang, tapi Caroline sedang istirahat." Balasnya dengan singkat. Secepat mungkin ia harus membuat Pangeran Oskar meninggalkan kediaman Baron. Suasana ruangan itu pun semakin dingin, tatapan sengit dan tak ingin kalah pun terjadi.
"Dan aku ingin melihat keadaannya saja." Ucapnya tersenyum licik.
Sialan !! dia masih saja tak mau kalah batin Duke Elios.
"Pangeran tidak perlu khawatir, Dokter sudah memeriksa Caroline. Hamba mohon Pangeran bisa mengerti."
"Tentu saja, sebagai Pangeran aku mengerti, tapi apa salahnya jika aku melihat keadaanya lansung." Kekeh Pangeran Oskar.
Cih, laki-laki seperti mu tidak bisa di biarkan, sudah punya tunangan masih saja ikut campur urusan orang.
__ADS_1
"Besok Pangeran bisa mendatangani kediaman Baron lagi. Jadi hamba harap.."
"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan Duke." Potong Pangeran Oskar, cepat atau lambat ia harus mengatakannya. "Aku menyukai Caroline." Sambung Pangeran Oskar di iringi detak jantung yang semakin kuat iramanya. Ia tidak ingin Caroline berdekatan dengan orang lain lebih lagi Duke Elios, orang yang pernah Caroline sukai. Ia sudah memantapkan hatinya, jika dirinya merasa nyaman bersama Caroline.
Tangan Duke Elios semakin mengepal, hatinya seperti tercabik-cabik, ia tidak menerima perkataan Pangeran Oskar. Dalan hatinya ia tidak rela melepaskan Caroline bersama siapa saja. "Lupakan Caroline Pangeran." Ucapnya dengan tegas.
"Apa maksud Duke? apa Duke tidak rela Caroline bersama ku. Jangan lupa Duke, Duke sudah memiliki seorang tunangan. Lagi pula wanita seumuran nona Caroline sudah memiliki tunangan dan menikah." Balasnya.
"Caroline masih perlu memantapkan dirinya, kelakuannya belum mencerminkan dirinya sebagai nona bangsawan. Hamba takut Caroline membuat keluarga Kekaisaran malu."
"Tenang saja Duke, aku akan mencarikan seseorang yang bisa mengajari Caroline." Balasnya santai.
Pangeran Oskar mencerna perkataan Duke Elios. Jika di pikirkan memang benar dirinya harus memiliki penyokong yang kuat untuk naik tahta, tapi perasaannya untuk Caroline tidak bisa di tepis begitu saja. "Aku akan memperjuangkan Caroline."
"Memperjuangkan Caroline, sepertinya Caroline tidak butuh perjuangan Pangeran dan belum tentu Caroline menyukai Pangeran." Sindirnya tersenyum sinis.
"Benar, Caroline tidak menyukai ku. Dia hanya mencintai Pamannya. Sampai-sampai Caroline harus menerima penolakan dari Pamannya.
__ADS_1
"Pangeran Oskar !" Ucapnya dengan nada menekan seraya menggertakkan giginya.
"Hormat hamba Yang Mulia." Ucap seorang Kesatrian menunduk hormat. "Nona Ariana ingin bertemu dengan Yang Mulia." Sambungnya.
Duke Elios mengabaikan perkataannya, ia masih menatap sengit Pangeran Oskar. Tidak lama kemudian, datanglah wanita cantik berbalut dengan gaun hijau seraya memegang kipas. "Hormat hamba Pangeran dan Yang Mulia Duke." Ucapnya.
Suasana di ruangan itu sangat hening, tidak ada sahutan di antara keduanya. Nona Ariana melirik ke Pangeran Oskar dan beralih melirik ke arah Duke Elios. Ia heran, ada apa dengan kedua orang itu yang hanya saling menatap dalam diam.
"Pangeran."
Semua orang langsung menoleh ke arah suara itu, seorang wanita dengan gaun kuning turun dari tangga. Pangeran Oskar tersenyum, akhirnya wanita yang ia tunggu-tunggu keluar. Lain halnya dengan Duke Elios yang semakin mengeraskan rahangnya, ia tidak percaya, Caroline tidak mendengarkan ancamannya sama sekali.
Awalnya dirinya tidak ingin menemui Pangeran, tapi setelah melihat ular belang masuk ke dalam kediamannya. Ia mengurungkan niatnya untuk menuruti perintah Duke Elios.
Enak bener dirimu bermesraan dengannya, sementara aku mendekam di penjara batinnya.
"Pangeran, silahkan duduk."
__ADS_1
Caroline berjalan santai di depan Duke Elios seraya meliriknya. Seakan-akan Duke Elios hanyalah sebuah patung baginya.
"Caroline." Pekiknya.