
Ke esokan harinya.
Caroline terbangun, ia buru-buru turun dari ranjangnya, berlari ke arah jendela kamarnya, melihat ke arah pintu gerbang tidak ada seorang pun kecuali dua penjaga, ia baru sadar ternyata masih dini hari. Caroline mengusap dadanya, ia bersyukur bangun lebih awal.
Caroline pun keluar dari kamarnya menuju ke kamar Viscount. Ia akan memberikan jawabannya sekarang. Tidak masalah jika dirinya membangunkan Viscount lebih dulu.
"Apa Viscount sudah bangun?" tanya Caroline melihat ke arah kedua kesatria itu.
Kesatria itu pun mengangguk, sedari tadi Viscount sudah bangun mempersiapkan semuanya.
Sementara di dalam Viscount Luis yang mendengarkan langkah kaki dan suara Caroline di balik pintu, ia mempercepat langkah kakinya ke arah pintu dan membukanya. "Ada apa Caroline?" tanya Viscount Luis senang melihat keberadaan Caroline yang mencarinya. Ia yakin Caroline akan memberikan jawabannya saat ini.
"Masuklah," ujar Viscount Luis mempersilahkan Caroline masuk kedalam kamarnya.
Caroline duduk, di tepi ranjang Viscount Luis dan melihat kotak baju itu sudah tersusun rapi. "Bisakah Viscount Luis satu hari di sini? aku hanya ingin menghabiskan waktu ku sebelum pergi. Bisa saja aku tidak akan kesini lagi." Lirih Caroline menunduk. Hatinya sangat berat meninggalkan kediaman Baron.
Viscount Luis berjongkok, ia mencium kedua tangan Caroline secara bergantian. "Baiklah demi diri mu. Tetapi hari ini saja kan, aku tidak bisa berlama-lama meninggalkan tugas ku."
"Siang harinya kita akan pergi."
__ADS_1
"Jangan cemberut," Viscount Luis menjitak kepala Caroline lalu mencubit pipinya yang lumayan mengembang. "Begitu menggemaskan."
"Hemmm..."
Viscount Luis mendekatkan bibirnya ke bibir Caroline, pandangan mereka pun saling bertemu dan mengunci, detak jantung keduanya seakan mau copot. Caroline meremas tangan Viscount Luis. Entah setan dari mana, kedua bibir itu menyatu saling ******* satu sama lainnya. Air liur mereka pun menyatu, Viscount Luis berdiri di ikuti Caroline. Dengan lembut ia membaringkan tubuh Caroline di ranjangnya. Mencium leher Caroline membuat kedua insan itu tak bisa terkendali. Secepatnya Caroline mendorong tubuh Viscount Luis ia tidak ingin menghabiskan pertamanya tanpa ikatan resmi.
"Maaf Caroline." Ujar Viscount Luis yang sadar akan perbuatannya. Hampir saja ia kehilangan kendali.
Caroline memejamkan matanya, ia malu mengingat adegan tadi.
"Maaf ya," Viscount Luis mengelus pucuk kepalanya.
"Hemm, itu juga salah ku." Cicit Caroline.
Caroline membuka matanya, hatinya tersentuh. Perlakuan hangat dari Viscount Luis membuat matanya berkaca-kaca.
"Viscount, jika hati ku masih terpaut olehnya. Apa yang akan kamu lakukan?"
Viscount Luis mengkerutkan dahinya, ia melihat ke arah Caroline yang juga menatapnya.
__ADS_1
"Aku tidak tau, tapi sebisa mungkin aku akan membuatnya mencintai ku sama halnya dengan ku. Jatuh cinta pada pandangan pertama. Ya, mungkin itu sangat konyol di dengarkan. Tapi percayalah." Viscount Luis beranjak duduk. Hatinya sedikit kecewa. Ia mengerti arah pembicaraan Caroline.
"Aku akan menyerah jika kamu memang memilihnya dan terpaksa menikahi ku. Aku tidak ingin memaksa mu."
Caroline tidak enak hati, seharusnya ia tak membahasnya. Tapi ia tak ingin di cap sebagai wanita pembohong. "Ajari aku mencintai mu." Caroline memeluk Viscount Luis dari arah samping. Ia menyandarkan kepalanya di pundak Viscount Luis.
"Apa aku salah jika aku ingin bahagia? aku tidak ingin terbelenggu dalam masa lalu. Aku tidak ingin egois, Ariana juga membutuhkannya. Sudah seharusnya aku melepaskan semuanya." Ujar Caroline yang mengingat perkataan Duke Elios. Jika dirinya mencintai Caroline, dalam hatinya ia sangat senang tapi akan ada orang yang tersakiti diantara mereka. Ia menoleh kebelakang, Viscount Luis yang tersenyum hangat padanya. Seharusnya dalam cinta, mereka berjuang bersama-sama tapi tidak untuk kali ini.
Aku Cyra, Aku bukanlah Caroline. Tidak sepantasnya aku mengharapkan cintanya, Caroline yang asli sudah meninggal. Dan aku hanyalah bunga pengganti. Jujur saja aku tersentuh oleh pengakuannya, tapi aku takut, dia tidak akan mencintai ku jika dia tau siapa diri ku. Dia hanyalah mencintai Caroline bukan Cyra.
"Aku akan berusaha membuat mu mencintai ku, memberikan mu kenyamanan, kehangatan dan melindungi mu. Maaf jika aku juga egois menginginkan diri mu Caroline Betrigh." Ujarnya dan membalas pelukan Caroline. Ia membaringkan tubuhnya bersamaan dengan tubuh Caroline, tangan kirinya di biarkan menjadi bantalan kepala Caroline.
"Bukalah hati mu untuk ku Caroline, setidaknya sedikit saja." Lirih Viscount Luis dengan mata menerawang langit-langit.
Caroline mendonggakkan wajahnya, ia melihat kesedihan di mata itu. Dan mencium pipinya. "Aku akan berusaha, mari kita berjuang." Ucap Caroline kembali memeluk Viscount Luis.
"Ya, aku akan berusaha membuat mu mencintai ku." Ucap Viscount Luis mendaratkan kecupan singkat di keningnya dan di bibirnya.
Aku tidak tau keputusan ku salah atau benar, aku tidak ingin ada orang yang tersakiti diantara kita Paman, Ariana dia saudara ku walaupun aku membenci sifatnya tapi bukan berarti aku membenci orangnya. Aku percaya, jika kita di takdirkan bersama sejauh apa pun jarak kita. Aku yakin kita akan bersama Paman.
__ADS_1
Selamat tinggal Paman, aku rasa kita harus berpisah seperti ini.
#Istri Kontrak Sang Duke (lapak Orenz ada huruf W😊)