Sakit! Paman, Duke

Sakit! Paman, Duke
Menyerahkan


__ADS_3

Setelah selesai makan malam, Caroline dan Viscount Luis langsung menuju ke kamarnya. Tidak ada percakapan di antara keduanya selama di meja makan malam tadi. Duke Elios yang di paksa menginap di rumah kediaman Viscount Luis. Mau tidak mau dia menurutinya. Apa lagi dia memiliki tujuan lain. Tetapi bukan berarti dia ingin membawa kabur Caroline.


Di dalam kamarnya, Caroline masih jengkel. Ia berusaha agar Duke Elios tidak menginap di kediaman Viscount Luis. Segala alasan dia lakukan. Namun tetap saja, Viscount Luis dan Duke Elios memiliki alasan lainnya.


"Sayang." Viscount Luis meraih sisir yang di genggam Caroline. Ia membantu Caroline menyisir rambut panjangnya.


"Jangan marah." Ujar Viscount Luis. Merasakan wajah bertaksahabat dari Caroline.


"Kenapa kamu membiarkannya menginap di sini?".


"Sayang, dia juga Paman mu. Aku rasa dia juga merindukan mu."


Caroline berdiri, ia membalikkan badannya. "Apa setelah ini kamu ingin aku kembali pada Duke Elios? apa kamu merencanakannya?" tanya Caroline. Dia takut kedatangan Duke memperburuk kehidupan rumah tangganya. Pikiran dan hatinya khawatir tentang kesehatan Viscount Luis dan sekarang orang yang ia khawatirkan malah ingin menambah beban pikirannya.


Caroline memijat pelipisnya, ia duduk di tepi ranjang. Viscount Luis berjongkok, ia merasa bersalah memaksa Duke Elios menginap di rumahnya. "Sayang, maaf. Aku tidak bermaksud seperti itu."


Caroline meredakan amarahnya, ia harus bisa mengontrol emosinya. Ia tidak mau memarahi Viscount Luis yang akan membuat hatinya terluka.

__ADS_1


"Sayang, mulai hari ini jangan melakukan hal seperti tadi." Caroline memberikan pengertiannya, sebisa mungkin dia harus menjaga rumah tangganya terhindar dari masalah.


Viscount Luis tersenyum, ia berdiri. Mendorong tubuh Caroline ke atas kasurnya. Dia ingin haknya sebagai suami. Sudah lama ia menginginkan tubuh Caroline. Junior tidak mau di ajak kompromi saat bersama Caroline yang beberapa kali menolaknya dengan alasan menjaga kesehatannya.


"Aku mau." Ucap Viscount Luis.


Mau tidak mau Caroline menyetujuinya, ia seorang istri yang berkewajiban melayani suaminya. Tidak seharusnya dia menolak lagi.


Viscount Luis mendekatkan bibirnya ke bibir Caroline, ia mencium, ******* bibir merah itu. Menyesalinya setiap jengkal. Bermain di dalam mulut Caroline.


Tangan Viscount Luis membuka jubah tidur Caroline yang hanya menggunakan ikat pinggang. Sama halnya dengan Caroline yang juga membuka jubah tidur Viscount Luis.


Hatinya dan pikirannya, ia fokuskan ke wajah Viscount Luis. Dia tidak ingin melakukan kewajibannya masih terbayang wajah Duke Elios. Sekali lagi dia menekankan hatinya, bahwa dirinya sekarang milik Viscount Luis.


Viscount Luis turun dari bibir Caroline, beralih ke lehernya. Memberikan beberapa tanda cintanya. Dengan tanda itu, dia sudah membuat jantung Duke Elios copot.


Viscount Luis beralih ke arah kedua buah benda kenyal itu. Ia mencium bergantian kedua benda kenyal itu, menyesapinya dengan lembut lalu memperdalamnya.

__ADS_1


Tubuh Caroline seakan menegang, ia akui Viscount Luis begitu lihai membuat tubuhnya teransang begitu cepat.


"Sayang." Lirih Caroline yang semakin tersiksa dengan permainan tangan Viscount Luis di areanya.


Viscount Luis membuka lebar-lebar. Perlahan-lahan dia memasukkan ke dalam terowongan itu.


Caroline meringis kesakitan, segera Viscount Luis mencium mata Caroline yang memejamkan matanya. "Sayang maaf, aku membuat mu sakit."


Caroline membuka matanya, dia tersenyum dan mengangguk. Ingin meneruskan semua permainannya.


Viscount Luis mencium kembali bibir mereha itu. Lalu melajukan juniornya dengan lembut. Sesuatu kenikmatan yang tidak pernah dia dapatkan. Desahan itu keluar dari mulutnya begitu saja.


Desahan di antara keduanya memenuhi ruangan itu. Viscount Luis bertambah mempercepat lajuannya di iringi kelembutan. Sampai dirinya merasakan sesuatu yang keluar dari juniornya menuju rahim Caroline. Ia membiarkan junior itu, agar segera tumbuh Luis kecil.


"Sayang terimakasih." Ujar Viscount Luis yang ambruk di atas Caroline.


Caroline menangis, dia sedih bukan karna kehilangan keperawanannya bersama orang yang tidak dia cintai. Tapi dia sedih mengingat perkataan tadi pagi. Hatinya tidak rela, orang yang mencintainya harus pergi. Biarkan dirinya membahagiakan Viscount Luis. Ya, dia merelakan semuanya. Merelakan cintanya, setidaknya dia membalas semua yang Viscount Luis berikan padanya. Senyuman hangatnya, perlakuan lembutnya itu.

__ADS_1


Tuhan aku sudah melakukan kewajiban ku sebagai seorang istri. Aku mohon berikan kami kebahagian. Kabulkan harapan dan keinginan Viscount Luis, Suami ku batin Caroline lalu mencium kening Viscount Luis.


__ADS_2