
"Caroline." Viscount Luis langsung menghambur ke dalam pelukan Caroline. Wanita yang ia rindukan beberapa hari.
"Aku merindukan mu." Viscount Luis mencium sangat dalam di kening Caroline. Bahkan para pelayan dan pengawal melirik tersenyum. Hari ini mereka melihat dalamnya cinta Viscount Luis pada Caroline.
"Caroline aku sudah menyiapkan makanan yang sangat kamu sukai."
Caroline melihat wajah pelayan yang melirik mereka dengan wajah memerah. "Le-lepaskan aku dulu, malu di lihat para pelayan."
Viscount Luis melihat kanan kiri, "Kenapa kalian masih di sini? cepat pergi ! mengganggu saja." Gerutu Viscount Luis, ia kembali memeluk wanita di depannya.
"Hais."
Caroline tidak tau menolaknya atau mencari alasan lagi. Caroline melihat ke arah kedua tangannya. Tangan itu pernah memeluk Duke Elios dengan hangat dan sekarang tangan itu harus berpindah memeluk Viscount Luis. Caroline pun menggerakkan tangannya ke arah punggung Viscount Luis lalu mengelus punggung itu.
"Ya, aku juga merindukan Viscount." Balas Caroline.
__ADS_1
Viscount Luis yang menerima elusan tangan hangat itu dan ucapan hangat itu, ia tersentuh lalu bertambah mengeratkan pelukannya. Seakan dunia hanya miliknya seorang.
"Kamu dunia ku Carolin, kamu dunia ku dan jangan pernah meninggalkan ku. Apa pun yang terjadi. Maaf aku egois, memaksa mu mencintai ku. Maaf Caroline aku sangat mencintai mu. Tetapi jika keputusan ini membuat mu menderita, aku siap kehilangan mu."
Caroline melepaskan pelukannya, ia menghapus air mata Viscount Luis. "Kita akan tetap bersama, ajarkan aku untuk mencintai mu." Caroline meraih tangan Viscount Luis menuju ke dalam kediamannya.
"Baiklah, istirahat dulu. Pasti lelah Caroline ku kan." Ucap Viscount Luis, lalu mencium bibir Caroline.
Caroline menatap punggung Viscount Luis yang mulai menjauh, jujur saja hatinya tersentuh pada Duke Elios. Entah itu hati pemilik tubuh aslinya atau hatinya. Tapi dia yakin, itu berasal dari hatinya. Selama ini ia menekan hatinya agar tidak terlalu mencintai Duke Elios dengan keberadaan Viscount Luis. Ya, mungkin orang yang mendengarkannya atau melihatnya pasti dia dikatakan wanita murahan, bodoh dan banyak lagi sebutan itu.
Dan sekarang sudah waktunya dia melepaskan semuanya. Mencintai orang yang mencintainya. Apakah benar kata pepatah, lebih baik di cintai dari pada mencintai? semoga keputusan ini hal yang benar dalam kehidupannya kali ini.
Terlihat seorang wanita dan laki-laki yang saling bercanda. Setelah kebenaran terungkap Duke Elios mengurung diri di kamarnya. Sekalipun menghilangkan rasa bersalahnya, tapi rasa bersalah itu masih ada.
Dan pada saat itu, Ariana mendatanginya, ingin berpamitan secara langsung. Tapi melihat Duke Elios yang sedih, Ariana bermaksud menghiburnya. Ariana menyangka jika Duke Elios bersedih karna Caroline menikah. Setiap dia membahas Caroline, Duke Elios justru menampilkan wajah marah dan sedih. Dan mengatakan tidak akan membahas Caroline.
__ADS_1
Ariana pun paham, mereka membahas sebuah lelucon pada masa mereka dulu.
"Haha, kamu ingat. Dulu kamu menangis sampai ingus mu keluar." Ucap Duke Elios sambil tertawa lepas. Sejenak dia melupakan masalahnya tentang Caroline dan Cyra yang besok akan menikah dengan Viscount Luis. Ia marah karna sudah di bohongi dan sedih karna Caroline yang asli sudah pergi.
"Yang Mulia jangan menertawakan ku seperti itu." Cemberut Ariana.
"Baiklah, ini sudah larut. Saya harus pulang." Sambungnya lagi.
Duke Elios mengacak pucuk kepala Ariana, "Baiklah. Semoga perjalanan mu besok menyenangkan." Ucap Due Elios.
"Yang Mulia Duke juga harus berhati-hati dalam menyelesaikan perintah Baginda Kaisar." Ujar Ariana khawatir saat ia tau, Duke Elios menerima perintah tentang orang yang tengah membuat resah di wilayah utara.
Ariana menunduk hormat, ia masuk ke dalam keretanya.
Emi yang tadinya hanya mengikuti kedua orang itu mengelilingi kediaman Duke. Ada rasa tidak enak di hatinya. Ia bermaksud ingin mengingatkan Duke Elios. Ia sebagai bawahan yang sangat setia pada Duke Elios tidak ingin sesuatu yang membuatnya menyesal.
__ADS_1
"Yang Mulia nona Carol..."
"Aku tidak ingin membahasnya." Potong Duke Elios datar, hatinya sakit telah di bohongi. Andai saja dia mengatakannya dari awal, tidak akan sesakit ini rasa bersalahnya pada Caroline, keponakaan tercintanya itu. Ia akan menyibukkan dirinya dengan pekerjaan istana dan esok hari dia harus bersiap-siap berangkat.