
"Ayah," Caroline memeluk Baron Knight. Saat ia mendengar Caroline melahirkan. Segera Baron Knight membereskan keperluannya. Ia merasa berterimakasih, Viscount Luis memberitauakannya.
Ariana yang pada saat ini sudah kembali ke kediaman Barok Knight. Ia juga merasa senang atas kelahiran anak Caroline. Ia juga berniat ingin menemui Caroline sekaligus meminta maaf atas perbuatannya. Rasanya hanya satu kali minta maaf tidak akan melupakan semua kejahatan yang ia lakukan pada Caroline.
Dan sekarang Ariana menatap haru melihat saudaranya berpelukan dengan sang ayah.
"Sayang maaf baru datang. Dan ini Ariana dia juga datang kesini ingin mengucapkan selamat."
"Ariana." Caroline memeluk Ariana tanpa ragu yang di sambut pelukan hangat oleh Ariana.
"Selamat, akhirnya kamu memiliki seorang Putra." Ujar Ariana.
"Ya, begitulah."
"Baron." Kedua laki-laki itu menunduk hormat. Mata Ariana beralih ke sosok laki-laki yang ia rindukan. Lebih tepatnya masih mencintai. Laki-laki itu juga tersenyum pada Ariana.
"Ariana, Ayah, mari duduk." Ujar Caroline mempersilahkan.
__ADS_1
"Sayang di mana cucu ku. Aku ingin melihatnya." Ujar Baron Knight melihat sekelilingnya.
"Baby Elca masih ada di kamar Ayah bersama Ibu Asuh. Nanti mereka akan kesini."
"Oh, baiklah. Ayah sudah tidak sabar ingin melihatnya." Ujar Baron Knight dengan antusiasnya.
Sesaat kemudian.
Setelah para pelayan menyiapkan camilan dan juga teh hitam. Ibu Asuh datang dengan membawa Baby Elca di dalam gendongannya. Baron Knight yang tadinya masih santai berbicara. Ia langsung berhambur meminta Baby Elca.
Duke Elios menghampiri Baron Knight. "Baron, apa dia mirip dengan ku?" tanya Duke Elios penuh harap. Ia sudah bosan mendapatkan ejekan dari Viscount Luis semenjak Baby Elca mengompol di dalam gendongannya.
Baron Knight menaikkan salah satu alisnya. Tentu saja Baby Elca tidak mirip dengannya sedikit pun. Jelas laki-laki di depannya bukanlah Ayahnya, kenapa dia justru bertanya mirip atau tidaknya?
"Hanya telinganya saja yang mirip dengan Yang Mulia Duke." Ujar Baron Knight yang mendapat tertawan dari Viscount Luis serta yang lainnya.
Duke Elios semakin kesal, Viscount Luis semakin puas. Tidak semudah itu mengalahkannya.
__ADS_1
Caroline menghampiri kedua laki-laki itu, "Tidak ada yang mirip dari Paman." Timpal Caroline membuat Duke Elios mendesah. Lagi-lagi ia harus kalah dari Viscount Luis.
"Tidak akan, aku yakin saat dewasa nanti dia akan mirip dengan ku." Ujar Duke Elios merasa jengah.
Sementara di Ariana menatap ke arah Viscount. Ia sudah tau perihal penyakit Viscount dari Ayahnya. Jika Viscount mati, pasti Caroline akan bersama dengan Duke Elios. Dia juga sudah mengubur perasaannya itu.
"Viscount apa kamu bahagia?" tanya Ariana.
Viscount Luis menoleh. "Tentu saja aku bahagia, apa kamu masih mengharapkannya?"
"Boleh jujur aku masih mengharapkannya, tapi sekarang sudah tidak lagi."
"Berhentilah mengharapkannya Ariana. Sejauh apa pun aku dan kamu memisahkan Caroline tapi dia jodoh untuk Yang Mulia Duke pasti akan kembali nona Ariana. Setiap harinya aku selalu minum obat, hari ini aku masih memiliki nyawa, tapi harapan hari esok aku masih ingin memiliki nyawa. Aku tidak tau kapan aku mati nona Ariana. Harapan itu masih ada setiap harinya. Tapi aku sadar, semua yang hidup pasti mati."
Ariana menunduk, ia membenarkan perkataan Viscount Luis. Benar, demi melupakan Duke Elios ia menerima lamaran dari bangsawan lain.
"Mari kita satukan mereka nona Ariana. Sudah cukup kita memisahkan mereka. Sudah cukup aku menjadi orang egois. Caroline begitu memperlakukan ku layaknya seorang suami yang mendapatkan kasih sayang dari istri yang mencintainya. Caroline tidak pernah mengeluh sedikit pun, dia terus memberikan cinta dan kasih sayangnya pada ku. Sampai aku merasa menjadi laki-laki yang beruntung, yang tidak pernah di lantarkan seorang istri walaupun tidak dicintainya. Aku selalu bertanya-tanya, masih adakah wanita sebaik Caroline? jika wanita lain yang tidak mencintai suaminya. Sudah pasti dia berselingkuh, memilih pergi meninggalkan suaminya. Aku bersyukur Tuhan memberikan aku kebahagiaan itu. Sudah waktunya aku menyatukan mereka Ariana."
__ADS_1