
"Kita bertemu lagi Viscount."
Duke Elios mengingat pertemuan pertama kalinya yang hanya saling menatap dingin dan membungkuk hormat tanpa bertegur sapa.
"Hidup Caroline terserah pada Caroline Duke."
"Benar, akan tetapi aku yang mengasuhnya."
"Walaupun Duke orang yang mengasuhnya, tapi Duke hanyalah batas pengasuhnya bukan orang yang terpenting dalam hidupnya."
"Tapi aku adalah orang pertama yang paling dia cintai."
"Cukup Paman !" Bentak Caroline, "Sudah cukup, hidup ku, aku yang menjalani bukan Paman. Jangan pernah melupakan kata-kata Paman."
"Yang Mulia maaf, untuk kali ini keputusan berada di tangan Caroline." Timpal Baron Knight yang tak ingin kebahagiaan Caroline di kekang oleh Duke Elios. Jika pun Duke Elios orang yang juga berjasa mengasuh Caroline, tapi Caroline berhak menentukan hidupnya.
Duke Elios menarik lengan Caroline, dengan cepat Viscount Luis juga menarik lengan Caroline. Terjadilah sengatan listrik di bola mata mereka dan mengeluarkan aura pembunuh.
"Lepaskan tanganya," Duke Elios melihat ke arah tangan Caroline yang di pegang.
"Tapi Dia tunangan ku."
"Dia bukan tunangan mu, aku belum menyetujuinya."
__ADS_1
"Bagaimana cara ku, agar Duke menyetujuinya."
Duke Elios tersenyum menyeringai. "Mudah, satu lawan satu."
Caroline tidak tahan dengan sikap Duke Elios yang Arogant. "Cukup Paman! tidak akan ada yang namanya baku hantam. Keputusan ku sudah bulat, aku akan menikah dengannya." Teriak Caroline membuat Duke Elios menegang. Ada rasa nyilu di ulu hatinya. Dia mencengkram tangan Caroline dengan kuat.?
"Yang Mulia Duke, biarkan Caroline memilih hidupnya." Ujar Ariana yang tidak suka melihat sikap Duke Elios yang posesif. Seharusnya dia lah yang di perlakukan seperti itu, bukan Caroline. Orang yang paling dia benci.
"Diam ! aku tidak akan melepaskannya."
"Yang Mulia Duke, Viscount Luis sudah menjadi tunangan Caroline." Ujar bibi Roseline yang juga kesal dan penuh emosi. "Lagi pula, Duke lah yang membuangnya." Sambungnya lagi.
"Cukup Duke, biarkan Caroline bersama dengan Viscoutn Luis."
"Tapi aku tidak suka padanya." Duke Elios menunjuk ke arah Viscount."
Duke Elios pun mengabaikan Caroline, ia menarik kasar tangan Caroline.
"Baik, kita bertarung. Akan aku buktikan, aku bisa menjaga Caroline."
"Baguslah." Jawab Duke Elios acuh.
Caroline menghempaskan tangan Duke Elios, hingga pegangan ke lengannya terlepas dan menarik lengan Viscount ke halaman belakang.
__ADS_1
"Viscount maaf atas sikap Paman ku tadi." Ujar Caroline merasa tidak enak hati.
"Tidak masalah, aku paham Paman mu masih belum bisa menerima mu, tapi apa benar kamu pernah mencintai Duke Elios."
Caroline bingung, bagaimana dia harus menjelaskannya? Sementara jiwanya hanyalah numpang di tubuh ini.
Viscount Luis mengerti kebingungan Caroline, ia berjongkok menatap lekat mata itu sambil menggenggam tangan Caroline."Apa benar kamu pernah mencintai nya?"
Caroline mengangguk, "Pernah, tapi waktu itu hanyalah kebodohan ku." Caroline diam sejenak, ia melirik ke arah wajah Viscount, ada rasa sedih di wajah. "Tapi tenang saja, aku sekarang tidak mencintainya." sambungnya lagi.
Viscount Luis menenggelamkan kepalanya di paha Caroline, ia menatap lurus ke arah semak-semak. "Aku mohon jangan lagi mencintainya, cukup aku seorang Caroline. Mari kita pulang, aku ingin segera mengadakan pertunangan. Jika perlu kita langsung menikah saja."
Caroline mengusap lembut kepala Viscount Luis, "Mana mungkin kita bisa langsung menikah. Semua peraturannya harus bertunangan dulu."
Viscount Luis mendonggakkan wajahnya, "Benar ya, jaga hati."
Caroline mengangguk tersenyum, lalu mengecup singkat kening Viscount Luis membuat wajahnya memerah bak kepiting rebus.
Viscount Luis tak mau ketinggalan kesempatan, ia mendorong leher Caroline sampai kedua bibir itu bertemu. Aliran hangat itu pun menjalar di tubuh keduanya, Viscount Luis memperdalam ciumannya, meminta lagi dan lagi.
Dari kejauhan, Duke Elios melihat adegan itu membuatnya darahnya panas, ia meninju tembok di depannya sampai tembok itu retak.
"Kenapa? kenapa kamu harus memilihnya Caroline?" Duke Elios pun langsung pergi merasakan sakit di ulu hatinya.
__ADS_1
"Kenapa aku harus sesakit ini? seharusnya aku senang."
Duke Elios sejenak menghentikan langkah kakinya melihat Kenan dan Mia. "Katakan pada Viscount Luis aku menunggunya di kediaman Duke. Aku ingin melihat kemampuannya."