Sakit! Paman, Duke

Sakit! Paman, Duke
pasrah


__ADS_3

eeemmm


Lenguhan keluar dari mulut Caroline. Ia merasakan sesuatu yang memompa tubuhnya dan kegelian di area kedua buah benda kenyal itu.


Ia meraba dadanya, merasakan kepala seseorang. Aroma rambut itu ia kenal. Segera Caroline membuka matanya, ia melihat Duke Elios tengah menyesapi keduanya dengan gantian.


"Sayang." Caroline beringsut, kepalanya setengah di angkat. "Ini masih pagi."


"Tapi aku mau." Caroline mengerutkan dahinya, ia lelah mengimbangi permainan Duke Elios. Semalaman ia meladeni pria itu.


"Tidak kerja kah," Caroline bermaksud menghentikannya.


"Tidak !" Duke Elios memompa juniornya. Pinggulnya ia goyangkan dengan lembut. Mengajak tubuh Caroline bermain dengannya.


Caroline mendesah, ia menarik leher Duke Elios, menyesapi bibir bawahnya itu. "Aku mencintai mu."


"Dan aku lebih mencintai mu." Caroline tersenyum, ia kembali mencium bibir itu.


Caroline mengeratkan pelukannya, pikirannya melayang entah kemana. Ia tidak bisa berfikir jernih. Pikirannya kosong dan semakin kosong. Nafasnya memburu, keringat malam kembali membasahi tubuh keduanya.


"Arghhhh ! Cyra." Semburan putih dah kental itu keluar dari junior milik Duke Elios. Duke Elios menjeda, tubuhnya lunglai. Ia mengeratkan pelukannya.


"Sayang kamu lelah." Caroline menjatuhkan dirinya di ikuti Duke Elios yang di peluk.


"Maaf sayang, aku membangunkan mu." Duke Elios teringat, awalnya ia ingin turun dari kasur empuknya itu. Namun matanya memekik melihat kedua gunung milik Caroline terpampang jelas di di matanya.


Duke Elios menahan hasratnya, ia tidak berniat mencumbui Caroline dalam keadaan tidur. Namun hasrat yang semakin menggebu itu kembali mencumbui Caroline sampai wanita itu terbangun.


"Sayang aku ingin posisi seperti itu." Duke Elios memainkan benda kenyal yang menghitam itu. Sesekali ia menyesapinya lalu memainkannya kembali.


"Oh, ini sudah pagi sayang. Mereka pasti menunggu kita sarapan." bujuk Caroline. Pinggangnya merasa encok. Jika di dunia nyata sudah pasti dia meminta pijat.


Duke Elios beranjak berdiri, ia melepaskan penyatuannya. "Kamu tega !" Duke Elios menuju ke kamar mandinya dalam keadaan telanjang.


"Hah," Caroline melongo, "Kenapa dia lebih parah dari Viscount. Seharusnya aku tidak mengajarkannya dengan gaya aneh." Caroline beringsut ia membenarkan selimutnya sampai menutupi semua badannya. Kaki jenjangnya mengarah ke kamar mandi.


"Sayang." Caroline mengetuk pintu kamar mandi itu. Di dalam kamar mandi ia tidak mendengarkan apa pun.


"Sayang buka pintunya."


Dengan wajah cemberut Duke Elios membuka pintu itu. Kemudian duduk di tepi bathub itu.

__ADS_1


Oh astagah, kenapa dia seperti anak ayam. Sadarkah dirinya dalam ke adaan telanjang batin Caroline.


"Kenapa? marah."


"Aku ingin itu." Tunjuk Duke Elios, juniornya kembali menegang.


Rasanya aku ingin menghilangkannya saja. Apa dia tidak tau, pinggang ku hampir patah batin Caroline geram.


"Sayang aku ingin itu."


Caroline menaikkan salah satu alisnya. Ia menunduk lalu mengecup singkat dan memainkannya di dalam mulutnya.


Nafas Duke Elios pun kembali memburu naik turun. Hawa panas kembali keluar dari dalam tubuhnya. Dari juniornya ke aliran darahnya itu.


"Arghhh !!" Duke Elios memegang kepala Caroline. Ia memejamkan matanya. Menikmati kenyamanan itu. Caroline melahapnya dengan cepat dan lembut layaknya permen lolipop.


"Sayang berhenti."


Caroline menghentikan aktivitasnya. Duke Elios berdiri di ikuti Caroline. Dengan cepat Duke Elios memutar tubuh Caroline memunggunginya. Ia membungkukkan tubuh Caroline. Ia ingin juniornya lebih leluasa memasukkan dari arah belakang.


Caroline yang sudah mengerti ia memegang tembok di depannya itu. Membiarkan junior milik Duke Elios menghantamnya.


Duke Elios pun melajukannya dengan cepat. Tangannya meremas kedua benda kenyal itu. Duke Elios mendesah seraya memejamkan matanya. Merasakan juniornya menyemburkan kembali. Ia sangat suka dengan gaya Caroline saat ini. Gaya yang ia lakukan membuatnya semakin candu pada tubuh istrinya itu.


Nafasnya keduanya memburu. Dengan hati-hati Caroline berdiri tegak. Duke Elios pun memeluknya dari belakang. Juniornya pun perlahan keluar dari terowongan itu.


"Sayang terimakasih." Duke Elios mengecup singkat bahu Caroline yang membuatnya geli.


"Sekarang mandilah." Caroline melepaskan lilitan tangan kekar itu di perutnya.


"Aku tidak mau, mandikan aku." Duke Elios mengelus-eluskan hidung di bahu Caroline.


"Oh, baiklah. Semakin cepat semakin baik." Pasrah Caroline.


Selang beberapa menit.


Caroline keluar dari kamar mandinya di ikuti Duke Elios. Ia menuju sofa yang berwarna merah itu. Menjatuhkan dirinya dalam posisi tengkurap. Rasanya pinggangnya sangat lega.


"Sayang," Duke Elios tidak mengerti kemauan Caroline. Bukankah selesai mandi ia harus bersiap-siap turun.


"Aku lelah, pinggang ku terasa sakit." sungut Caroline yang sangat kesal.

__ADS_1


"Sayang aku minta maaf aku akan memijatnya dengan lembut."


"Tidak !" Caroline segera menjawab, ia tidak.ingin membangunkan singa yang sedang tidur.


"Biarkan Kenan dan Mia yang melakukannya."


"Memangnya mereka siapa? berani menyentuh istri ku. Tidak bisa apa pun yang menyangkut tubuh mu, kulit mu. Harus aku yang melakukannya."


"Apa kamu bisa menahannya."


"Aku akan menahannya," ujar Duke Elios berjongkok lalu memijat pinggang Caroline dengan lembut.


Caroline tak berani menolak, pijatan Duke Elios sangat lembut. Bahkan ia merasa matanya tak bisa lagi terbuka.


Silahkan mampir jika berkenan.


#Permaisuri Sang Penguasa


#Selir Yang Terbuang


#Mandadak Selir


#Putri Mahkota Yang Terbuang (Terbit)


#Permainan Sang Permaisuri


#Permaisuri Jahat !


#Oh, Kaisar Ku


#Istri Kontrak Kaisar Kejam


#Paman, Duke


#Istri Pengganti Sang Duke


#Pembalasan Permaisuri Yang Dingin


#Simpanan Kontrak Kaisar Kejam


#lapak orenz / aplikasi W A T T P A D

__ADS_1


#Istri Kedua Sang Duke


#Istri Kontrak Ke Empat Pangeran.


__ADS_2