
Tak terasa sudah dua hari ini, Caroline menghabiskan waktunya dengan bibi Roseline. Dia sibuk mempersiapkan pertunangannya yang akan di laksanakan esok hari.
"Nyonya," sapa seorang wanita membungkuk hormat.
Caroline dan bibi Roseline menoleh, sedari tadi mereka hanya sibuk memilih kalung untuk Caroline. Caroline dan bibi Roseline tertegun, dengan gaun putih itu polos namun terkesan elegan. Dan bertaburan mutiara putih. Serta kerangka bunga di kepalanya.
"Gaun untuk nona Caroline telah siap." Sambungnya lagi.
Caroline dan bibi Roseline puas akan hasil rancangannya itu, "Waw cantik sekali." Ujar Caroline menatap berbinar.
"Caroline," sapa seorang laki-laki yang terlihat tampan. Laki-laki itu tersenyum melihat Caroline yang sesenang itu. Besok adalah hari paling bersejarah di dalam hidupnya. Maka dari itu ia tidak ingin terjadi kesalahan sekecil apa pun.
"Bagaimana dengan gaunnya? kamu suka,"
Caroline mengangguk, "Terimakasih." Ucapnya.
Bibi Roseline memberikan isyarat kepada para pelayan agar meninggalkan Viscount Luis dan Caroline.
Viscount Luis meraih pipi Caroline, ia rindu pada wanita di depannya. Jika mau, hari ini dan detik ini juga ia ingin menikah dengan Caroline.
__ADS_1
"Aku tidak sabar menunggu tiga hari lagi, rasanya seumur hidup bagi ku."
Caroline terkekeh, dia mencubit punggung Viscount Luis. Sebisa mungkin dia meyakinkan hatinya, mulai detik ini hanya Viscount Luis lah yang akan ada di hatinya.
Viscount Luis mencium bibir Caroline, **********, menyesapi air liur itu. Viscount Luis menyandarkan dahinya ke dahi Caroline, nafasnya memburu, sekujur tubuhnya panas. Setiap bertemu dengan Caroline, jiwa kelakiannya tidak sabar ingin melahapnya.
"Caroline, berjanjilah. Berjanjilah selamanya akan tetap bersama ku. Selamanya akan tetap mencintai ku." Lirihnya.
"Aku berjanji, hati ku sepenuhnya milik Luis."
Viscount Luis memeluk Caroline, di dalam pelukan hangat itu. Air matanya turun tanpa ada yang meminta. Dia begitu terharu dengan jawaban Caroline. Dirinya sangat berharap pada Caroline. Dia yakin, Caroline tidak akan pernah meninggalkannya. Jika pun Duke Elios memintanya.
Caroline melepaskan pelukannya, sejenak dia memandang netra itu dan berjinjit menciumnya. "Sudah yakin,"
Viscount Luis diam, kali ini dia ingin berteriak dan mengatakan Caroline telah mencintainya. Dia juga ingin mengatakan Caroline adalah miliknya.
Kedua orang itu pun berpelukan kembali. Mereka mengungkapkan rasa kebahagian yang tiada taranya.
Disisi lain..
__ADS_1
Di ruangan tampak gelap tanpa tembusan sinar matahari. Seorang laki-laki duduk di lantai dengan menyandarkan punggungnya. Di depannya terdapat beberapa botol Wine. Sudah berapa banyak wine yang ia minum, namun tidak menenangkan hatinya. Pikirannya gelap, hatinya gelap tidak ada sinar cahaya lagi di kehidupannya. Satu-satunya cahaya yang ia jaga selama ini.l sudah pergi.
Selama dua hari itu pula, dirinya menutupi dari dunia luar. Tidak ingin menemui siapa pun, jiwanya telah hilang.
"Caroline." Hanya nama itu yang ia sebut setiap hembusan nafasnya. Dia melihat ke tangan kanannya, melihat botol itu yang masih berisi cairan memabukkan itu. Dia kembali meneguknya.
"Hah, aku bodoh. Kenapa aku harus menyadarinya sekarang." Dia kembali meneguk wine itu.
"Semua itu gara-gara dia, aku akan membuatnya menderita. Aku akan membuatnya merasakan apa yang aku rasakan, Ariana tunggulah pembalasan ku. Seandainya diriku dulu bisa membedakan antara obsesi dan cinta." Laki-laki itu pun tertawa kayaknya seperti orang gila. "Aku tidak akan menyakitinya." Lirihnya di iringi butiran bening itu. Setiap detik tulang di dalam tubuhnya seakan rapuh karna sebuah penyesalan.
"Caroline, Paman akan menunggu mu. Tidak tau sampai kapan? mungkin sampai Paman mati. Paman akan menunggu mu Caroline." Lirihnya.
Sementara Emi di sampingnya hanya diam, selama dua hari itu. Dia bergantian dengan temannya menjaga Duke Elios. Hatinya juga merasa kasihan, tapi sekarang nasi sudah menjadi bubur.
"Yang Mulia Duke, mulailah hidup baru. Buktikan jika Yang Mulia akan menunggunya." Ujar Emi, sudah dua hari dia menasehati Duke Elios. Namun hanya di anggap angin lalu.
Duke Elios diam sejenak, ia berfikir apa yang di katakan Emi ada benarnya. Dia harus kuat dan kuat. Dia tidak boleh lemah menunggunya. Dia yakin takdir akan menyatukan perasaanya kembali. Entah berapa hari, berapa bulan dan berapa tahun. Tapi keyakinan hatinya sangat kuat.
Duke Elios berdiri, langkah kakinya menuju ke arah jendela. Dia menyingkapi gorden itu, membiarkan sinar matahari menyinari tubuhnya itu. "Benar, aku tidak boleh seperti ini. Aku harus bisa meyakinkan dirinya." Ucapnya dengan tekad yang kuat.
__ADS_1