Sakit! Paman, Duke

Sakit! Paman, Duke
kesedihan Baron Knight


__ADS_3

Baron Knight menyandarkan tangannya, ia berharap pintu itu terbuka, seperti hati Caroline yang terbuka untuknya, menerimanya sebagai seorang Ayah.


"Caroline, maafkan Ayah." Ujar Baron Knight seraya menghapus jejak air matanya dan meninggalkan kediaman Baron Betrigh.


Baron Knight menaiki kudanya, ia menuju ke tempat peristirahatan dan berlari kecil ke arah pemakaman yang bertuliskan nama Berlia dan di sebelahnya terdapat nama Baron Betrigh.


"Berliaaaa." Baron Knight memukul dadanya, ia menangis tersedu-sedu. "Kenapa? kenapa kamu melakukan ini? kenapa kamu tidak mengatakannya Berlia." Baron Knight bersujud ia menatap batu nisan berwarna putih itu.


"Kenapa Berlia? kenapa kamu melakukannya? kenapa kamu harus membuatku membenci mu dan di benci oleh putri ku. Seharusnya kamu jujur saja Berlia. Aku tidak akan mengambil tindakan yang bodoh." Teriak Baron Knight menggebu-gebu. Ia merangkak ke arah batu nisan itu dan menciumnya.


"Berlia, kenapa kamu harus membuatku merasakan penyesalan seumur hidup?"


Pengawal Baron Knight memejamkan matanya, hatinya juga begitu sakit melihat Baron Knight yang menangisi semua penyesalannya.


"Bawa aku Berlia, aku tidak sanggup berpapasan dengannya. Aku malu Berlia, aku malu. Aku menyesal."


"Tuan." Pengawal Kesatria Baron Knight ingin memapah tubuh Baron Knight, ia tidak tega melihat Baron Knight memeluk erat batu nisan berwarna putih itu.


"Jangan menyentuhku, aku ingin disini." Bentak Baron Knight, "Pergilah." lirihnya.

__ADS_1


Kesatria itu pun membungkuk hormat, ia akan mengawasi Baron Knight dari jauh. Sekarang bukan waktunya dirinya menjadi pahlawan yang menenangkan hati Baron Knight.


"Dan kau," Baron Knight melihat ke arah batu nisan atas nama Baron Betrigh. "Kenapa kau juga melakukannya, kau juga berkerjasama dengan Berlia untuk membodohi ku. Kau menganggap ku teman?" Baron Knight terkekeh.


"Seharusnya kamu jujur pada ku, aku akan memperjuangkan Berlia. Aku tidak akan mengorbankan kebahagiaanya dan juga putri ku."


"Aku tau, itu rencana mu. Agar putri ku membenci ku sendiri." Baron Knight mengusap lembut batu nisan Baron Betrigh. "Apa kamu puas? teman macam apa setelah merebut wanita yang aku cintai, dan sekarang kamu ingin merebut putri yang aku inginkan."


Baron Knight menggigit bibir bawahnya, sungguh hatinya bagaikan di terkam oleh ribuan jarum. Nyawanya seakan menghilang begitu saja. Hidupnya dalam sekejap hancur. Putaran masa lalu kini muncul di kepalanya, ia ingat senyuman Berlia, ia juga ingat Berlia menginginkan seorang putri yang mirip dengannya bahkan dirinya sempat berdebat karna dirinya tidak mau mengalah putrinya dan putrinya harus mirip dengannya.


"Benar, aku kalah. Caroline mirip dengan mu. Hanya beda sifatnya yang bar-bar." lirih Baron Knight yang menatap kosong kedepan.


Baron Knight masih terdiam, ia tidak ingin pergi dari makam itu. Butiran salju itu terus bertambah, tubuh Baron Knight kini di tutupi salju. Sang Kesatria yang sedari tadi menahan dinginnya, karna tidak tega, ia kembali menghampiri Baron Knight.


"Tuan." Teriaknya melihat mata Baron Knight yang terpenjam rapat.


"Pergi, aku mau di sini." lirih Baron Knight.


"Tuan tidak harus seperti ini, jika ingin memenangkan hatinya. Tuan harus berusaha. Jangan menyiksa diri Tuan, anggaplah semua ini pelajaran untuk Tuan." Ucap sang pengawal seraya memapah tubuh Baron Knight.

__ADS_1


"Aku ayah yang tidak becus, aku tidak tau siapa anak ku."


Sang pengawal itu pun membantu Baron Knight menaiki kudanya, ia duduk di belakang seraya memeluk Baron Knight yang tubuhnya mulai panas dan lemah.


Sesampainya di kediaman Baron, sang pengawal berteriak meminta bantuan. Para pelayan dan pengawal pun langsung berlari membantu memapah tubuh Baron Knight ke kamarnya. Setelah tubuhnya di bersihkan, Baron Knight di kompres, karna tubuhnya semakin panas.


"Ada apa dengan Ayah?" tanya seorang wanita yang tiba-tiba masuk setelah mendengar ayahnya mengalami demam.


"Apa yang terjadi dengan Ayah?" tanya Ariana kepada sang pengawal. Ia memeras kain itu lalu menempelkan di kening Baron Knight.


"Tuan tidak ingin pergi dari makam Nyonya Berlia dan Baron Betrigh."


Ariana bertambah mengeratkan perasannya, ada rasa tidak suka di hatinya mendengarkan penuturan dari sang pengawal.


"Caroline." Gumam Baron Knight.


"Berlia,"


"Dia sudah mati Ayah, seharusnya yang Ayah sebut nama Ibu, bukan namanya." Bentak Ariana.

__ADS_1


"Dan satu lagi jangan pernah menyebutnya Ayah, dia bukan anak Ayah." Ucap Ariana langsung pergi meninggalkan Baron Knight yang selalu memanggil nama Caroline dan Berlia.


__ADS_2