Sakit! Paman, Duke

Sakit! Paman, Duke
Cukup hari ini. Jangan ada lain hari lagi.


__ADS_3

"Sungguh menggelikkan !" ucap Caroline tersenyum sinis ke arah Duke Elios yang bingung antara mengejar Ariana atau melangsungkan pembicaraannya dengan Caroline.


"Kejarlah, dia membutuhkan kasih sayang Yang Mulia Duke Elios." Ujar Caroline dengan penuh penekanan dan tajam.


"Caroline ada apa?" tanya Baron Knight yang tiba-tiba muncul di belakang Duke Elios. Saat mendengarkan Ariana ke kediaman Baron Betrigh, ia langsung mencari Caroline karna takut Ariana akan bersikap kurang ajar lagi.


"Ayah, sebaiknya Ayah melihat kondisi Ariana. Aku yakin dia akan..."


"Caroline ini kan yang kamu mau?" teriak seorang wanita di atas teras atau balkom. Air bening itu keluar deras dari matanya. Ia takut dan sangat sakit mendengarkan perkataan Duke Elios.


Duke Elios dan Baron Knight pun menganga, ia langsung ke atas menyusul Ariana agar tidak berbuat nekat di susul Caroline.


"Arian turun, itu tidak baik. Mari kita bicarakan dengan hati Ariana." Ucap Baron Knight sebisa mungkin membujuk Ariana. Seperti apa pun Ariana, ia tetap anaknya.


"Benar Ariana, turunlah." Kini Duke Elios yang membujuk Ariana. Sebisa mungkin ia harus menenangkan Ariana.


"Ayah lebih menyayangi Caroline dan Yang Mulia Duke juga menyayangi Caroline. Lalu apa arti hidup ku."


"Lady Ariana turunlah, itu sangat berbahaya." Ujar Viscount Luis yang baru tau dari salah satu pelayan.

__ADS_1


"Benar, turunlah." Bibi Roseline juga tak kalah paniknya.


Caroline menyunggingkan sudut bibirnya, semua orang heboh karna perbuatan Ariana. Sementara dirinya hanya bersikap santai saja.


"Jangan kotori kediaman Baron Betrigh dengan darah mu Ariana. Setidaknya jika kamu ingin melakukannya jangn disini." Ujar Caroline yang sangat malas melihat drama Ariana. Ia yakin Ariana tidak akan nekat bunuh diri. Justru inilah cara liciknya.


"Caroline ! bagaimana pun juga Ariana saudara mu." bentak Baron Knight, tanpa sadar kemarahan itu muncul di matanya. Walaupun Ariana lahir tanpa kesengajaanya, dia tetaplah darah dagingnya.


Caroline melipatkan kedua tangannya, "Bujuklah dia dan jangan sampai mengotori kediaman Baron Betright. Karna selamanya Baron Betrigh adalah Ayah ku."


"Caroline, Baron Knight sudah cukup. Sekarang bukan waktunya membahas itu." Lerai Duke Elios, ia merasa dirinya lah yang membuat kesalahan.


Caroline diam, ia mencerna semua perkataan setiap orang. Dan pada akhirnya, meskipun hubungan darah sekali pun jika jarak jauh tidak bisa menjadi dekat. Caroline melihat ke arah Ariana yang tersenyum licik.


"Caroline." Lirih Baron Knight yang sadar perkataannya. Ia meraih lengan Caroline. Caroline pun menghindarinya.


"Sudah," Caroline menggigit bibir bawahnya. "Sekalipun ayah kandung, jarak kita sangat jauh." Ucap Caroline yang menghantam masuk relung hati Baron Knight.


"Caroline Ayah tidak bermaksud seperti itu."

__ADS_1


Duke Elios memejamkan matanya, dengan cepat ia berlari ke arah Ariana dan menariknya sampai terjatuh ke lantai.


"Lepas, aku tidak membutuhkan hidup seperti ini. Hati ku sakit."


"Ariana hentikan ! Sadarlah apa yang kamu lakukan akan memisahkan jarak antara anak dan ayah. Kamu tau, Baron Knight selalu berusaha mencari hati Caroline untuk memaafkannya. Ini semua karna keegoisan mu Ariana."


Viscount Luis menarik lengan Caroline dan jatuh kepelukannya.


"Kalian tidak pernah bisa membahagiakannya, kalian hanya keluarga yang tertipu akal muslihatnya." Teriak Viscount Luis.


Caroline melepaskan dirinya dari pelukan Viscount Luis. "Benar, aku kira anda. Tuan Knight akan berubah. Aku memberikan kesempatan pada anda menjadi seorang Ayah. Nyatanya Anda tidak berhasil. Percuma Anda menangis di makan Ibu ku. Lagi dan lagi anda membuat ku dan Ibu ku kecewa."


"Hah, aku merasa darah kita tidak sama. Cukup hari ini. Jangan ada lain hari lagi. Anggap saja kita orang asing yang tidak bertemu." Ucap Caroline dengan suara bergetar, tenggorokannya tercekat. Tanpa di suruh pun, air bening itu keluar dari matanya.


"Aku pernah berharap, aku mendapatkan kasih sayang yang tulus dari seorang Ayah. Dan hari ini aku menyatakan. Baron Knight bukanlah Ayah ku." Ucap Caroline seraya menggelengkan kepalanya. Bola mata itu kini berubah menjadi merah.


"Caroline." Baron Knight hendak meraih tangan Caroline. Namun di hentikan oleh Viscount Luis.


"Pintu Baron Betrigh terbuka untuk kalian." Ucap Caroline dingin dan berlalu pergi.

__ADS_1


__ADS_2