Sakit! Paman, Duke

Sakit! Paman, Duke
Jika suatu hari


__ADS_3

Caroline mengambil sepotong roti lalu mengolesinya dengan slai strowbery. Ia memberikan roti pada Viscount Luis. Caroline hendak memakan roti yang ia juga olesi.


Duke Elios melirik ke arah Caroline yang tidak memperdulikannya. Dulu Caroline lah yang selalu menyiapkan sarapan untuknya.


"Caroline untuk Paman mana?" tanya Duke Elios.


"Yang Mulia Duke, Caroline istri siapa?" tanya Viscount Luis.


"Dia istri mu, tapi apakah salah seorang Paman meminta dari keponakaan?" tanya balik Duke Elios.


Viscount Luis mencibir, ia tidak mungkin melarang Caroline agar menolak perintah Duke Elios. Apalagi dia menekan dengan kata keponakaan.


Sementara bibi Roseline dan Baron Knight hanya saling menatap satu sama lainnya. Mereka merasakan aura di meja makan itu semakin memanas.


Caroline mengambil dua potong roti di depannya, kemudian mengolesinya dengan slai lalu memberikannya pada Duke Elios.


"Terimakasih Caroline, semoga slai ini di sisipkan dengan slai cinta. Berwarna merah sama dengan hati." Ujar Duke Elios tersenyum.


Viscount Luis menggigit bibir bawahnya, ia ingin menendang Duke Elios dari rumahnya secepat mungkin. Ia rasa, hatinya telah salah mengijinkan Duke Elios menginap di kediamannya.


Caroline kembali memakan roti itu, ia tidak peduli dengan kedua semut itu meski bertarung sekali pun. Caroline merasakan pertarungan mereka membuat ikatan semakin baik.

__ADS_1


"Yang Mulia Duke, aku ingin bertarung dengan mu. Aku ingin merasakan pertarungan dengan Paman ku sendiri." Ujar Viscount Luis.


"Ya, baiklah." Balas Duke Elios santai.


"Caroline ayah berharap, secepat mungkin kamu memiliki anak dengan Viscount. Ayah sudah tidak sabar menggendong cucu." Timpal Baron Knight yang tidak memperdulikan aura api di sampingnya. Bahkan orang di sampingnya, sangat siap menyantapnya hidup-hidup.


"Secepatnya Ayah." Jawab Viscount Luis.


Caroline hanya tersenyum, ia berharap secepat mungkin memiliki buah hati. Caroline memalingkan wajahnya, air mata itu menggenang kembali.


"Baiklah, aku sudah selesai. Aku menunggu di taman belakang." Ujar Viscount Luis berlalu pergi.


"Duke Elios, orang yang membenci istri ku dan sekarang orang itu mencintai istri ku." Viscount Luis menahan serangan Duke Elios dari arah samping yang menyerangnya tadi.


"Benar ! aku ingin melenyapkan mu hari ini." Ucap Duke Elios melayangkan pedangnya ke arah samping kiri.


"Jika suatu hari aku lenyap. Maukah Yang Mulia Duke menjaga Caroline dan juga Anak ku." Viscount Luis menahan serangan itu kembali. Lalu mendorong sekuat tenaga. Duke Elios terdorong ia fokus dengan perkataan Viscount Luis. Saat melihat matanya, ia merasa Viscount Luis menyimpan sebuah kesedihan.


"Ck jangan melihatku seperti itu, aku tidak akan mati." Ujar Viscount Luis terkekeh, ia melangkah kan kakinya menyerang Duke Elios.


Rasa sakit dan cemburu itu membakar di hatinya, kobaran itu terlihat jelas di matanya.

__ADS_1


Duke Elios menyunggingkan bibirnya. "Aku kira kamu akan pergi. Tidak ku sangka kamu bercanda." Ujar Duke Elios menangkis pedang Viscount Luis.


"Aku berharap aku tidak akan mati." Ujar Viscount Luis dengan menggebu-gebu menyerang Duke Elios.


"Aku mencintai Caroline Knight, aku tidak ingin kehilangannya. Tapi jika suatu hari aku pergi, berjanjilah kamu menyayangi Anak ku dan tidak akan membedakannya." Ujar Viscount Luis dengan mata berkaca-kaca, ia menggenggam erat pedangnya itu.


Duke Elios bingung, ia tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Viscount Luis. Tapi hatinya berjanji akan menyayangi anak Caroline seperti anaknya sendiri.


"Apa maksud mu Viscount?"


"Tidak ada, tapi suatu hari aku berharap kamu menepati janji mu." Ucap Viscount Luis berlalu pergi.


Duke Elios merasa tidak tenang. Ia curga, Viscount Luis menyembunyikan sesuatu. Mungkin dia bisa bertanya pada Caroline.


"Caroline." Kebetulan dia melihat Caroline berpapasan dengannya. Untung saja dia menanyakan pada pelayan saat melihat Caroline yang tidak menemani Bibi Roseline dan Baron Knight. Dan mengatakan jika Caroline sedang ada di dapur menyiapkan biskuit.


"Ada apa Paman?" tanya Caroline seraya menoleh.


Duke Elios merasa ragu, namun ia harus bertanya. "Apa kamu dan Viscount Luis menyembunyikan sesuatu dari Paman?" tanya Duke Elios penasaran.


Caroline tidak bisa berkata apa pun. Dia ingin berhambur memeluk Duke Elios mengatakan semua keluh kesannya itu. "Tidak ada, jika Viscount Luis mengatakan sesuatu. Anggap saja dia tidak mengatakan sesuatu." Ujar Caroline berlalu pergi.

__ADS_1


__ADS_2