Sakit! Paman, Duke

Sakit! Paman, Duke
apa paman menyukai Caroline?


__ADS_3

"Nona gawat,"


Mendengarkan sebuah teriakan, Caroline langsung duduk membulatkan matanya.


"Nona gawat," satu kalimat itu pun membuat Caroline menatap horor ke arah kedua pelayannya.


"Nona gawat,"


"Duke Elios mengundang Viscount Luis bertanding. Tadi aku tanpa sengaja mendengarkannya saat membawakan camilan ke ruang Viscount." Cerocos Kenan.


"Apa !! apa lagi yang Paman mau lakukan? dia selalu mencari masalah. Cepat ambilkan jubah ku. Aku akan menemui Viscount."


Tanpa sadar Kenan dan Mia berlari bersamaan dengan menuju ke lemari, "Ya sudah cepat Mia." Kenan meminggirkan langkahnya, membiarkan Mia mengambil sebuah jubah di lemari Caroline..


Sesaat kemudian Caroline telah selesai dengan jubah hangatnya. Dia keluar dengan tergesa-gesa. Semoga saja Viscount Luis masih belum pergi. Dia ingin mencegah pertarungan itu.


"Luis." Caroline menghembuskan nafasnya, untung saja ia masih sempat bertemu dan menghentikan Viscount Luis yang hendak menaiki kuda.


"Ada apa Carol? kenapa keluar dari kamar mu? udaranya sangat dingin? bagaimana jika kamu sakit?"


"Satu-satu." Caroline mengatur nafasnya, "Aku tidak ingin Viscount meladenin permintaan Paman. "Biarkan aku saja yang pergi."


"Dari mana kamu tau? tidak Caroline, aku akan buktikan. Aku bisa melindungi mu." Ujarnya mantap.

__ADS_1


"Dengar, Paman lagi emosi. Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada mu. Turuti permintaan ku, jika tidak." Caroline menghentikan ucapannya, "Aku tidak akan bertunangan dengan mu."


Seketika Viscount Luis diam tak bernyawa, perkataan Caroline membuatnya takut, harga dirinya tidak bisa di bandingkan dengan kehilangan Caroline.


"Tapi ..."


"Aku mohon, biarkan aku yang pergi."


"Baiklah, tapi kamu harus di antar oleh Kesatria ku." Viscount Luis merasa ragu, tapi dirinya memantapkan diri. Duke Elios tidak mungkin mencelakai Caroline.


Tak butuh waktu lama Caroline, Kenan dan pengawal Viscount sampai ke kediaman Duke Elios. Ketiga orang itu turun dari kuda dan kereta. "Nona." Ujar Emi yang terkejut.


"Dimana Paman?" tanya Caroline datar.


Caroline mengedarkan pandangannya, kastil Duke Elios tidak kalah megahnya dengan istana. Kasti luas, bersih, dan nyaman. Di kelilingi pohon rindang, penjagaannya pun sangat ketat. Caroline ingin masuk ke dalam kastil itu, tapi sepertinya Duke Elios berada di luar kastil.


Emi menghentikan langkah kakinya, ia memundurkan badannya membiarkan Caroline masuk ke ruangan itu.


Ruangan gelap yang hanya di terang cahaya obor dan cahaya bulan serta bau amis yang membuat Caroline ingin mengeluarkan semua isi perutnya.


"Paman," teriak Caroline seraya menyumpat hidungnya.


Dia memandang laki-laki tegas yang tak jauh dari pandangannya dan hanya bertelanjang dada. "Apa yang Paman lakukan?" Caroline berlari dia melihat tangan kanan Duke Elios yang mengeluarkan darah seperti sehabis meninju sesuatu.

__ADS_1


"Caroline apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Duke Elios menarik lengan Caroline agar keluar dari ruangan itu.


Duke Elios begitu marah pada Emi yang membawa Caroline ke ruangan eksekusi itu. Caroline tidak akan betah berada di ruangan itu karna bau amisnya darah.


"Kenapa kamu disini Caroline? dimana Viscount Luis."


"Aku yang ingin kesini Paman. Aku yang melarang Viscount Luis untuk kesini."


"Emi cepat bawakan obat untuk luka Paman. Ayo Paman kita obati dulu luka Paman, setelah itu kita membicarakannya." Caroline membantu Duke Elios duduk di kursi putih itu.


Beberapa detik kemudian Emi datang membawa kotak obat. Dengan cekatan Caroline mengolesi obat cair itu seraya meniup lukanya agar tidak terlalu perih. "Sebenarnya Paman melakukan apa sampai seperti ini? hem."


Duke Elios mengabaikan perkataan Caroline, ia memalingkan wajahnya. "Untuk apa kamu kesini? hanya untuk melindunginya."


Carolin memandang Duke Elios, tersimpan rasa kecewa di mata Duke Elios.


Caroline pun menggenggam tangan Duke Elios, "Ada apa dengan Paman? Caroline tidak ingin diantara kalian terluka?"


"Jangan bilang kamu mengkhawatirkan Paman Caroline. Sementara kamu masih mengkhawatirkannya."


"Apa maksud Paman berbicara seperti itu? jelas Caroline sangat mengkhawatirkan Paman dan Viscount. Seharusnya Caroline yang menanyakannya pada Paman. Ada apa dengan Paman? apa Paman menyukai Caroline?"


Pertanyaan Caroline menohok hati Duke Elios, ia bingung sendiri, apa benar dia sudah menyimpan rasa pada Caroline? dia ingin menolak, tapi hatinya ingin mengatakan iya.

__ADS_1


__ADS_2