
Caroline memandang laki-laki di depannya itu dengan tatapan kosong. Air matanya terus mengalir. Ia masih berdiri tepat di depan laki-laki itu yang hanya satu tahun lebih menemaninya. Para kerabat Viscount Luis memberikan penghormatan terakhir. Mereka turut berduka cita. Bahkan tak jarang melihat mereka ada yang menangis.
"Luis." Gumam Caroline. Ia berlari menghampiri laki-laki itu. Ia mengelus lembut pipinya. "Sayang, terimakasih telah menjaga ku. Memberikan aku senyuman."
"Caroline." sapa seorang laki-laki paruh baya. Ia langsung memeluk putrinya itu. Ia melihat ke arah peti itu, laki-laki yang selalu melindungi putri tercintanya.
Caroline pun menangis di dalam dekapan Baron Knight. Ia menumpah rasa sakit dan kehilangannya itu. "Ayah."
"Iya, sayang. Menangislah, iklaskan dia Nak. Biarkan dia tenang." Ujar Baron Knight yang juga menitikkan air matanya. Sementara Ariana menoleh ke arah laki-laki di sampingnya. Ia ingin menguatkan laki-laki itu yang turut merasa kehilangan.
"Padahal rasanya baru kemarin aku bertemu dengannya."
"Dia laki-laki yang baik." Ujar Duke Elios.
Caroline semakin menangis saat peti itu telah di tutupi lalu di angkat ke rumah peristirahatan.
"Jangan membawanya." Teriak Caroline histeris. Lalu ia ambruk di dalam pelukan Baron Knight.
__ADS_1
Pada malam harinya.
Caroline terlihat gelisah di dalam tidurnya. Ia bermimpi Viscount Luis memakai baju putih. Mereka saling tersenyum dan berpelukan.
"Caroline aku sangat mencintai mu, sangat menyayangi mu. Maka satu permohonan ku. Jangan hapus nama ku di hati mu. Ingat jaga dirimu dan putra kita. Aku sangat menyayangi mu Caroline, istri ku." Ujar Viscount Luis lalu melepaskan pelukannya. Ia berjalan, semakin mundur tubuhnya menghilang di dalam cahaya itu."
"Tidak !" teriak Caroline yang mulai mengeluarkan keringat. Dadanya naik turun.
"Caroline." Duke Elios merasa khawatir. Ia memeluk Caroline begitu erat.
Brak
"Sayang." Caroline berlari ke arah ranjang itu. Namun tidak menemukan keberadaan Viscount. Caroline berlari ke luar kamar Viscount, tapi di hadang oleh Duke Elios.
"Minggir Paman? Caroline ingin melihatnya keadaan Viscount. Pasti dia sedang mencari ku."
Tangan Duke Elios mengepal, ia merasakan cemburu sekaligus merasa sedih. Duke Elios memegang kedua tangan Caroline.
__ADS_1
"Sadar Caroline, relakan dia pergi." Ujar Duke Elios yang menahan amarahnya.
Caroline menaikkan sudut bibirnya. "Pergi apa Paman? pasti Viscount sedang berada di kamar baby Elca. Dia pasti menemuinya."
"Sadar Caroline." Bentak Duke Elios. "Kamu harus bangkit, jangan biarkan Viscount Luis sedih melihat mu seperti ini. Baby Elca masih membutuhkan mu." Teriak Duke Elios.
"Sadar, setidaknya kamu harus bangkit demi putra mu." Ujar Duke Elios melembut dan memeluknya.
"Dia meninggalkan aku Paman. Dia sudah berjanji akan menjaga ku." Ucap Caroline yang kembali menangis.
"Aku tau, aku tau kamu merasa kehilangan Caroline. Tau kah kamu, saat dirimu seperti ini. Aku merasakan cemburu Caroline. Tetapi aku tidak bisa memarahinya. Karena dia lebih pantas dari pada ku. Bukan aku menginginkan kepergiannya secara seperti ini."
"Caroline, biarkan Paman menjaga mu dan Putra kita. Putra Viscount Luis. Berikan aku kesempatan Caroline. Biarkan aku yang kali ini menjadi sandaran mu saat kamu menangis."
"Setidaknya kita mengabulkan permintaan Viscount Luis untuk yang terakhir kalinya." Ujar Duke Elios dengan lembut lalu mengecup kening Caroline.
Caroline memundurkan langkah kakinya, "Berikan aku waktu Paman." Ujar Caroline yang hanya di balas senyuman oleh Duke Elios kemudian memeluknya lagi.
__ADS_1