
Tak terasa 10 Bulan telah berlalu.
Duke Elios, Ariana dan Baron Knight sering mengunjungi Caroline. Jika Ariana dan Baron Knight satu kali dalam sebulan menjenguk. Maka Duke Elios setiap seminggu sekali melihatnya. Semenjak kehadiran baby Elca. Duke Elios sering membawa buah tangan dan mainan. Baby Elca sangat akrap dengan Duke Elios. Mereka sering menghabiskan waktu bersama. Sementara Caroline menghabiskan waktu dengan Viscount Luis yang akhir-akhir kesehatannya bertambah menurun. Bahkan Viscount Luis terlihat kurus.
Caroline dan Duke Elios tidak pernah putus asa. Mereka selalu mencari obat untuk Viscount Luis. Lain halnya dengan Duke Elios yang sering menenangkan Caroline menangisi Viscount Luis jika penyakitnya sudah kambuh.
Dan pada saat ini Viscount Luis terkekeh melihat baby Elca yang tertawa saat Duke Elios menggelitikinya.
"Sayang, "Viscount Luis duduk di samping Caroline ia menyandarkan kepalanya di bahu Caroline. Wajahnya sangat pucat, bibirnya kering seakan saat ini dia sudah tidak bisa menahannya lagi.
"Apa sayang?" tanya Caroline seraya mengelus pucuk kepala Viscount Luis.
"Kamu lihat, putra kita selalu tersenyum. Aku senang selama ini kamu menjaga ku dengan baik." Tanpa terasa air mata telah membasahi pipinya.
__ADS_1
"Aku bahagia memiliki istri seperti Caroline. Dia istri yang sempurna, menjaga ku. Bahkan sampai saat ini, aku tidak pernah merasakan kekurangan kasih sayangnya. Aku merasakan kasih sayang Ibu pada ku setiap harinya."
Dada Caroline semakin bergetar, ia menahan tangisnya. Sementara hatinya sudah menangis.
"Caroline," Viscount Luis menjatuhkan kepalanya di pangkuan Caroline. Dia menunjuk ke arah Duke Elios dan baby Elca yang mengajari jalan.
"Dia laki-laki yang sempurna. Dia laki-laki baik Caroline. Dia pantas menjadi suami mu kelak dan juga putra kita. Jika itu orang lain, dia tidak akan membantu ku. Dia pasti memusuhi ku bahkan dia tidak akan menjaga putra kita."
Caroline menggigit bibir bawahnya. Ia tidak tahan lagi. Lalu mengecup kening Viscount Luis.
Caroline menggeleng pelan, air matanya mulai deras. "Tidak jangan katakan apa-apa lagi. Kamu akan sembuh. Ayo kita ke dalam kamu harus beristirahat." Ujar Caroline yang hendak memapah tubuh Viscount Luis.
"Tidak ! di taman ini sangat asri. Aku ingin di sini saja melihat mereka. Biarkan seperti ini Caroline."
__ADS_1
"Caroline aku harap kamu tidak melupakan ku, aku ingin nama ku masih terukir indah di hati mu sekali pun sudah ada yang menempati. Bilang pada putra kita. Aku sangat menyayanginya. Maaf aku tidak bisa melihatnya de.. wa.. sa.." Viscount Luis memejamkan matanya. Tangan yang tadinya menggenggam erat tangan Caroline perlahan mulai terlepas.
"Sayang." Caroline tidak bisa menahannya lagi. Ia memeluk Viscount Luis. Ia mengecup kening Viscount Luis sangat lama dan dalam. Seakan jiwanya telah di bawa pergi.
"Sayang, aku sudah bilang kamu akan sembuh. Kamu akan melihatnya dewasa. Melihatnya memiliki Anak. Tapi kenapa kamu tidak mau menuruti ku. Aku harus apa supaya kamu bangun?"
"Sayang bangunlah, kamu akan mengantarkannya ke Akademik. Kamu akan mengajarinya berpedang, mengajarinya tentang politik."
"Jangan mengingkarinya." Caroline memeluk erat Viscount Luis, ia tidak peduli dengan darah yang mengotori bajunya itu. Setiap saat dia selalu mengatakan itu, agar Viscount Luis tidak patah semangat.
"Sayang, bangun jangan seperti ini. Jangan bercanda." Caroline merangkul kedua pipi Viscount Luis. Ia mencium Bibir pucat itu. Lalu memeluknya kembali.
Caroline melihat kedua orang itu yang masih belum menyadarinya. "Aku berjanji nama mu tidak akan pernah hilang. Aku berjanji, putra mu akan seperti mu."
__ADS_1
Caroline menangis tersedu-sedu. Duke Elios dan baby Elca segera menghentikan aktivitasnya. Duke Elios berlari ke arah Caroline. Ia menatap mata Caroline yang sudah sembab.
Duke Elios berdiri lunglai. Ia tidak menyangka hari ini. Hari terkahir Viscount Luis bersamanya. Padahal tadi mereka masih sempat bergurau sebelum ke taman. Air matanya pun keluar, ia berlari ke arah Baby Elca yang sudah berada di tangan Ibu Asuh yang sudah menangis. Sepertinya anak itu juga merasakan kesedihan Ibunya, merasakan kehilangan sosok ayahnya. Sama halnya dengan hatinya yang juga merasakan sakit.